Menyambut MEA:

Menampik Ragu, Menegarkan Asa.

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), rangkaian kata yang telah berumur lebih dari sepuluh Desember ini kerap diserukan dalam berbagai kesempatan, mulai dari acara pemerintahan, hari jadi perusahaan, bahkan telah ditanamkan sejak dini di dunia pendidikan. Merupakan suatu kondisi dimana semua penggerak ekonomi dari berbagai sektor harus memasuki perhelatan yang mewajibkan persaingan, setidaknya, itu yang kita percaya tentang definisi MEA.


Dengan terbukanya gerbang perdagangan dan jasa ASEAN, menandakan sebua era baru diamana penghuni asia tenggara tidak lagi larut dalam perekonomian negaranya sendiri, bahkan arus ekspor-impor segala jenis produk akan menjadi hal yang terlalu klise pada saat itu. Lalu bagaimana dengan ketenagakerjaan, era itu akan dimulai dengan benyaknya bursa jabatan tanpa baris persyaratan yang mengharuskan calon pekerjanya adalah warga negara Indonesia.

Memang, hingga saat ini baru 6 negara yang berkomitmen untuk merealisasi MEA, namun disinilah keunggulan himpunan negara-negara non-diktator, tidak ada paksaan bagi sisa anggota ASEAN untuk tetap ikut. Beruntung bagi kita, Indonesia adalah salah satu dari negara yang berkomitmen penuh untuk mendorong setiap individu penduduknya dalam menyambut MEA. Tak terkecuali untuk PT Perkebuanan Nusantara X, perusahaan yang baru saja menemukan induknya ini (PT Perkebunan Nusantara III Persero) akan menemani ribuan perusahaan berlabel Made-in-Indonesia lainnya untuk bersaing lebih seru di perekonomian ASEAN.

Dalam mempersiapkan tenaga kerjanya untuk dapat bersaing ditengah serbuan tenaga kerja asing, PTPN X sebenarnya telah mempersiapkan diri jauh hari sebelum deadline yang dipatok pada akhir 2015. Terbukti, pada tahun-tahun terakhir PTPN X getol melengkapi segala jenis sertifikasi yang memang sudah seharusnya dikantongi oleh badan perusahaan maupun tenaga kerjanya.

Lalu, mampukah tenaga kerja dan pengampu jabatan di PTPN X bersaing dengan tenaga kerja asing di tanah kelahiran sendiri?. Faktanya, SDM di perusahaan ini bukan pelaku ekonomi kreatif yang bisa menciptakan pasar dengan memutarbalikkan fakta bahwa yang mainstream adalah yang konvensional, bahkan sebagian besar dari mereka adalah tenaga kerja yang cenderung mengarah pada pekerjaan keahlian, yang artinya, pekerjaan itu dapat dengan mudah ditandingi oleh tenaga ahli impor, jawabannya tetap, Pasti Mampu. Jalur pertukaran tenaga kerja memang akan terbuka selebar-lebarnya, persaingan dapat dipastikan akan lebih ketat, tapi tentu saja tetap ada aturan mainnya.

Pemerintahan Indonesia, begitu juga pemerintahan negara ASEAN lainnya pada era MEA, pasti akan mematok standar sertifikasi dan ijin praktek profesi yang bertaraf nasional, setiap tenaga kerja asing yang akan mengadu nasib di Indonesia harus berjibaku dengan segala ujian lokal yang dibutuhkan untuk ikut bertanding. Memang, mereka mungkin telah memiliki setumpuk setifikasi yang bisa disetarakan, namun apakah pemerintah akan menerimanya begitu saja? Tidakkah dengan demikian nilai jual sertifikasi lokal akan direndahkan?, ini yang menguatkan bahwa mereka pasti akan tetap diuji sebelum tanding. Ditambah lagi, selain menguasai bahasa inggris, mereka harus menguasai bahasa lokal, dengan demikian, garis start kedua kontingen tenaga kerja tersebut cukup jauh berbeda, SDM PTPN X bisa dibilang 1 lap lebih unggul dari calon tenaga kerja impor.

Lalu mengenai paradigma, sudah wajar cara berpikir kita mengatakan bahwa tenaga kerja asing memiliki kompetensi yang lebih mumpuni dibanding tenaga kerja lokal, tenaga kerja asing terlihat lebih canggih dalam menyelesaikan masalah, tenaga kerja asing seakan tim elit dan kita proletarian, pemikiran ini begitu mengakar, dan mungkin tak jauh berbeda dengan para pengampu jabatan di PTPN X, mungkin mereka menganggap wajar posisinya terancam dengan invasi tenaga kerja asing, mungkin pula mereka merelakan karyawannya tergantikan dengan pencari nafkah asing. Mereka, untuk dapat bersaing, harus mampu menampik anggapan itu.

Sudut pandang bisa menjadi senjata pemusnah masal, dengan melimitasi pola pikir karyawan dan membiarkan mereka dengan mudah mengibarkan bendera putih kepada tenaga kerja asing, para pengampu jabatan PTPN X hanya akan mendapat SDM yang bermental baja, kokoh saat akan dibengkokkan, tapi mudah patah saat diadu dengan titik kelemahan. PTPN X memerlukan SDM yang mampu mengikuti aturan main baru, aturan main yang mungkin akan mereka anggap terlalu kejam untuk diikuti.

PTPN X harus mampu menjadi pengembang SDM, bila saat ini taraf pengelolaan SDM-nya masih sebatas Human Resource Management (HRM), maka untuk dapat bersaing di MEA, harus ditingkatkan ke Human Capital Management (HCM), sebuah level yang akan menjawab kepastian kontribusi karyawan didalam perusahaan. Pada HRM proses akan terhenti pada jargon “Right Man on The Right Place” yaitu ditempatkannya karyawan yang tepat pada posisi yang tepat, namun dengan meningkatkan pengelolaan SDM ke level HCM, karyawan tidak hanya berhenti pada posisi yang tepat, namun dikembangkan untuk bisa menjadi successor ke posisi yang lebih tinggi.

Arus legasi karyawan harus dibuat ideal, ini dapat pula menjawab krisis successor pada jabatan-jabatan penting yang terjadi di PTPN X saat ini. Bila successor tidak matang dipersiapkan, penguasaan pekerjaan akan sangat terbatas, dengan demikian successor tersebut akan sangat mudah dipatahkan semangatnya hanya dengan tiga suku kata, MEA. Dengan memperbaiki proses penyiapan legasi, PTPN X tidak hanya menyelamatkan stok pejabat, melainkan memperkuat SDM-nya dalam memberikan kontribusi terbaik pada perusahaan. Dengan menyiapkan successor pula, SDM PTPN X akan merasa sangat diperhatikan, baik pada aspek perjalanan karir strukturalnya maupun pada aspek sosial.

Saat memasuki MEA, meskipun PTPN X telah mempersenjatai diri, dapat dipastikan bahwa manajemen PTPN X akan tetap menemukan SDM yang kurang berkompetensi pada bidangnya, hal ini wajar terjadi saat secara tiba-tiba sebuah perusahaan harus dipaksa beradu dengan arus ekonomi serumpun dan menuntut SDM yang selalu siap serta sangat menguasai pekerjaannya, suatu hal yang mungkin harus dikejar oleh manajemen untuk melanjutkan asesmen-asesmen pada setiap SDM-nya untuk menemukan kekurangan kompetensi. Saat memasuki MEA pula, pada tahun-tahun awal, PTPN X mungkin akan merasakan naik turunya stabilitas ekonomi, namun setelah itu MEA akan lebih memberi banyak manfaat, hal ini berkaca pada penerapan ekonomi bersama dan persamaan mata uang Euro di negara-negara Uni Eropa.

Selain memperhatikan kompetensi SDM, PTPN X dalam mempersiapkan diri dalam menyambut MEA harus memiliki roadmap jangka panjang pengembangan pengelolaan SDM, dengan demikian bila suatu hari nanti perekonomian ASEAN semakin maju, PTPN X sudah memiliki struktur organisasi yang kokoh, SDM-nya pun akan lebih merasakan kesinambungan dari program pengelolaan tenaga kerja. Bila organisasi PTPN X telah memiliki awak yang prima, penyelarasan visi dengan kegiatan teknis pekerjaan akan lebih mudah.

Untuk mendapatkan SDM yang selalu bersemangat positif dan tidak canggung menyambut MEA, setiap SDM harus merasa memiliki dua momen penting semasa karirnya di PTPN X, momen pertama adalah hari dimana SDM tersebut diterima bekerja, dan momen kedua adalah hari dimana SDM tersebut menemukan alasan mengapa bekerja di PTPN X. Manajemen, dalam kapasitasnya sebagai pengembang SDM harus mampu memberikan platform kontribusi untuk setiap SDM-nya, dengan demikian SDM akan selalu bekerja dalam lingkup organisasi, berpikir layaknya bagian dari organisasi, dan bertindak dalam rencana organisasi.

Dengan demikian, masihkah PT Perkebunan Nusantara X ragu dalam menyambut MEA? Masihkan invasi tenaga asing menjadi mimpi buruk?, dengan menegarkan asa, semua pertanyaan skeptis tersebut harusnya menjadi pasokan energi untuk sebuah pembuktian, pembuktian yang berteriak lantang bahwa PT Perkebunan Nusantara X adalah perusahaan dengan harga banderol internasional.

- Erick Karya -

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.