Shen Ti Jian Kang

Kesuksesan Victor Emanuel Rayon alias babah Akong dalam mengembangkan kawasan mangrove di pesisir pantai teluk Ndete, Magepanda, Flores bukanlah perkara instan dan gampang. Dendam yang tinggi terhadap bencana tsunami Flores 1992 membuat dia nekat menanam anakan bakau dan abai terhadap pandangan-pandangan miring masyarakat kala itu. Alasannya sederhana, dia tak mau lagi tsunami menghancurleburkan kehidupannya. Apalagi rumahnya memang roboh rata tanah, harta benda porak poranda. Yang tersisa saat itu hanyalah onggokan pakaian di badan belaka.

Orang ini lantas berjuang sendirian bersama istri dan anak-anaknya. Tak lagi peduli pada urusan bisnis. Ia mendedikasikan total seluruh hidupnya dengan menanam dan merawat bakau-bakau. Tentu saja perjuangan tak kenal lelah selama belasan tahun itu akhirnya membuahkan hasil juga. Tak ada lagi abrasi, garis pantai terjaga stabil, lautnya pun selalu bersih. Hutan bakau itu juga sering jadi laboratorium penelitian bagi para pelaku riset ataupun aktivis lingkungan. Babah Akong sendiri biasa diundang ke mana-mana untuk bicara tentang konservasi bakau. Bagi babah Akong, hidupnya adalah bakau, dan bakau adalah hidupnya.

Makanya, kalau bertemu dengannya di tempat itu, kau mungkin kaget, sosok hebat di balik kelestarian dan keindahan alam hutan mangrove Magepanda itu hanyalah pria tua yang biasa mengenakan celana pendek dan kaos lusuh. Rumahnya juga sederhana saja. Beliau menunjukkan bahwa setiap hal besar selalu lahir dari semangat pantang menyerah dan harus diperjuangkan terus-menerus. Tak perlu berpuas diri, tak perlu bergirang jemawa. Atau, barangkali beliau ingin tegaskan bahwa keturunan Tionghoa tak selamanya bergiat dalam lalu-lintas dunia usaha.

Jadi, Shen Ti Jian Kang, babah Akong. Xin Nian Jin Pu. Gong Xi Fa Cai. Semoga sehat selalu. Hidupmu senantiasa aman dan nyaman dan diberkahi kesejahteraan melimpah. Bersama penggalan lirik “Lagu Bahagia” milik Sisir Tanah berikut,

“…nyanyikanlah harapan

perjuangkan tujuan

bahagia kehidupan

bahagia kehidupan….”