Tempat Ngopi Tak Selamanya di Kota-kota

Kehadiran tempat-tempat nongkrong, terutama untuk ngopi dan bersantai ria, tampak sedang bersemarak di NTT. Wilayah-wilayah perkotaan menjadi ruang paling empuk dalam penjalanan bisnis tersebut. Hal ini bergandengan erat dengan kebiasaan hidup masyarakatnya yang memang telah menjadikan aktivitas kongkow sebagai bagian dari gaya hidup. Dandanan-dandanan tempat itupun dibuat semenarik mungkin dengan variasi gambar, ilustrasi ataupun warna-warni lampu.

Namun, geliat usaha ekonomi kreatif tersebut tak hanya menjadi hegemoni para pelaku bisnis di kota-kota. Kreativitas yang sama juga muncul di daerah-daerah pedesaan meskipun dalam skala yang lebih kecil dan sederhana. Hal ini saya saksikan ketika sedang melakukan sebuah perjalanan dari Maumere ke Larantuka, Flores Timur, pada Sabtu, 05 Mei 2018.

Perjalanan yang lumayan panjang membuat saya harus singgah sejenak guna melepas lelah. Tepatnya di ruas jalan negara Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang. Saya mencari-cari tempat yang nyaman dan tentu tidak ribet untuk menikmati secangkir kopi. Mata saya kemudian tertuju pada sebuah kios kecil yang pada bagian depannya jelas-jelas terpampang tulisan “Sedia Mie Telur dan Kopi”. Pikiran saya mengatakan bahwa ini merupakan singgahan yang tepat lantaran selama ini saya sudah sering masuk ke warung atau kafe-kafe yang terlalu formal. Apalagi tempat ngopi tadi terletak di beranda kios sehingga saya tentu dapat menikmati udara bebas beserta hamparan persawahan Boru.

Seorang anak muda menyapa saya dengan ramah. Dia lalu menanyakan perihal persinggahan saya dan langsung saya katakan bahwa saya hendak memesan segelas kopi. “Tunggu sebentar, kaka,” dia membalas dan segera membikinkan kopi pesanan saya. Lima menit kemudian, kopi tersedia juga di atas sebuah meja kayu kecil. Awalnya, saya lebih banyak diam dan berfokus pada diri sendiri. Saya memang benar-benar capek dan barangkali terpekur sendiri jadi hal yang baik untuk mengumpulkan kembali amunisi tenaga sebelum meneruskan perjalanan.

Mungkin karena melihat raut wajah saya yang lesuh, pemuda tadi lantas bertanya kepada saya bahwa apakah saya ingin pergi ke kota Larantuka. Saya mengangguk dan dia langsung memberikan informasi bahwa jarak Boru ke Larantuka tidak terlalu jauh dibandingkan Maumere ke Boru. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya atas informasi tersebut dan dari situlah percakapan kami mengalir panjang. Terutama mengenai usahanya tersebut.

Hendrikus Lamen Liwu putus kuliah dari Universitas Widya Mandiri Kupang. Dia berhenti karena kemauannya sendiri meskipun kedua orang tuanya masih sanggup membiayai. “Saya memang tidak mau sekolah saja. Saya tidak punya niat,” tuturnya jujur. Meskipun begitu, dia lalu berpikir untuk melakukan suatu aktivitas kewirausahaan supaya dapat bertahan hidup. Maka, berbekal modal kedua orang tuanya, Liwu pun mulai merintis bisnis kios. Luasnya kurang lebih 3 x 4 meter dan terletak di bagian luar kompleks kantor dan toko di wilayah Boru pusat. Bila Anda datang dari arah Maumere, kios Liwu berada di tepi jalan sebelah kanan setelah area perkompleksan tadi. Di sampingnya terbentang luas sawah dan jejeran pepohanan hijau.

Liwu telah empat tahun menjalankan usahanya tadi dan kesehariannya adalah menjaga kios tersebut. “Tapi kalau musim kebun, saya pasti urus kebun,” tambahnya. Liwu melihat adanya prospek yang baik dari kiosnya itu. Pelanggan-pelanggannya kebanyakan anak muda dan masyarakat umum yang baru pulang dari aktivitas berkebun mereka. Kondisi tersebut membuatnya kepikiran untuk menciptakan suatu tempat nongkrong bagi mereka. Ide untuk menyediakan kopi akhirnya terbersit juga dan telah berjalan empat bulan. Tak hanya kopi saja, tapi juga mie telur. Liwu tak mau membikin yang besar-besar, disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan masyarakat sekitar.

“Saya rasa yang begini sudah pas sekali. Intinya, orang bisa singgah dan duduk santai-santai”, begitulah ujar pria yang merupakan warga asli Boru itu.

Meskipun baru masa-masa awal melakukan terobosan semacam itu, Liwu menuturkan, hampir setiap hari selalu saja ada orang yang singgah untuk memesan kopi atau mie. “Kalau orang-orang di sini, biasanya sore hari baru datang ngopi di sini,” pungkasnya. Pada momen prosesi Semana Santa beberapa waktu lalu, Liwu untung besar. Kiosnya menjadi tempat persinggahan banyak peziarah baik pada waktu pergi maupun pulang dari Larantuka.

Yang jelas, kisah Liwu adalah satu dari sekian banyak bentuk usaha-usaha ekonomi kreatif yang bertumbuhkembang di kalangan masyarakat pedesaan. Liwu juga ingin menunjukkan bahwa tempat-tempat nongkrong itu tak perlu banyak kemewahan. Intinya adalah bagaimana tempat tersebut memberikan kenyamanan bagi setiap pengunjungnya. Atau, mungkin lebih daripada itu, jadi tempat orang bertemu dan bisa bertukar cerita satu sama lain. Saya membayar harga kopi dan pamit melanjutkan perjalanan.

*Pertama kali terbit di Tabloid EKORA NTT Edisi 21