Bahasa Cinta : Mengetahui Tipe — Tipe Ekspresi Cinta Orang — Orang Kasmaran.

Bahasa secara umum dapat diartikan sebagai medium dengan gaya dan simbolisme spesifik untuk menyampaikan sebuah maksud. Mari sejenak kita fokus ke simbolisme, maksud dari simbolisme adalah mewakili suatu barang dengan sebuah simbol berupa tulisan, suara maupun gambar bahkan tindakan contohnya ketika seseorang membunyikan suara “Moooo” maka orang tersebut sedang mereferensikan atau mewakili seekor sapi yang ditunjukkan dengan suara yang identik dengan suara sapi namun ada juga orang yang menyimbolkan sapi dengan membuat tanduk di kepala atau dengan warna hitam dan putih, banyak cara bahasa dapat mewakili banyak sekali benda atau kejadian bahkan pemikiran yang abstrak di dunia kita ini, lalu bagaimana dengan cinta romantik? Tema ini sangat menggelitik saya karena sebagai penstudi (bukan sarjana) kokologi dan seorang yang mempelajari grafologi serta psiko-analisis Sigmund Freud dan Carl Jung serta pemikir — pemikir lainnya, banyak sekali orang yang bicara dengan saya untuk membahas “Teman Hidup”.
Bila Tuhan memang nyata atau bisa dibuktikan secara nyata maka kita, para manusia adalah makhluk yang paling beruntung diatas ciptaanNya yang lain, karena melalui akal budi kita telah menciptakan hal — hal yang kompleks yang pada ujungnya meningkatkan nilai hal — hal yang ada di dalam hidup kita, pada zaman dahulu ketika kita masih belum se-beradab sekarang maka kita menghargai hubungan antara manusia secara murah, hubungan seksual dilakukan seperti layaknya binatang yaitu tanpa ikatan pernikahan. Tidak ada konsep “belahan jiwa satu — satunya” pada zaman nenek moyang kita, barulah ketika keberadaban dan kepemilikan pribadi menjadi diakui di kebudayaan kita karena nenek moyang kita ulai meninggalkan kehidupan nomaden dan mulai menetap untuk bercocok tanam maka berkembanglah pemikiran “Aku milikmu dan kau milikku, masing — masing untuk seorang kita saja” yang mengikuti kepercayaan religi serta konsep etika yang berkembang pada saat itu menjadi eksklusif, awalnya ini bisa diasumsikan berkembang dari kepemilikan rumah atau tanah dari kolektif menjadi individualistik. Seperti itu juga dalam hubungan, tidak bisa seseorang yang merasakan dorongan gairah di dalam dirinya langsung melampiaskannya pada lawan jenis yang dilihatnya atau diinginkannya melainkan harus menahan diri atau merebut pasangan orang lain. Ini membuat hubungan antar manusia menjadi lebih berharga dan lebih bernilai dibandingkan sekedar hubungan seksual untuk mendapatkan keturunan atau melampiaskan nafsu, selain itu dengan adanya pembagian tugas dalam masyarakat seperti lelaki berburu dan perempuan bercocok tanam membuat kita mengembangkan konsep “Pelengkap diri” dimana kita mencari pasangan hidup yang mampu melengkapi kehidupan kita dengan kelebihan yang ia miliki.
Hal — hal seperti di atas membuat kita menjadi makhluk yang pemilih, kita lalu mengenal adanya konsep “kriteria / tipe” kita menyukai orang — orang yang memiliki kelebihan yang kita harapkan dari lawan jenis kita untuk melengkapi hidup kita. Eksklusifitas juga membuat kita menjadi berpikir bahwa hanya ada satu orang yang spesial yang akan mendapatkan seluruh hidup dan jiwa saya untuk kehidupan yang satu ini. Secara historis itulah penjelasan singkat mengenai bagaimana kita menjadi kelompok makhluk yang suka memilih — milih dan eksklusif.
Dalam penulisan artikel ini saya mendapatkan sumbangan pemikiran dari jurnal ilmiah yang dituliskan oleh Dr. Helen Fisher, Arthur Aron dan Lucy L. Brown yaitu studi tentang mekanisme neural dalam pemilihan pasangan hidup. Bacaan ini sungguh sangat menarik dan membuka pandangan saya terhadap praktik neurologi dan analisis mekanisme neural dalam kehidupan sehari — hari, perbedaan mekanisme neural yang bekerja dalam otak kita akan membuat kita memiliki ekspresi atau tindakan yang berbeda dalam mengungkapkan perasaan “cinta” yang ada di dalam pikiran kita. Sejauh ini ada 4 buah kategori yang bisa kita amati dalam hubungan romantik antara manusia : Petualang, Pembangun, Sutradara, dan Negosiator. Dalam hal ini, kita dapat mengidentifikasi bahasa cinta masing — masing orang lewat tingkah laku mereka serta bagaimana mereka mendefinisikan cinta itu sendiri.

Seorang petualang memiliki kadar Dopamine yang dominan dalam otak ketika berhubungan asmara dengan orang lain, Dopamine sendiri memiliki daya untuk membuat orang tersebut mencari kepuasan dalam intensitas maupun spontanitas dan menginginkan stimulasi yang tinggi untuk melakukan kegiatan sensorik. Orang — orang dalam kategori ini memiliki sifat impulsif dan memiliki tingkat energi yang tinggi, mereka juga senang berpetualang dan bereksperimen meskipun itu berarti memberi perhatian yang lebih sedikit kepada pasangan mereka. Orang — orang yang termasuk dalam kategori ini akan mengungkapkan rasa sayang mereka dengan cara mengajak pasangannya untuk melakukan hal — hal yang menyenangkan bersama, secara konstan pasangannya diajak untuk berpetualang dalam dunia ini bersama dengan dirinya dan juga kebanyakan dari pengisi kategori ini memiliki idealisme yang tinggi dalam arti meskipun suka berpetualang namun sesama “Petualang” belum tentu memiliki tujuan yang sama atau pandangan yang sama dalam hidup. Kelemahan dari tipe ini juga dalam hal perselingkuhan (karena sseorang petualang merasa bebas dan kurang menyukai komitmen) serta mencoba banyak hal baru yang biasanya dilarang oleh norma masyarakat seperti seks bebas.

Sementara itu tipe “Pembangun” biasanya merupakan orang — orang yang menginginkan keteraturan dalam hidup. Seorang “Pembangun” memiliki kadar serotonin yang kuat dalam otak mereka. Serotonin adalah kebalikan dari Dopamine dimana Serotonin menginginkan rasa aman, tentram dan kesetiaan. Bagi seorang “Pembangun” ia boleh saja dibilang membosankan atau kolot atau bahkan terlalu kaku, tetapi tidak apa — apa bila ia masih dikaitkan dengan rasa aman serta pribadi yang setia pada pasangannya. Seorang pembangun biasanya tertarik dengan pembangun lainnya karena ia menginginkan seorang yang membantu dan melengkapi dirinya, ia tidak menginginkan kesenangan maupun sensasi dalam hidupnya dengan pasangannya. Orang di kategori ini kebanyakan melakukan hal — hal untuk membuktikan kesetiaan seprti memberi perhatian lebih, tidak mudah marah serta teratur dalam hubungannya dengan pasangannya. Selain membosankan atau kaku, kelemahan dari orang di dalam kategori ini adalah pemikiran yang dogmatik atau terlalu terikat pada tradisi, agama dan lain — lain.

Orang yang termasuk dalam kategori “sutradara” banyak menggunakan testosteron dalam cara mereka berhubungan sehingga mereka adalah individu — individu yang berpikir secara logis dikarenakan hormon testosteron memiliki hubungan dengan otak kiri yang memproses logika dalam berpikir. Sutradara juga memiliki ambisi yang tinggi tentang perilaku pasangannya, dan memiliki emosi yang stabil. Ambisi yang tinggi membuat orang — orang dalam kategori ini biasanya memiliki label workaholic karena berpendapat bahwa “Kalau saya mendapatkan posisi yang bagus, tentunya pasangan saya akan bangga memiliki saya sebagai pasangannya” dan sebaliknya, masalahnya adalah karena kebanyakan dari mereka merupakan figur yang independen dan dominan, mereka akan sulit mendengarkan orang lain serta sulit dalam berelaksasi atau menikmati momen spesial dengan pasangannya. Seorang sutradara jarang menyukai sutradara lain, sebaliknya mereka lebih cenderung tertarik pada negosiator.

Negosiator kebanyakan terdiri dari para filsuf dan para “Hopeless Romantic” yang mendambakan cinta yang digambarkan oleh seni — seni gaya romantisisme. Mereka cenderung berperilaku baik, penyabar dan berpemikiran terbuka serta mencari kepuasan bagi semua pihak namun umumnya mereka lebih suka diam ketika ada hal — hal yang krusial terjadi dalam hubungan mereka karena mereka takut untuk kehilangan pasangan mereka. Seorang negosiator yang memiliki kadar estrogen yang baik akan menjadi pasangan yang sangat setia dikarenakan mereka adalah pengingat yang kuat baik hal — hal krusial maupun hal — hal kecil dalam hidup berpasangan. Sayangnya mereka kadang terjebak dalam “self-judgement” dan “self-blaming” serta sulit sembuh dari sakit hati karena daya ingat mereka yang cukup tinggi sehingga dapat menuju kepada depresi.
Kriteria — kriteria di atas serta karakteristik yang sudah dideskripsikan dapat anda gunakan sebagai “kamus” untuk memahami pasangan anda, tindak tanduk mereka tidak harus dipahami sebagai karikatur satu dimensional. Menurut saya kunci dari hubungan yang sukses adalah pengertian. Mengerti motif di belakang sebuah tindakan, disitulah pemahaman akan bahasa diperlukan, sebuah bahasa sukses ketika mampu mengkomunikasikan “sapi” kepada seseorang ketika seseorang lain mengeluarkan suara “moo”, demikian pula tindakan, tindakan tersebut akan sukses bila dapat melambangkan maksud “sayang” di balik kekerasan atau kelembutan. Dengan memahami bagaimana pasangan kita berpikir, paling tidak kita mampu mencoba melihat lebih dalam kepada dirinya, selamat menelusuri bahasa cinta dan semoga tulisan in imembantu kalian untuk melihat lebih dari yang dilihat mata.
Sumber :
Dr. Helen Fisher Et.al : Romantic Love : An fMRI study of a Neural Mechanism for Mate Choice
CF Zink Et.al : Human Striatal Response to salient nonrewarding stimuli
DW Plaff : Neurobiological & Molecular Mechanisms of Sexual Motivation
D. Mashek, Aron A, HE Fisher : Identifying, Evoking, and Measuring Intense Feeling of Romantic Love.