Dua Sisi Koin : Ms Pei Pei, Sunda Wars dan menulis cerita.

Joshua Eldi Setio
Aug 8, 2017 · 4 min read
Kabaret PMKT XXI

Salah satu alasan gue sering banget nulis tentang Kabaret PMKT FISIP UNPAR adalah karena gue dapat banyak banget pelajaran berharga untuk perkembangan diri secara emosional dan juga gue banyak berlatih untuk menjadi pemain tim bukan penyendiri, dan sekarang gue mau berbagi salah satu pelajaran yang cukup unik.

Jadi satu malam gue ngobrol sama Magentha Primbumi (Instagram : @genthaprg) dan Dhanny Padang (IG dirahasiakan karena sudah ada yang punya) mereka senior di Kabaret yang banyak bagi ilmu tentang produksi pertunjukan kabaret secara mereka adalah tim inti Kabaret PMKT XX, satu tahun sebelum gue yang ngurus. Saat itu kita ngobrol panjang lebar dan akhirnya ngebahas topik tentang cerita. Dalam pembicaraan itu kita punya perbedaan pandangan tentang cerita yang bagus itu ciri — cirinya gimana. Dhanny dan Gentha (waktu itu juga yang ikut nulis cerita Kabaret PMKT XX : Sunda Wars ada Bang Suman dan Bang Anton) mereka kalau bikin cerita akan nerapin prinsip KISS (Keep It Simple Stupid) kalau bikin cerita ala mereka ga akan ribet, to the point dan sumber ceritanya dari apa yang populer saat itu, untuk mempermudah penonton juga mereka menghadirkan narator yang memberikan eksposisi cerita tiap babak baru dimulai. Sementara gue karena pengalaman gue nulis naskah beberapa pertunjukkan punya cara sendiri : gue selalu ambil konsep dari pengalaman asli, curhatan diri dan teman, pokoknya grounded in reality dan harus selalu detail dalam karakterisasi tokoh serta gue selalu menghindari narasi untuk menitik beratkan pada media visual.

Cerita PMKT XX : the Sunda Wars adalah ada ras alien primitif yang ingin menghancurkan bumi karena dinilai penuh makhluk jahat dan tidak bermoral. Tokoh — tokoh legenda yang hidup pada saat itu seperti Sangkuriang, Jaka Tarub, Cepot dan Kabayan berupaya mencari 3 kebaikan untuk membuktikan bahwa mereka tidak layak dibinasakan.

Kelebihan dari cerita PMKT XX adalah simpel dan gampang diikuti sama penonton, dan karena berdasarkan dari pop culture maka penonton pun tahu dan mengenali candaan — candaan yang ditunjukkan oleh karakter yang tidak asing bagi penonton sebut saja Cepot, Sangkuriang dan Jenderal Alien Jahat. Namun kalau diamati sebenarnya tokoh — tokoh tersebut seperti tidak punya karakter dan cenderung bersifat karikatur (tidak ada perkembangan yang dialami oleh karakter tersebut secara emosional maupun pribadi) juga bisa dibilang nggak membawa pesan moral apapun karena memang tujuan mereka adalah untuk bikin hiburan semata untuk ngelucu, dan juga logika di cerita itu tidak memiliki penjelasan lebih lanjut misalnya ketika si Alien jahat mau menghancurkan bumi ya penonton nggak tahu bagaimana asal — usul ras terabak (yang hanya diceritakan melalui eksposisi singkat) tapi menurut saya dengan dia diperkenalkan sebagai si Alien jahat sudah cukup untuk menjelaskan semuanya dan karena ceritanya ringan serta bergulir cepat maka penonton juga tidak pernah dikenalkan pada sifat Cepot atau karakter dari Kabayan. Penonton hanya melihat stereotip dan ciri fisik yang ditunjukkan oleh tokoh — tokoh tersebut yang cukup memberi pengetahuan yang diperlukan penonton untuk mengerti (contoh : muka merah itu pasti cepot). Penggunaan karakter dan formula cerita yang generik juga membuat penonton dengan mudah menebak akhir dari pertunjukkan atau merasa bosan di tengah pagelaran.

Di PMKT XXI, mengusung judul “Ms. Pei Pei’s Home for Imaginary Friends” atau singkatnya “Boo-kan teman biasa” berkisah tentang hubungan seorang penulis naskah muda bernama Gilang dan hubungannya dengan teman khayalannya yang bernama Boo serta jalinan asmaranya dengan kekasihnya yang bernama Diandra. Diandra yang membenci teman imajinasi ternyata memiliki masa lalu yang menyedihkan dengan teman khayalannya si Ratu Malam yang ingin membalas dendam karena Diandra meninggalkannya.

Dari deskripsi di atas bisa kita lihat kompleksitas cerita yang dituturkan di PMKT XXI, karakternya adalah manusia biasa yang tanpa penjelasan apapun tidak akan dimengerti oleh para penonton, sehingga cerita di PMKT XXI bertutur dengan lebih lambat, membuka satu poin cerita dan menjelaskannya dahulu sebelum berpindah — pindah babak, tiadanya narator diganti dengan flashback atau menunjukkan adegan menggunakan aktor. Hal — hal tersebut membuat dari segi penceritaan dan penokohan Kabaret PMKT XXI jauh lebih kuat karena mereka melihat dan ikut mengalami kejadian — kejadian yang menimpa para tokoh di cerita dan juga karena bersumber dari pengalaman pribadi para penonton lebih sulit menebak kemana cerita akan bergulir. Namun sisi minusnya, alur cerita yang lambat bisa jadi terkesan membosankan juga, dan meskipun lucu dan bertabur komedi di seluruh bagiannya sampai akhir tetapi kerumitan cerita bisa saja membuat beberapa penonton bingung, terutama yang tidak suka mikir. Tentang menitikberatkan pada visualisasi dibanding narasi, ini harus diperhatikan karena ketika penonton bingung atau tidak bisa melihat detailnya justru kebanyakan dari mereka akan kehilangan poin penting dari cerita dan mampu mengurangi nikmat dalam menonton pertunjukkan.

Dari diskusi tersebut Gentha bilang ke gue kalau “Semua jenis cerita ada kelemahannya dan ada kelebihannya….kita semua selalu di posisi serba salah, kalau kompleks dibilang ribet sementara kalau ringan dibilang terlalu sederhana”, dan gue setuju banget, menurut gue nggak Cuma cerita tapi semua hal juga udah seperti koin yang punya dua sisi, cerita yang sederhana atau populer cenderung mudah ditebak dan membosankan sementara cerita yang kompleks dan memiliki makna yang sangat dalam dapat membuat penonton kebingungan dan justru merasa kurang nikmat.

Dengan pemikiran seperti itu lantas manakah yang lebih baik? Menurut saya dalam menulis naskah cerita harus kembali lagi ke tujuan awal kita dan menyesuaikan dengan para penonton. Ada saatnya sederhana itu cukup dan ada saatnya dalam itu mengagumkan.

Dari cerita ini juga gue mau bilang bahwa Divisi Kabaret PMKT XXI sangat membangun gaya berpikir yang terbuka dan demokratis walaupun tidak semua yang kita bicarakan berfaedah.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade