Apa Kabar Tim-tim Kelas Menengah?

(Sumber gambar: bola.okezone.com)

Piala Dunia 2018 telah bergulir dan kejutan tampaknya terjadi pada laga-laga perdana setiap grup. Mulai dari margin skor yang begitu menganga pada partai tuan rumah Rusia melawan Arab Saudi hingga kewalahannya tim-tim besar dalam meraih kemenangan. Spanyol, Argentina dan Brazil hanya bermain seri. Juara bertahan Jerman rela menerima malu akibat kalah 0–1 dari Meksiko. Sementara itu, tim ayam jantan Prancis pun menang dengan skor tipis 2–1 atas Australia, yang secara tak langsung dibikin unggul karena aplikasi VAR (Video Assistant Referee) dan Goal Line Technology.

Memang benar, partai perdana bukanlah tolok ukur yang matang atau sahih atau bijak guna melihat perjalanan sebuah tim dalam turnamen terbesar sejagad dan penuh gengsi seperti Piala Dunia ini. Apalagi sistem yang dipakai adalah setengah kompetisi yang kemudian memasuki fase gugur. Selain itu, prediksi juga harapan-harapan malah telah dilambungkan jauh-jauh hari sebelum putaran final berlangsung. Baik dari sisi statistik, analisis teknik dan taktik, maupun umbaran-umbaran lepas dari mulut para peramal yang barangkali tak paham sama sekali soal sepakbola. Kita, saya dan Anda, bisa saja masuk dalam kategori peramal ini. Tapi di dalam sepakbola, tak ada yang benar ataupun salah, baik ataupun buruk. Yang ada ialah menang, kalah dan atau seri, sebaik atau seburuk apa pun kualitas sebuah tim. Setajam atau sedangkal apa pun sebuah amatan.

Kasus Spanyol pada Piala Dunia 2010 tentu bisa dijadikan pelajaran sekaligus motivasi bagi tim-tim besar di atas. Memulai turnamen dengan kekalahan 0–1 dari Swiss, Spanyol akhirnya keluar sebagai juara dunia usai mengandaskan Belanda lewat gol tunggal Andres Iniesta pada menit-menit akhir perpanjangan waktu. Hanya saja, Spanyol waktu itu memang yang terbaik di dunia; datang sebagai kampiun Piala Eropa 2008 dengan komposisi pemain yang mumpuni pada setiap lininya dan punya gaya bermain “satu dua ketok” yang belum terlalu mendapatkan antidot sepadan.

Hal yang sama barangkali juga berlaku untuk timnas Jerman saat ini yang terkenal dengan disiplin dan ketangguhan luar biasa. Meskipun kekalahan dari Meksiko, saya kira, adalah bagian dari kekeliruan taktik dan strategi Joachim Loew yang terlalu banyak memainkan gelandang “pengumpan” dan tak punya ujung tombak berpengalaman. Selain Meksiko yang memang bermain high pressing sejak awal laga. Dan tak dapat disangkal, Spanyol sebagai juara bertahan pulang duluan ketika pesta bola empat tahunan ini diadakan di Brazil. Jerman mesti waspada akan kutukan semacam ini.

Akan tetapi, buat apa membicarakan tim-tim unggulan yang bila jadi juara tentu akan dianggap sebagai kewajaran. Risalah lain yang tak kalah sengitnya ialah kehadiran tim-tim kelas menengah yang bisa menjadi batu pengganjal berarti bagi eksisnya para raksasa di atas. Tim-tim kelas menengah ini merupakan persepsi subjektif saya pribadi dari kaidah ukur keberadaan pemain bintang dan prestasi tim sejauh ini. Kroasia, Belgia, Uruguay, Swedia, dan Kolombia masuk dalam ranah ini. Juga Portugal dan Inggris yang barangkali akan diperdebatkan karena ada Christiano Ronaldo dan bintang-bintang muda yang bersinar di Premier League. Namun, kita tak bisa menipu diri bahwa Portugal hanyalah punya Ronaldo seorang, dan prestasi Inggris selama dua dekade belakangan adalah buruk sekali.

Pada perhelatan Piala Eropa 2016, Portugal sendiri tak masuk dalam unggulan juara tapi menyuguhkan kejutan dengan mengalahkan tuan rumah Prancis. Tanpa permainan penuh sang megabintang Ronaldo pada partai final. Untuk Piala Dunia kali ini, Portugal pun lolos dari fase kualifikasi dengan poin yang hampir sempurna. Hanya sekali kalah, sisanya menang.

Tentang Inggris, walaupun banyak yang meragukan dan menjadikannya sebagai bahan rundungan, saya kira kubu “Tiga Singa” dengan agresivitas pemain mudanya punya kans besar untuk menggulingkan anggapan-anggapan minor selama ini. Mereka ini ibarat singa yang sedang lapar di tengah halusinasi gemerlap juga prestisiusnya liga mereka sendiri. Sehingga nafsu untuk melambungkan nama tim nasional tentu jadi keutamaan, terutama bagi bintang seperti Harry Kane, Rahem Sterling ataupun Jordan Henderson.

Lain Portugal, lain Inggris, lain lagi Belgia. Les Diables Rouges boleh berbangga sebab memiliki generasi emas saat ini setelah era Jean Marie-Pfaaff pada World Cup 1986. Pada Piala Dunia di Brazil, Belgia berhasil lolos ke perempatfinal sebelum tumbang 0–1 oleh Argentina. Dan saya kira, sekarang tim ini telah matang dan tentu bisa menorehkan prestasi gemilang.

Kebangkitan tim-tim kelas menengah ini setidaknya telah ditunjukkan dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 sendiri. Salah satunya dilakukan oleh Swedia yang menguburkan asa juara dunia empat kali Italia pada babak play-off. Swedia mengangkangi Gianlugi Buffon dan kawan-kawan dengan agregat skor 1–0. Sebelumnya, Swedia “melakukan” itu terhadap Belanda yang mana mereka tergabung dalam satu grup kualifikasi bersama Prancis. Prancis dan Swedia yang lolos, Belanda gigit jari.

Dari zona Amerika Latin atau CONMEBOL, juara bertahan Copa Amerika Chile gagal lolos setelah kalah bersaing dengan Peru. Meskipun sebenarnya dalam konteks Piala Dunia, Chile ini dapat dikatakan sebagai tim kelas menengah juga.

Namun, hadirnya tim-tim baru dalam pentas Piala Dunia kali ini, termasuk pergeseran representasi dari benua Afrika, memberikan fenomena tersendiri yang bisa berimbas pada munculnya juara baru. Tak hanya dari golongan kelas menengah tadi, tapi juga tim-tim kelas gurem, semacam Islandia ataupun tuan rumah Rusia.

Bisa saja Portugal yang kembali mengulangi trahnya seperti yang mereka lakukan di Eropa pada 2016, atau Inggris yang benar-benar lagi lapar gelar, atau mungkin Kroasia dengan paduan pemain senior dan junior yang cukup seimbang, atau juga Belgia dan Kolombia, meskipun Kolombia sendiri kalah pada laga perdana. Memang tak dapat dimungkiri, tim-tim ini bisa saja saling jegal sejak babak delapan besar.

Intinya adalah fase semifinal atau final sekalipun diisi oleh pertempuran para jugador dari negara-negara yang sebelumnya jarang jadi langganan slot termaktub. Mereka tak hanya bicara sampai level perempatfinal saja sebagaimana lazimnya yang terjadi selama ini.

Tentu, dalam sepak bola, seperti yang terkatakan sebelumnya, harapan dan prediksi bisa saja salah kaprah. Dan sepak bola sendiri adalah sejarah adalah pengalaman. Saya boleh berharap banyak, tapi bila mentalitas mereka tidak kuat, saya bisa apa coba?