Kecewa ke berapa?

Mungkin saya sedikit kecewa.

Ah Tidak, sangat kecewa sepertinya.

Kegagalan masih betah mengunjungiku. Padahal, saya kira kesuksesan sudah ada di ambang pintu peluang, merentangkan tangan dan siap memelukku lalu berkata “Sudah saatnya kita bersama.”

Kemudian kegagalan akan melihatku berjalan dengan kesuksesan sambil tersenyum dan berkata “kau bertemu dengannya karena betah kukunjungi”

Saya harap seperti itu.

Nyatanya kegagalan masih saja datang, mengajakku tinggal dengannya lebih lama lagi sambil menyeduh kopi perih yang ia buat spesial hanya untukku ditambah sepotong kue putus asa. Untuk apa? Racun? Atau hanya sekadar mengetes ketegaran jiwa dan mental?

Entahlah.

Kali ini saya hanya bisa menikmatinya walau sangat sesak di dada. sambil terus bertanya:

“kapan kegagalan itu diganti kesuksesan?”

Saya tahu kegagalan juga kesuksesan bukan hal abadi. Kadang di atas, kadang di bawah.

Saya tahu itu aturannya.

Tapi, saya benar-benar lelah di bawah terus.
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Era Erika’s story.