#BatikIndonesia ditangan Generasi Penerus: Meleburkan Tradisi dalam sebuah Inovasi

Creativity by Alice Achterhof

Generasi muda selalu menjadi sebuah harapan bagi generasi sebelumnya. Tanggung jawab generasi pendahulu akan benar-benar terselesaikan ketika tongkat estafet telah tersampaikan ke tangan generasi penerus. Generasi muda adalah penerus tongkat estafet tersebut, tak kecuali estafet pelestarian batik Indonesia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah mampu generasi muda ini meneruskan kedigdayaan batik saat ini?

Batik telah membuktikan diri menjadi sebuah kebanggaan bangsa. Telah banyak penghargaan dan capaian yang telah ditorehkan. Pencapaian terbesar adalah batik telah dinobatkan sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO tanggal 2 Oktober 2009. Hari Batik pun diperingati pada tanggal tersebut sebagai pengenang bahwa batik adalah identitas bangsa dan bagian dari kebesaran Bangsa.

Batik adalah budaya bangsa Indonesia. Kearifan yang terdapat di dalamnya adalah representatif budaya yang ada. Pada mulanya batik adalah sebuah kerajinan yang memiliki nilai seni yang tinggi. Banyak sumber mengatakan bahwa asal muasal berasal dari bahasa Jawa yakni “amba” yang mempunyai arti menulis dan “titik” yang berarti titik. Kata batik merujuk pada kain dengan corak atau gambar yang dihasilkan oleh bahan malam, yang digunakan untuk menahan masuknya bahan pewarna. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian.

Pengrajin Batik Tulis sumber: https://twitter.com/hoshizoratour/status/584322089735315456

Tradisi tersebut terus mengalir turun temurun yang awal mulanya hanya menjadi sebuah pekerjaan menghasilkan sebuah karya saja bertransformasi menjadi sebuah nilai-nilai yang melekat di dalam jiwa. Pada halaman 47 buku “Memahami Busana Adat Kraton Yogyakarta” dituliskan Kepercayaan akan dapat terciptanya suasana religious magis dari pancaran batik membuat para bangsawan lebih mengutamakan motif batik yang mengandung arti simbolik. Dari situ terlihat bahwa memang Kain Batik memiliki nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap coraknya.

Nilai-nilai tersebut disesuaikan dengan konteks kehidupan sehari-hari, sehingga muncul aturan-aturan pemakaiannya. Aturan-aturan tersebut berlaku untuk siapa saja yang bisa memakai motif atau corak yang mana, dan juga kapan harus digunakan. Sebagai contoh nilai yang terkandung motif parang termasuk dalam motif larangan, dimana rakyat atau golongan non-Kraton, dilarang untuk menggunakan motif ini. Motif ini, bedasarkan data yang tertulis dalam Jurnal Seni Rupa7, merupakan penangkal kebatilan, lambang kekuatan, kecepatan, pertumbuhan, dan kesucian. Mengapa motif ini tidak bisa dipakai oleh semua kalangan? Karena nilai filosofisnya yang sangat tinggi, sehingga diharapkan pemakai kain motif ini merupakan orang yang dianggap ‘pantas’. (Agnes Gita, 2013)

Batik Parang sumber: marinaelphick.com

Seiring berkembangnya jaman menuju ke arah modernisasi batik mulai bertransformsi hingga akhirnya transformasi batik yang dianggap bukan hanya milik para ningrat dan mengubah paradigma pada batik itu sendiri. Batik di era modern telah banyak mengalami perubahan baik dari sisi cara membuat, fungsi hingga motif yang melekat. Ragam perubahan tersebut terkadang melupakan asal dari nilai adiluhur dari batik itu sendiri yang banyak pencipta muda lupakan. Padahal adanya nilai-nilai luhur merupakan sumber atau media pengetahuan seperti simbol-simbol batik. Seseorang diharapkan belajar dan mengetahui arti-arti filosofisnya dan diharapkan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, kain Batik yang memiliki fungsi utama sebagai pakaian, tidak hanya terbatas pada itu saja melainkan bisa menjadi media pengetahuan dan pembelajaran seperti yang diungkapkan Agnes Gita dalam penelitiannya berjudul Nilai-nilai Luhur Pada Kain Batik: Masihkah Ada? pada tahun 2013.

Budaya yang menjadi tradisi membutuhkan seorang penerus. Penerus yang dapat menjaga nilai adiluhur yang ditanamkan. Sekelompok penerus dengan segala keterbatasan dan keunggulannya. Penerus tersebut memang mempunyai cara pandang berbeda dari para pendahulu. Seperti halnya generasi penerus pada masa sejarah, sejak batik di era kerajaan Majapahit yang diteruskan oleh generasi penerus di era kerajaan Islam dan dilanjutkan oleh Generasi Keraton hingga melebur dalam masyarakat saat ini. Generasi penerus masa mendatang pasti akan mempunyai cara berbeda dalam melestarikan budaya batik ini. Peran generasi pendahulu adalah mengawal tongkat estafet ini karena mau tidak mau tradisi tersebut harus dipercayakan pada generasi penerus.

Batik di mata generasi muda sumber: ppi-australia.org

Generasi muda saat ini adalah generasi yang dapat disebut generasi pembawa perubahan. Generasi ini juga disebut generasi milenium dengan kemudahan dalam hal keterbukaan informasi dan komunikasi. Hal tersebut menjadikannya seorang yang rasional dan logis. Generasi ini mengolah sebuah informasi berdasarkan data dan fakta. Tak mudah sebuah tradisi begitu saja masuk tanpa ada landasan ilmiah kuat. Sebagai contoh, banyak tradisi milik bangsa ini yang dilihat oleh mereka sebagai sesuatu yang kolot dan konvensional. Karena memang darah para generasi ini adalah darah perubahan dimana semua hal harus dinamis dan progresif. Sebuah tantangan mengubah pandangan generasi ini akan sebuah tradisi yang biasa dikatakan kuno dan terkadang tak logis.

Banyak kalangan yang meragukan apakah mampu generasi tersebut sebagai pelanjut tradisi ini. Melihat fakta bahwa banyak tradisi yang mulai punah. Sikap pesimis tersebut tak bisa disalahkan. Dolanan anak seperti petak umpet, layang-layang, gobak sodor perlahan menghilang dan tergantikan oleh permainan modern dalam layar kecil. Berapa banyak hiburan tradisional seperti wayang, keroncong yang mulai sepi peminat. Tak banyak yang tertarik pada tari tradisional yang syarat makna. Tarian hip-hop dirasa lebih menarik dan trendi. Lalu, masih percayakah kita pada generasi ini?, masihkah ada rasa optimis bahwa generasi ini mampu menjaga tradisi seperti halnya batik?.

Tak salah memang bersikap pesimis pada generasi yang memang mempunyai cara pandangnya sendiri pada suatu hal. Kemampuan mengolah informasi yang kompleks adalah keunggulan mereka. Perubahan adalah hal yang terus mereka gusarkan setiap hari. Tak enak ketika hari-hari tidak digunakan dengan menciptakan perubahan baru. Sosial media adalah ranah yang dimana mereka menyebarkan kreatifitasnya. Inovasi adalah darah yang mengalir di tubuh mereka. Teknologi adalah senjata baru mereka melawan status quo. Karena lingkungan mengajarkan mereka bahwa siapa yang cepat bergerak dialah yang menjadi pemenang.

Sebuah konsep peleburan harus dibuat untuk menambal kekurangan yang dimiliki keduanya. Generasi pendahulu membutuhkan generasi penerus untuk menjaga tradisi batik ini agar tetap hidup. Begitu pula generasi penerus membutuhkan bimbingan dan mentoring dari generasi pendahulu agar nilai tradisi yang melekat tak tergerus habis. Setiap kekurangan harus diisi oleh keunggulan yang dimiliki kedua belah pihak. Kolaborasi adalah kunci dari peleburan tersebut. Upaya mengurangi masing-masing ego sentra adalah salah satu langkah awal yang bisa dimulai. Langkah tersebut telah dimulai oleh beberapa kelompok yang peduli.

Pandangan pesimis tersebut perlahan mulai terkikis dengan adanya beberapa generasi muda yang menunjukkan diri bahwa mereka berbeda. Warisan tradisi sebuah batik dilihat oleh kacamata generasi muda ini sebagai peluang untuk mengekspresikan diri dan berkontribusi pada bangsa. Cerita mereka cukup mengesankan hingga gaungnya terdengar nyaring di dunia global. Mereka adalah kelompok yang mau bergerak. Kelompok yang mempunyai kecintaan dan kepedulian lebih dari yang lain. Kelompok pemuda yang mampu meleburkan tradisi dalam sebuah inovasi.

Beberapa kisah mereka coba saya gambarkan di sini

1. Pemanfaatan matematika dan teknologi dalam Batik Fraktal

Nancy Margried founder Batik Fractal

Pada 2007, tiga sekawan asal Bandung memperkenalkan jBatik. Melalui software ini, mereka menunjukkan bagaimana keunikan teknologi berpadu dengan seni tradisional. Sembilan tahun berjalan, Jbatik telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan teknologi yang fokus di bidang batik dan mengubah namanya menjadi Batik Fraktal.

Pola batik tradisional tersebut ternyata dapat dimodelkan dalam rumus matematika yaitu Fraktal. Secara sederhana, fraktal adalah konsep matematika yang membahas kesamaan pola pada semua skala. Pola batik yang sudah diterjemahkan dalam rumus fraktal ini dapat dimodifikasi dengan bantuan teknologi komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam. Keragaman desain ini dapat dilihat dari grafis, warna, ukuran, sudut dan perulangannya. Proses pembuatan motif Batik Fraktal dapat memecahkan masalah keterbatasan desain motif batik, bahkan dapat menghasilkan banyak motif secara cepat, mulai dari yang sederhana sampai yang sangat unik

Batik Fractal

Teknologi menjadi senjata bagi M. Lukman, Yun Hariyadi dan Nancy Margried untuk berkontribusi nyata meneruskan estafet pelestarian ini. Hal ini tak cuma sebuah “ide besar” semata. Capaian sudah membuktikan bahwa Batik Fraktal ini diminati oleh pasaran baik di dalam negeri maupun luar negeri. Terobosan inovasi dari para pemuda ini tak hanya membuat decak kagum karena pendekatan teknologi dikombinasikan matematika ternyata dapat menciptakan sebuah karya seni baru dengan ruang eksplorasi lebih luas, termasuk juga batik sebagai kekayaan budaya lndonesia.

2. Inovasi Fesyen di markas Alleira Batik

Alleira Batik

Alleira Batik hadir sejak 2005 dengan visi amengangkat batik menjadi bagian dari budaya dunia. Misi mereka adalah membuat produk batik sebagai fesyen internasional dengan desain dan bahan berkualitas tinggi. Dengan batik, baik pria maupun wanita masa kini pun bisa tampil modis. Pemilihan bahan menjadi perhatian utama untuk memberikan kenyamanan bagi semua fashionista.

Hingga saat ini Alleira telah memiliki 11 gerai butik di Jakarta dan 1 butik di Medan. Produk batik kebanggaan negeri ini juga hadir di beberapa pusat perbelanjaan ternama di Indonesia seperti Metro, Sogo, Centro Parkson, dan Galeries Lafayette dan juga terdapat di SOHO, New York, Amerika. Alleira Batik pun memperluas produk ke asesoris dan perlengkapan murah. Harapannya, motif batik yang kaya ini bisa menjadi pakaian sehari-hari masyarakat.

Bisnis adalah bagian perjuangan seorang anak bangsa memperkenalkan kekayaan tradisi yang dimiliki. Melalui jalan ini batik diangkat kelasnya di kalangan masyarakat dunia dan menegaskan bahwa batik yang penuh nilai ini sangat mudah dijangkau dan bisa menjadi kiblat fesyen internasional.

3. Gerakan Gerilya Persatuan Pelajar Indonesia

Pemuda dengan keunggulannya menggunakan sosial media ternyata mampu meleburkan sebuah tradisi ke dalam gaya hidup. Kebanggaan akan penggunaan batik pun terus digalakkan oleh komunitas-komunitas batik di Indonesia. Salah satunya adalah mereka yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

Terpisah jauh dari negeri sendiri mungkin mengangkat rasa kepedulian mereka pada kekayaan yang terkadang tak terlihat di depan mata. Ketika berada dalam negeri mungkin mereka belum mencintai batik sebagaimana ketika berada di lingkungan minoritas di luar negeri. Batik yang dianggap kuno dan hanya orang-orang tua yang memakainya seakan sirna ketika mereka bersatu di tanah perantauan.

Sosial media menjadi senjata utama mengobati rasa kangen pada ibu pertiwi. Rasa kangen itu diungkapkan mereka dengan memosting foto-foto kebersamaan dengan pakaian batik. Tak tampak kekunoan didalamnya, yang tampak adalah sebuah identitas bahwa mereka adalah pelajar asal Indonesia. Gerakan gerilya dengan ragam hastag seakan menjadi sebuah perjuangan gerilya masa perjuangan merebut kemerdekaan. Konteksnya saat ini mungkin berbeda. Gerilya sosial media ini adalah bentuk klaim eksistensi bahwa batik Indonesia akan tetap lestari di tangan generasi muda.

Tiga kisah diatas adalah penggalan kisah dari ribuan kisah pemuda lain yang menegaskan bahwa mereka mampu menjadi penerus tradisi yang dibangun. Hal tersebut menumbuhkan sikap optimis para generasi pendahulu untuk menaruh kepercayaan penuh kepada generasi penerus. Tradisi yang telah dibangun ratusan tahun ini tak boleh begitu saja diamanahkan pada generasi yang tidak mempunyai keunggulan dan kapabilitas untuk menjaganya. Tradisi ini tak boleh hanya diramaikan ketika ada berita akan direbut pihak lain. Tradisi ini harus mengalir dalam jiwa generasi muda. Memang pemuda Indonesi belum semuanya mempunyai pemahaman dan kemampuan yang sama dalam mengemban amanah tersebut. Oleh karena itu, Kompromi perlu dilakukan. Kompromi tersebut dapat berbentuk peleburan tradisi ini kedarah inovasi pemuda Indonesia.

melanjutkan tradisi bukan berarti melupakan inovasi begitu juga membuat sebuah inovasi tidak perlu menghilangkan tradisi

Batik adalah falsafah hidup yang bisa didapatkan dari setiap motif. Inovasi adalah cara mengubah bentuk agar tradisi tersebut dapat diterima generasi baru. Jika memang hal tersebut dapat dilakukan maka tongkat estafet ini dapat disampaikan. “melanjutkan tradisi bukan berarti melupakan inovasi begitu juga membuat sebuah inovasi tidak perlu menghilangkan tradisi” Peleburan keduanya adalah kombinasi terbaik untuk sebuah pelestaraian. Sebuah warisan yang diamanahkan generasi pendahulu kepada generasi kemudian. Sebuah tongkat estafet yang harus terus berpindah. Demi satu tujuan bersama, menjadikan Batik terus abadi.