Membawa Pasifisme Melampaui Batas-batas Diskusi Kelas

Hanya berselang beberapa menit usai ibadah salat Jumat sekaligus istirahat makan siang, seorang Ibu Dosen terlihat berjalan mendekati pintu masuk kantor Departemen Hubungan Internasional sambil memanggil mahasiswanya, “Yuk, Dzul.”

Mahasiswa tersebut kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti sang Ibu Dosen. Untuk kesekian kalinya mahasiswa itu menempuh ujian lisan sebagai Ujian Akhir Semester suatu mata kuliah. Meskipun masih berdebar-debar begitu menutup pintu, ia merasa sedikit tenang. Lagipula, ia menyukai topiknya: pasifisme.

Di antara dua pertanyaan terakhir, terjadi percakapan yang kemudian membentuk mahasiswa itu.

Mulanya ialah pertanyaan tentang keyakinan mahasiswa itu akan pasifisme. Ia mengutarakan pesimismenya. Lalu sang Ibu Dosen mendalami jawaban tersebut dengan bertanya tentang apakah pasifisme pada akhirnya dapat dimenangkan di tengah-tengah kecamuk warisme.

Tidak berhenti di sana, percakapan menjadi semakin menarik bagi mahasiswa itu ketika agama diletakkan ke dalam pusat pembahasan. Sang Ibu Dosen, seorang Katolik, meminta mahasiswanya, seorang Muslim, untuk menyebutkan contoh nilai pasifisme dalam agama yang ia peluk. Nafas dialog antaragama meresap masuk pelan-pelan. Mahasiswa itu menyebutkannya. Cukup singkat. Ia juga tidak lupa menambahkan contoh nilai warisme dalam Islam, dengan mengenang sebuah kisah kemenangan: Perang Badar.

Bermaksud memberikan latar belakang masalah untuk pertanyaan lanjutan, sang Ibu Dosen menyebutkan selayang pandang sejumlah konflik yang eskalisanya melibatkan — dan, mungkin, diperparah oleh — sentimen antaragama. Mahasiswa itu mendengarkan. Lalu Ibu Dosen meminta mahasiswanya membahas konflik serupa di Indonesia.

“Poso, misalnya …” kata mahasiswa itu, menyinggungnya untuk mendukung pendapat.

Dari Poso kemudian mereka berpaling ke Jakarta, mengingat-ngingat hari-hari di mana pluralisme bermuram durja di tengah-tengah ambisi Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan untuk menggapai kursi nomor satu DKI Jakarta. Obrolan tentang pasifisme dengan demikian menyentuh masalah toleransi.

“Apakah menurut kamu toleransi merupakan fondasi pasifisme?”

“Iya, mba. Tapi bukan satu-satunya dan, lebih penting lagi, bukan yang utama.”

Ibu Dosen hanya menatap mahasiswanya itu, seolah menagih jawaban lanjutan.

Mahasiswa itu kemudian mengangkat punggungnya dari sandaran kursi, memberikan isyarat ingin menekankan sebuah pendapat. “Yang utama, menurut saya, adalah kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan dapat menciptakan kondisi yang dibutuhkan toleransi untuk tumbuh dan ditegakkan, yang kemudian memberikan fondasi untuk pasifisme.”

“Toleransi merupakan fondasi pasfisme,” tegas Ibu Dosen di lain pihak.

Mahasiswa tersebut terdiam, memerhatikan.

“Dan toleransi,” sang Ibu Dosen menjelaskan, “juga merupakan bukti konkret bagaimana pasifisme dapat diwujudkan.”

Lalu obrolan tentang toleransi dilanjutkan dengan pertanyaan tentang kemungkinan perang skala besar di Indonesia karena agama. “Apakah mungkin?” Ibu Dosen bertanya.

Jawaban sang mahasiswa justru merupakan afirmasi kemungkinannya. Ia menimbang kerentanan agama ketika dijadikan sarana mobilisasi massa, apalagi jika diperparah dengan kebencian-kebencian leluhur yang telah lama berlangsung.

Pembahasan tentang toleransi berhenti di situ. Sang Ibu Dosen menutup percakapan tersebut dengan cara yang begitu membekas di hati mahasiswa itu, yaitu dengan menaruh harapan besar di pundaknya. “Hanya sedikit orang yang berusaha menggunakan cara-cara damai, seperti toleransi, untuk menciptakan perdamaian.”

“Iya, mba.”

“Kamu jadilah orang yang sedikit itu ya, Dzul,” kata sang Ibu Dosen, dengan tentramnya.

Mahasiswa itu tak mampu berkata banyak. Ia takjub. Pun demikian, hati dan pikirannya bergejolak sedemikian rupa.

Mungkin pesan sang Ibu Dosen tidak akan setersampaikan itu jika hanya terjadi dalam diskusi kelas, karena kekakuan-kekakuannya. Pesimisme mahasiswa itu dengan demikian menyusut. Lebih jauh lagi, percakapan tersebut melarutkan mahasiswa itu ke dalam romantika perjuangan pasifisme: menciptakan perdamaian hanya dengan cara-cara damai.

Sang mahasiswa kemudian tergerak, dan ia tetap tergerak sejak siang itu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Dzulfiqar Fathurrahman’s story.