Untuk Mencintai Tanpa Syarat
Aku menunggumu, kupikir kau juga. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, kuberikan. Banyak rindu yang harus kubayar lunas hingga bunganya. Yang pasti aku ingin menatap matamu dalam-dalam hingga lekat.
Satu pikiran mulai meracuniku, tentang ketakutan untuk membuka diri padamu yang debar hatinya masih kusangsikan. Mungkin kau juga merasa begitu. Cinta menjadi kata yang terlalu dini, ia masih berada di tingkatan lain di langit.
***
Mencintai itu mudah. Membuatnya tanpa syarat adalah yang sulit. Untuk menjadi tanpa syarat pertama kau harus mengenali dia sebagai bagian dirimu. Menjadikan semua risau, ketakutan, kekhawatirannya sebagai milikmu. Mengamini semua mimpi, harapan dan cita-citanya. Juga menerima apa yang telah ia lalui sebagai sejarah hidupmu. Jangan pamrih! Semua kau lakukan semata-mata karena ingin memberi, seperti ibu pada anaknya.
Di bagian terakhir kalimat tersebut harus terselip kata “saling”. Biarkan satu sama lain tau bahwa debar itu tetap dan akan terus ada. Ucapkan tiap hari tanpa takut kata itu kehilangan makna. Jatuh cintalah padanya dengan cara yang berbeda tiap harinya, pada tiap gerakan rusuk saat ia menarik nafas ataupun pada tiap nafas lelah yang ia buang.
Tunjukan dirimu se-apa adanya yang kau bisa. Dia yang tanpa syarat akan menemukanmu indah, seperti enzim pada substratnya dan gembok pada kuncinya. Tunjukan bahwa kau juga begitu. Menemukan helai rambutnya sebagai alasanmu menyanyi dan gestur telunjuknya sebagai dosis dopamin harian. Temani dia selama yang dia mau. Suatu saat dia ingin sendiri, beri ruang ruang untuk bernavigasi dalam sampan kecil miliknya. Biar ia temukan sendiri ikan di tengah danau berkabut. Kalau dia hilang, mungkin kena kutuk jadi jerawat ikan
Menarilah bersama di bawah payung hujan, dalam langkah satu-satu kemudian berputar. Berhenti sejenak untuk tersenyum, membenahi lipatan jas/gaun lalu mulai lagi dengan tangan menggenggam. Umumkan pada dunia bahwa kalian adalah sepasang kutub yang akan saling kembali.
Kalaupun dia tidak kembali, ya biarlah, mungkin kutubnya tidak ada di alam ini. Jangan berlarut sedih. Itu cara Tuhan memberi tau kalau waktu samsaramu di dunia masih terlampau panjang untuk mengikat diri pada sebuah tiang.
***
Dengan cinta yang sedang menunggu di garis akhir, bagaimana kalau kita mulai dengan “aku menyayangimu”?
