Kritik

John Steinbeck, penerima Nobel Sastra 1962, pernah menulis bahwa tugas seorang penulis adalah meyakini apa pun yang ditulisnya. Pada satu sisi, menulis itu sendiri merupakan perkara mengaktualisasikan apa yang ada di batok kepala. Dalam Bumi Manusia (1980), Pramoedya Ananta Toer yang begitu menggemari Steinbeck bilang bahwa seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Di sini, Pram hendak tegaskan niat baik. Yang mesti merasuki juga diri penulis itu sendiri.

Dalam menulis, orang bisa saling berkonflik. Antara penulis yang satu dengan lainnya. Antara gagasan yang satu dengan yang lainnya. Ide-ide dikumandangkan. Dikonfrontasikan. Diperdebatkan. Mereka saling berpolemik.

Tapi, barangkali ihwal lain dari polemik adalah kritik. HB Jassin, paus sastra Indonesia, bergerak dengan kritik itu sendiri. Dia mendedah karya para penulis muda, tapi kemudian memperkenalkan dan mempromosikan mereka. Tentu saja ini sehat. Bernas. Dan, bisa jadi suatu media pembelajaran.

Takut terhadap polemik juga kritik merupakan bagian dari kekonyolan intelektual. Namun, itu bukan berarti seorang penulis harus sering menabiskan dirinya sebagai tukang kritik ataupun antikritik. Masing-masing penulis punya ruangnya tersendiri. Jadi, kalau mau menulis, ya menulis saja. Yakin dan lahir dari dalam niat baik. Kritik adalah lain soal.

*Ditulis untuk rubrik Cangkir Jurnal Sastra Dala E’la Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) Maumere edisi September 2016.