Coding for web

Welcome to the Web Dev World

Hai sobat, perkenalkan nama saya Waspada, seorang mahasiswa IT yang sebenernya ga IT banget. Saya ini termasuk seseorang yang telat melek teknologi di bidang kesukaan saya sendiri, Web Development. Begini kisahnya:

Mudah-mudahan tidak terkesan menggurui :D

Jadi, beberapa tahun belakangan, saya pernah diamanahi menjadi asisten dosen mata kuliah Pemrograman Internet yang notabene mempelajari dasar-dasar teknik bagaimana membuat sebuah website. Yang kami pelajari adalah bahasa dasar seperti HTML, CSS, dan PHP, dimana pada akhir materi kami akan mendalami salah satu framework PHP yaitu CodeIgniter. And you know what, kami tidak mempelajari sama sekali tentang javascript.. Ups…

Tahun berikutnya, saya pernah ditawari sebuah projek membuat website yang mengharuskan saya untuk menggunakan javascript. Disitu saya baru belajar javascript dan berkenalan baik dengan jQuery, library wajib bagi para web dev.

Namun, pada bulan Januari 2015, karena kala itu saya lagi jenuh dengan skripsi saya, saya coba searching sesuatu yang fresh dalam Web Dev, kebetulan saya lagi penasaran sama NodeJS dan AngularJS. Di internet banyak banget yang mbahas ini. Akhirnya saya coba ikut free course dari codeschool ttg AngularJS. At first glance sih, wow. Ajib bener ya, ternyata ada juga framework javascript ya, wkwk. Setau saya cuman PHP aja yang ada framework-nya. Hellooo, padahal Angular itu udah ada dari 2009 lho, kemana aja boo. Udah gitu, santer berita tuh bakal keluar Angular 2.0. Wah telat banget yah pikir saya.

Bisa dibayangkan kan, pengetahuan saya pada saat itu hanya sebatas HTML, CSS, Javascrpt dasar, jQuery, PHP, dan CodeIgniter saja. Saya masih buta sama teknologi lain. Saya ndak tahu apa-apa. Cups lah..

Next, saya singkirkan dulu itu AngularJS (karena mau keluar yang versi 2.0 sih, jadi males belajarnya :p), saya makin penasaran dengan web tech yang lainnya. Jatuh pada NodeJS. Baca-baca, banyak yang rekomendasikan pake ExpressJS. What the heck is that? Mau ga mau belajar lagi :( Ya karena mengikuti rasa penasaran saya yang menggebu-gebu soal web tech, mau ga mau ikut-ikutan belajar juga tentang Jade dan Stylus yang mana merupakan “bawaan” dari ExpressJS itu sendiri. Fyuuh. Oh ya, masih ada lagi, MongoDB. Database yang make format JSON dalam penyimpanan datanya. Ajib, baru tau saya, kemana aja ya saya selama ini?

Pusing dengan ExpressJS, saya beralih ke SailsJS. Dari struktur framework-nya, kok banyak yang mirip ya dengan CodeIgniter. Saya langsung sabet aja. Saya rework projek saya (coba-coba bikin startup) yang sebelumnya make ExpressJS menjadi SailsJS. Di saat yang sama, saya juga belajar tentang ReactJS, sebuah library dari Facebook dengan konsep Virtual DOM yang notabene memiliki performa poweful, ringan, dan super cepat.

Waktu terus berlalu, akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan SailsJS karena plugin-plugin yang dipakai harus di-“Sails”-kan dulu, jadi mengurangi fleksibilitas coding menurut saya. Balik lagi deh ke ExpressJS. Duh rek..

Dan, perjalanan saya dalam mengejar ketertinggalan saya dalam dunia Web Development masih berlanjut.

Setelah 2 bulan saya menggunakan React dalam projek pribadi saya tadi, lama-lama pusing juga ya haha. Saya frustasi karena gak ada temen yang bisa membantu dalam proyek tersebut, lagi pada sibuk semua. Saya paling ga bisa deh kerja sendirian begitu: no designer, no partners => no motivation. Akhirnya saya pending dulu projeknya. Kebetulan juga di projek tersebut saya menggunakan map (OSM, bukan GMap) dan saya masih kesulitan menggabungkan library Leaflet dengan ReactJS. Kan biar keren aja gitu, biar makin interaktif. Tapi ya pusing juga lama-lama sih haha. Saya masih baru di dunia Javascript, belum mampu deh kalau langsung nyabet berbagai macam teknologi begitu.

Di saat saya larut dalam rasa frustasi yang begitu menggulita (tsah), teman SMA saya sebut saja bernama Uni Dzalika lagi membutuhkan seorang web developer yang ga jago-jago amat buat bikin website startup-nya. Wah langsung aja saya ajukan diri buat masuk. Nyadar diri aja sebagai developer yang bukan ga jago-jago amat, tapi emang beneran ga jago xD. Saya ambil aja karena ada peluang; peluang saya belajar, peluang saya dalam ikut membangun startup, dan yang paling penting, peluang saya dalam coba-coba web tech lainnya, hihihi.

Pada awalnya, saya mulai dengan menggukanan framework CodeIgniter. Lho kenapa ga langsung NodeJS bung Waspada? Waduh, NodeJS muahal rek, mesti beli VPS, ga ada budget masih mahasiswa :D. Jadi jatoh lagi ke bahasa PHP sebagai bahasa kita semua hehe.

Terbesit mau pake AngularJS dalam development-nya, mau belajar lebih dalam aja konsepnya, kok bisa sampe dipake banyak orang. Otomatis, kalo pake Angular, harus didukung juga sama web service. Sedangkan CodeIgniter itu kurang cocok kalo buat dijadikan Web Service, kurang fleksibel aja gitu. Berubah haluan lah saya menuju Slim Framework, sebuah framework kecil dengan fleksibilitas-nya dalam menggunakan library PHP manapun, cocok untuk membuat web site tradisional maupun merancang web service. Belajar lagi? No prob. I love to learn something new, as long as it is useful. Dan Slim Framewrok merekomendasikan untuk menggunakan Composer dalam instalasinya. Di Windows susah. Ribet. Belom kenalan juga sama Composer. Hiks. Akhirnya saya coba pakai Ubuntu buat development startup ini. Install Ubuntu terpaksa. But the journey seems to be better when switching to Linux..

Singkat kata, tancap gas lah saya, Slim Framework + AngularJS. Untuk database-nya, saya pake Eloquent dari Laravel. Untungnya Eloquent cukup mudah dipelajari, jadi ga ada kesulitan ketika pertama kali njaplok buat dipasang di backend hehe.

Dan benar firasat saya, ternyata kebutuhan startup ini bukan terletak pada SPA-nya, tapi lebih kepada SEO-nya. OMG. Percuma aja yah saya belajar AngularJS tapi ujung-ujungnya saya buang semua kodingan saya wkwk. Nggak kok. Justru dari situ bisa tau ternyata Angular enak disini, ga enak disitu. Kelebihannya ini, kekurangannya itu. Lumayan, wawasan baru. Lalu gimana?

Untuk menutupi fitur yang sebelumnya di-handle oleh AngularJS, saya menggunakan VueJS. Langsung jatuh cinta saya sama library ini. Kalo diliat dari struktur code dan syntax, VueJS ini menggabungkan beberapa konsep sekaligus dari Angular, Backbone, Polymer, dan ReactJS. Sehingga code lebih readable dan mudah dalam penggunaan, ga kayak Angular yee harus di-angular-kan dulu xp. Dan pada akhirnya, saya cukup puas dengan web tech yang telah saya pelajari walau dikit-dikit, yang secara tidak langsung telah mengarahkan saya pada tech yang saya pakai saat ini.

Kalau mau di flashback, cukup lelah juga saya mengejar ketertinggalan dalam dunia web dev yang kejam ini. Mulai dari NodeJS, ExpressJS, Jade, Stylus, MongoDB, AngularJS, SailsJS, ReactJS, Slim Framework, Eloquent, hingga hinggap di VueJS. Dari flashback ini, saya mengambil kesimpulan, bagi kita yang hanya mengandalkan pelajaran dari kampus saja sangatlah tidak cukup untuk mengikuti perkembangan Web Development. Harus ada inisiatif sendiri dalam mempelajari tech yang lagi nge-trend dan sesuai dengan kebutuhan. Fyuhh.

Happy learning. Happy coding.

Semoga bermanfaat :)


Originally published at dwaspada.tumblr.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.