Upacara Bendera

DewaD
DewaD
Aug 16, 2017 · 7 min read

Kembali lagi bertemu dengan tahun ajaran baru untuk entah ke berapa kalinya dalam hidup ini. Beberapa hal selalu sama : aroma birokrasi, tagihan biaya pendidikan, dunia baru dan hal baru untuk dicoba. Akan ada banyak lagi siswa baru mendaftar dengan wajah cerah sementara wajah siswa tua masih juga tampak belum akan lulus.

Hari pendaftaran adalah hari dimana semuanya berawal, membuat komitmen pada sebuah institusi pendidik. Komitmen yang gampang-susah. Dengan cukup usaha untuk menyelesaikan masalah diantara kedua pihak harusnya cukup membuat seseorang menjadi sarjana. Aku pikir bukan gelarnya yang penting, tapi kemampuan berfikir dan kedewasaan yang menjadi hasilnya.

Tahun ini di kampus sekali lagi terjadi penyambutan mahasiswa baru. Ramai sekali orang sibuk mempersiapkan pesta penyambutan setahun sekali ini. Beberapa bahkan merelakan untuk tidak pulang kampung selama liburan demi sesuatu yang katanya lebih esensial.

Katanya.

Kami mahasiswa adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas miliaran uang pajak yang dibayarkan seluruh rakyat Indonesia. Mereka yang rela bayar pajak karena mengharapkan perubahan di negeri ini. Tidak tau deh perubahan apa yang bisa kami bawa. Tiap kali mengingatnya cukup sukses membuatku belajar terbirit-birit mengejar subuh.

Terkadang aku menyesal mengapa tidak sejak dulu saja aku memahami tanggung jawab yang dimiliki seorang pelajar. Mungkin kalau aku belajar lebih efektif saat kecil dulu, aku bisa mencapai sesuatu yang lain. Mencapai bulan mungkin (?). Atau setidaknya berkontribusi menyebarkan mp3 bajakan berisi lagu-lagu Nirvana dan Bon Jovi, agar generasi ini sempat merasakan nikmatnya musik berkualitas.

Sayangnya yang aku ingat dari masa kecil hanyalah berkeliaran naik sepeda di bawah terik matahari, bermain layangan, berguling-guling di sawah bermain bola, menangkap capung, mengejar bebek dan memakan laron. Mana pernah terpikir mau membangun bangsa atau menegakkan hukum, menyebrangkan nenek di jalan raya saja aku tidak pernah.

Dulu sebelum masuk ke Sekolah Dasar, hal pertama yang diajarkan ayahku adalah bagaimana menjadi anak yang kuat dan mandiri. Katanya, “ada dua jenis orang di sekolah, satu adalah serigala, satu lagi adalah domba. Kamu sendiri yang pilih mau jadi yang mana.” Dicuci otak begitu jelas aku memilih serigala. Makanya dulu aku sempat jadi bocah berandalan, padahal sebenarnya takut dicubit ibu. Karena itu juga tiap kali jatuh dari sepeda dan luka, hal pertama yang aku lakukan bukanlah mengadu. Respon pertamaku adalah mencari cara agar tidak ketahuan pernah jatuh. Sesegera mungkin membersihkan luka itu (saat itu kata “infeksi” terdengar seperti sinonim dari “amputasi”), menutupi tempat lukanya agar tidak kelihatan dan berakting seolah aku baik-baik saja. Aku lebih memilih berhadapan dengan kata menakutkan “infeksi” dibanding harus dicubit ibu dan kehilangan hak naik sepeda.

*****

Sekolah Dasar adalah dunia baru sepenuhnya bagiku. Aku membayangkan akan bertemu dengan banyak teman dan bersenang-senang. Tentu sempat berkelahi namun tidak pernah bermusuhan, karena mungkin bagi kami yang penting adalah bagaimana caranya tetap bersenang-senang dengan teman. Berteman terasa begitu asik.

Aku masih ingat temanku yang pertama di Sekolah Dasar, sebut saja Bunga. Kami berkenalan karena kami saat hari pertama sekolah duduk bersebelahan. Aku yang saat itu masih lugu dan bandel langsung saja iseng, kalau tidak salah sempat menggigit ujung pulpen yang kupinjam, entahlah aku lupa. Kemudian Bunga bilang padaku, “Awas ya begitu lagi, nanti aku gak mau duduk di sampingmu!”

Hm. Diancam begitu jelas aku takut. Aku buru-buru mengiyakan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Bersekolah membuatku sangat menyukai kata “teman”. Teman berarti orang yang bisa diajak bermain dan aku tidak ingin kehilangan teman bermain. Bagiku duduk bersebelahan berarti kami sudah berteman. Jadi aku sedikit tidaknya mulai sadar kalau perkataan bisa menyebabkan seorang teman tidak mau berteman lagi.

Kelas 1 dan kelas 2 SD dulu kami baru datang belajar jam 8 pagi dan sudah pulang jam 10. Masih lebih banyak waktu untuk bermain kelereng dan gasing di rumah. Yang terpenting dalam bersekolah adalah agar kami dapat membaca huruf latin dengan baik. Mampu membaca adalah hal yang lebih dari sekedar ingin dipuji karena pintar. Membaca bagiku adalah alat baru agar aku bisa bermain kartu, bermain pinball di komputer dan membaca komik. Bersekolah juga membantuku mengungkap banyak misteri jalanan. Mulai dari arti warna-warna pada lampu lalu lintas, mengapa roda itu bundar, bagaimana cara menghitung uang kembalian dan mengapa puisi terdengar indah. Belajar rupanya baru terasa menyenangkan saat didorong rasa penasaran.

Naik ke kelas 3 kami sudah diwajibkan datang ke sekolah jam 8 pagi dan baru boleh pulang jam 1 siang. Tentu saja awalnya terasa sedikit menyebalkan karena itu artinya waktu bermainku semakin berkurang. Ditambah lagi pelajaran matematika tampak lebih sulit karena ibu mengharuskan aku menghafal perkalian angka 1 hingga angka 10. Aku akan diuji tiap Sabtu secara lisan seperti sedang bermonolog sambil beliau memasak atau mengerjakan apapun. Jika gagal biasanya aku akan dimarahi, terkadang dijewer jika aku terlalu bodoh. Sumpah saat itu aku jadi sangat membenci matematika, tapi baru sekarang aku berfikir kalau dulu aku tidak dipaksa belajar lebih dari orang lain, apa jadinya aku sekarang.

Sebagian besar pelajaran memang menyenangkan, misalnya saat pelajaran IPS (atau Pengetahuan Umum (?)) aku dikenalkan pada pakaian khas, bahasa, dan senjata khas daerah. Kemudian diberi kebanggaan bahwa Indonesia pernah merajai Thomas Cup beruntun dan fakta bahwa beruang kutub hidup di kutub. Menarik sekali. Sebagian lainnya adalah pelajaran membosankan, misalnya Bahasa Indonesia. Bukan apa-apa, saat itu yang kami lakukan adalah terus menerus tes membaca dan menulis kegiatan sehari-hari, jelas saja itu membosankan bagiku. Satu-satunya bagian yang menarik hanya saat ibu guru mendongeng di depan kelas. Bagi anak kecil, membangun candi dibantu sepasukan tuyul akan terdengar lebih masuk akal dibanding membersihkan tempat tidur tiap pagi.

Satu lagi kewajiban kami sebagai siswa kelas 3 SD adalah mengikuti dan menjadi perangkat upacara bendera. Pernah aku melihatan siaran langsung upacara bendera di Istana Negara. Aku selalu penasaran mengapa ada orang yang dapat berdiri diam selama 30 menit tanpa goyang-goyang begitu. Bagaimana mereka berlatih, mengapa begitu serius dan mengapa orang-orang menganggap hal seperti itu keren. Jadilah aku mendaftarkan diri sebagai pemimpin upacara saat kelasku mendapat giliran menjadi perangkat.

Seleksi pemimpin upacara dilakukan dengan cara yang aneh. Kami harus membacakan puisi tentang kemerdekaan yang disiapkan oleh Bu Guru. Ada dua orang dari kelas 3 yang mendaftar, aku memilih sebuah puisi berjudul “I Gusti Ngurah Rai”. Aku lupa judul puisi yang satunya. Puisi ini terdiri dari 3 bait yang mengisahkan bagaimana gigihnya perjuangan melawan penjajah sambil naik kuda. Kami sudah pernah melihat dan belajar tentang bagaimana membacakan puisi sesuai makna yang tersurat dan tersirat minggu lalu tapi belum pernah mencobanya. Kami diberikan waktu satu hari untuk berlatih, yah mau tidak mau aku harus siap besok. Aku merasa sangat grogi untuk membacakan puisi di depan seisi kelas. Perutku mual. Bagaimana jika aku ditertawakan? Bagaimana jika suaraku habis? Bagaimana jika aku terlambat? Bagaimana jika aku buang angin? Atau sakit tenggorokan? Atau bersin? Atau batuk? Atau meriang? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus-menerus muncul dalam benakku, dan ada satu pertanyaan yang paling menyita pikiran,

“Bagaimana jika aku kalah?”

Di rumah aku berlatih diam-diam di kamar mandi dan sebelum tidur. Aku saat itu tidur bersama kakakku di ranjang yang terpisah dan tidak butuh waktu lama untuk menunggunya tertidur lebih dulu. Jadi dengan bantuan senter aku membaca puisi itu berulang-ulang, di dalam selimut, menghayatinya sampai tertidur.

Kalah adalah kata yang selalu menakutkan.

Bagaimana ya? Rasa khawatir tidak akan membantumu, menyerah juga bukan pilihan. Maka aku memutuskan untuk mengumpulkan semua kekhawatiran yang aku punya kemudian menyiapkan rencana antisipasinya. Pagi-pagi sekali aku sudah minum obat flu, obat radang tenggorokan dan mengisi perut cukup banyak agar tidak ada ruang bagi gas untuk bersembunyi. Aku mengenakan seragam yang baru dicuci dan disetrika, sepatuku juga baru ditambal. Sebisa mungkin aku memastikan tidak ada yang salah dengan penampilanku. Ada sedikit tambahan hari itu, aku mengoleskan minyak orang-aring ke rambutku. Kini rambut itu lepek dan aku lebih terlihat seperti salesman pupuk berhadiah. Dengan hati menderu aku berangkat ke sekolah berjalan kaki, jam setengah 6 pagi.

Aku tiba di sekolah jam 6 pagi, padahal kelas baru dimulai jam 8. Aku datang lebih pagi dari penjaga sekolah.

Tiap detik menuju jam mata pelajaran Bahasa Indonesia terasa sangat menyiksa. Kakiku tidak bisa berhenti bergerak dan mataku tidak bosan melirik ke arah jam dinding. Saat bel berbunyi tanda pelajaran Bahasa indonesia dimulai, aku berkeringat. Bagaimana bisa aku berkeringat padahal aku hanya duduk diam seharian? Ke kantinpun tidak. Sial memang, aku tidak menyangka akan berkeringat.

Bu Guru datang dan memanggil kami berdua. Aku bangkit dari tempat duduk namun badanku terasa lemas, aku sembelit. Aku mencoba untuk berjalan namun kakiku rasanya kesemutan. Hatiku kacau. Aku tidak mengantisipasi satupun gejala ini. Sampai di depan kelas kami diminta melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan membacakan puisi lebih dulu. Aku menang. Aku mendapat giliran pertama.

Aku melangkah pelan sekali ke tengah papan, di hadapan semua orang. Aku berjalan dengan menunduk mencoba tidak panik kemudian menarik nafas mengingat semua gestur dan ekspresi yang sudah kulatih di kamar mandi semalam. Aku mulai dari membacakan satu kata pada judulnya, kemudian seluruh judulnya dengan lantang. Semua orang menatapku saat itu, kutatap balik mata mereka. Aku tidak takut lagi. Semua rasa takut itu kini berubah menjadi kemarahan. Aku marah karena aku hampir tidak berani mengambil kesempatan ini. Aku marah dan kutumpahkan pada tiap kata “keris”, “berjuang”, “darah”, “bambu runcing” dan “semangat” dalam puisi itu. Tiap barisnya membuatku merasa seperti sedang memutilasi para penjajah, satu persatu dari rambut hingga betis. Lalu organ tubuhnya kujual.

Kata berganti baris, baris berganti bait hingga akhirnya tiga bait puisi itu kubacakan sudah. Aku berhenti. Menarik nafas sekali kemudian menegakkan kepala, bingung harus mengakhirinya bagaimana. Aku hanya diam disana saling pandang dengan semua orang. Aku memandang mereka, mereka balik menatap. Aku menatap Bu Guru, beliau senyum-senyum padaku. Aku senyum-senyum pada gadis incaranku, dia tidak menoleh. Kesunyian itu bertahan hingga akhirnya perlahan seisi kelas bertepuk tangan padaku, aku tersenyum.

*****

Esoknya pemenang diumumkan. Sayang aku tidak terpilih menjadi pemimpin upacara, Ibu Guru bilang emosiku terlalu berlebihan, aku harus bisa mengaturnya. Beliau bilang masih ada kesempatan bagiku tampil sebagai pembawa bendera. Aku menerimanya. Kecewa memang tapi biar saja, yang penting aku sempat mencicipi manisnya tepuk tangan seisi kelas. Hidup memang harus direncanakan, hanya saja mengambil keputusan impulsif juga menyenangkan.

DewaD

Written by

DewaD

ॐ | let the day i give up be the day i stopped writing.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade