Mencoba Kopi Manual Brew di Starbucks Experience Bar

Starbucks selama ini memang dikenal sebagai kedai kopi waralaba yang heits di kalangan milenial hipster penyuka minuman manis berkalori tinggi. #Uhuk. Makanya, nggak heran kalau teman-teman seper-kopi-anku mengira aku sudah murtad dari agama kopi leluhur karena hampir setiap hari ngopi di Starbucks. Bukan, bukannya aku mencibir para penikmat Caramel Machiato, tapi kalian perlu tahu bahwa sekarang Starbucks juga punya pilihan metode seduh selain espresso-based: Manual Brew!

kopi manual brew starbucks experience bar

Starbucks Experience Bar Menghadirkan Kopi Manual Brew!

Sekali lagi, aku nggak bilang kalau pilihan menu kopi espresso-based itu nggak enak kurang appealing di kalangan penikmat kopi yang lebih tua serius. Masih ada Americano untuk yang suka ‘pekat’ atau Traditional Drip (Fresh Brewed) Coffee untuk yang suka ringan dan ‘fruity’ -> bisa di-custom jadi Misto kalau lagi mood dengan tambahan dairy. Untuk Café Latte, sebaiknya kenali dulu barista yang benar-benar bisa nge-steam susu dengan benar, atau kamu akan mendapati latte-mu berubah jadi cappuccino-by-accident.

Selain Americano, Fresh Brewed, atau Latte, kalian akan dihadapkan dengan pilihan yang ‘manis-manis’. Pilihan yang tiga ini pun nggak bisa terlalu diutak-atik lagi. Karena penggunaan mesin Espresso La Marzocco Mastrena sudah mengunci jenis biji kopi yang akan dipakai, mulai dari origin hingga kematangan roast-nya. Itulah mengapa banyak penggemar kopi mencibir gerai kopi asal Seattle ini hanya jualan gengsi, bukan jualan kopi sungguhan.

Starbucks Experience Bar menjawab tantangan pecinta kopi.

Bisa dibilang Starbucks Experience Bar ini merupakan proyek eksperimen Starbucks untuk menggaet penikmat kopi yang lebih serius — yang selama ini nggak menganggap Starbucks sebagai coffee shop sungguhan. Di Indonesia, Starbucks Experience Bar baru tersedia di 4 kota besar yang memiliki budaya kopi yang kuat. Jakarta (of course!), Bandung, Medan dan Yogyakarta.

Konsep Starbucks Experience Bar bukan hanya menyajikan pilihan metode seduh manual brew yang terkenal eksentrik itu saja, tetapi juga untuk menjalin keakraban di antara penikmat kopi serius dengan para barista yang levelnya sudah Coffee Master (Black Appron). Karena menyeduh kopi dengan metode Manual Brew ini membutuhkan waktu yang cukup lama (sekitar 4–6 menit), pelanggan punya banyak waktu untuk ngobrol tentang kopi sambil melihat langsung kopi pilihannya diracik dan diseduh oleh ahlinya.

kopi manual brew starbucks experience bar

Berbagai Pilihan Biji Kopi Single Origin

Meski dulu Starbucks juga menyediakan berbagai pilihan biji kopi melalui menu Fresh Brewed Coffee, tapi konsumen tidak bisa menentukan biji kopi mana yang dia mau, karena Starbucks selalu merotasi pilihan tersebut setiap harinya (karena proses seduhnya secara massal menggunakan mesin drip).

Berbagai pilihan biji kopi untuk Manual Brew juga masih menghadirkan nama-nama yang sudah familiar seperti Kenya, Guatemala, Verona, Sumatra dan House Blend. Beberapa seasonal coffee beans akan muncul pada saat tertentu dalam jumlah terbatas seperti Kati-kati dan Casi Cielo. Meski mencantumkan nama tempat asal, sebenarnya pilihan biji kopi ini belum benar-benar Single Origin. Contohnya saja, untuk Sumatra, biji kopinya masih menggabungkan berbagai hasil biji kopi yang dibeli Starbucks dari daerah-daerah di Sumatra, yaitu: Sidikalang, Simalungun, Aceh Gayo, Mandheling, dll.

Di video di bawah ini, aku mencoba biji kopi dari Kenya dengan metode seduh Chemex. Karakter biji kopi arabika asal Kenya ini khas rasa buah grapefruit dan black currant, jadi sangat cocok kalau dicampur dengan satu dua blok es batu. Body-nya ringan (tapi masih lebih kuat dibandingkan pour over), karakter acid-nya menciptakan after taste yang manis.

Berbagai Pilihan Metode Seduh (Manual Brew)

Setelah memilih biji kopi, pelanggan juga dipersilahkan untuk memilih metode manual brew yang diinginkan. Di Starbucks Experience Bar Indonesia pada umumnya tersedia pilihan Pour Over, Chemex dan French Press. Kalau kamu bingung mau milih yang mana, jangan ragu untuk konsul ke Baristanya langsung, tanyakan jenis biji kopi ‘ini’ paling enak pakai metode manual brew yang mana?

Bila kamu adalah seorang veteran atau penganut agama kopi seperti aku, tentu kamu sudah tahu apa yang kamu ingin dapatkan dari setiap jenis pilihan biji kopi. Starbucks Experience Bar memberikan kita kebebasan untuk mengkustomisasi kopi pilihan kita dengan metode seduh yang kita mau. Bahkan, bila kamu cukup dekat dengan baristanya, kamu bisa belajar menyeduh sendiri kopimu, seperti yang biasa aku lakukan.

Baca juga > 7 Tips Rahasia Ngopi Hemat di Starbucks

kopi manual brew starbucks experience bar

Harga?

Nah, ini nih yang sering diperkarakan para penganut agama kopi leluhur. Apa lagi kalau kamu pernah nonton film Filosofi Kopi yang diperankan oleh Chico Jericho dan Rio Dewanto. Kopi premium ala cafe hasil racikan barista yang udah belajar kopi sampai keliling dunia, ternyata bisa kalah rasanya dengan kopi tubruk seduhan mbah petani kopi di kampung-kampung yang harga jualnya cuma DUA RIBU RUPIAH!

Pada dasarnya, di kota-kota besar, standar harga satu gelas seduhan kopi di kedai kopi indie saat ini sekitar Rp.15–30 ribu rupiah. Harga termurah biasanya merupakan biji kopi campuran lokal dengan metode tubruk, yang termahal biasanya biji kopi single origin impor dengan metode seduh yang lebih sophisticated (seperti siphon). Bagaimana dengan Starbucks Experience Bar? Hampir sama!

Starbucks Experience Bar menyajikan kopi dengan metode seduh manual brew dengan range harga mulai dari Rp.24 ribu untuk Pour Over hingga Rp.29 ribu untuk Chemex dan Coffee Press. Menurutku, harganya masih pantas dan layak dengan pengalaman yang bisa kamu dapatkan dari secangkir kopi nikmat.


Originally published at Evan Stinger.