Kisah Mr. Seruput

Ibadah sore adalah keyakinan serentak perihal wajib untuk orang sepertinya. Ia akan terlihat di beranda rumah, di belakang rumah, atau di bagian mana saja dalam rumahnya sambil meneteng segelas kopi hitam dan menjepit sebatang rokok.

Wajahnya brewokan, rambutnya penuh uban. Bayangkan saja, usianya 70-an tahun. Dan, ritual itu dilakukan semenjak istrinya meninggal saat hari ulang tahun pertama pernikahan mereka. Lelaki itu terkejut ketika upacara potong kue di kamar pengantin mereka harus berakhir dengan peristiwa meledaknya jantung sang istri.

Dia tak bisa melupakan itu. Dan, dia selalu sendiri. Senantiasa sendiri. Hingga usianya yang sekarang. Dia yakin bahwa asap yang terkepul dari bibirnya bisa mendatangkan arwah istrinya. Dan, mereka berdua akan minum kopi bersama. Sembari bercerita banyak hal soal kematian, surga, neraka, dan tetek-bengek di sekitar itu.

Sore ini, ibadah berjalan seperti biasa. Untuk yang kesekian-sekian kalinya. Rokok hampir terbakar habis. Kopi tersisa setengah. Perbincangan belum juga habis. Tapi, satu hal yang kau harus tahu; rasa kangen antara dunia orang hidup dan mati itu berbeda.

Jangan terlalu serius, sayang.

Salam seruput.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.