Ngenes adalah saat kamu mencintai seseorang namun ternyata bertepuk sebelah tangan. Sakit sih, meski nggak berdarah. Tapi sebenarnya ada yang lebih parah, kok!

Ngenes level tertinggi adalah saat kamu nge-pitch ide-ide matang nan jenius ke temanmu, lalu dia cuma tersenyum dan menjawab: “Nanti kalau elo udah sukses, kabari gue ya, bro!”

Atau lebih epic lagi, saat akhirnya kamu dengan berdarah-darah baru meletakkan pondasi usaha barumu: “Wah, udah jadi enterpreneur nih! Boleh dong minta promo gratisannya…”

Well, I’m done with it.

To be frank, aku udah berkali-kali jatuh bangun (lebih banyak jatuhnya!) merintis berbagai macam usaha. Yes, to hell and back. Kata-kata seperti di atas tidak pernah berkurang menghujaniku.

Aku seorang introvert. A social introvert, to be specific. I may appear sociable for sometimes, but when my social battery runs out, I need to unplug and recharge. Aku tidak punya banyak circle pertemanan. Tapi setiap orang yang kukenal akan aku anggap penting. Tidak ada satu manusia pun yang bisa berhasil seorang diri. A self-made man is a myth!

Bukan rahasia lagi, kita bisa punya seribu teman untuk bersenang-senang, having fun, throwing party or even wrecking another parties, tapi untuk sesuatu yang produktif… Well, now tell me if it’s not sound familiar to you!

“Oh, God! Tell us the reason (why) the youth is wasted on the young?” -Adam Levin

Personally, I pity this millennials and this so called Gen-Z who tend to waste (almost) all of their energy ‘just for fun’. Well, kalau bokap nyokapnya memang tajir melintir sih seterah. Nah, ini malah banyak yang cuma jadi korban konsumerisme akibat terpapar influencer di berbagai media sosial.

Nanti Kalo Elo Udah Sukses

Sama seperti tadi, influencer untuk gaya hidup hedon, buanyaakkk! Untuk yang produktif dan membangun? Kamu bisa coba search di timeline-mu sekarang! Banyakan yang mana?

Sudah saatnya kita menyortir pergaulan kita, menyortir timeline kita dan memprioritaskan feeds yang produktif daripada yang konsumtif.

Kembali ke poin yang tadi: A self-made man is a myth.

Kamu nggak bakalan repot-repot ngedatangin teman-temanmu dan menumpahkan isi otakmu padanya kalau kamu memang bisa mewujudkan ide itu seorang diri. Kamu juga nggak bakalan berpikir untuk mengajak orang lain untuk menjadi co-founder dan membangun project or start-up or whatever it is, kalau kamu tidak membutuhkan bantuan mereka.

Meski begitu, kita perlu melihat segala sesuatu dari sudut yang berimbang. Apakah semua ide yang kita miliki itu benar-benar bagus? Okelah, idemu brilliant, lalu apakah idemu applicable? Apakah idemu bisa menghasilkan profit yang cukup sustainable? Apakah dan seribu apakah lagi siap menggempurmu.

Di sinilah manfaat pertama dari memiliki teman yang produktif, kamu bisa melakukan brainstorming dengan orang lain yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Brainstorming akan mematangkan ide-ide tersebut, menemukan celah yang perlu diperbaiki dan peluang-peluang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan olehmu.

Meski saat ini keberadaan teman-teman yang produktif ini mungkin masih bisa dihitung jari — a.k.a sangat terbatas — kamu bisa menjadi teman yang produktif untuk orang lain juga.

Lihatlah teman-temanmu yang sedang berjuang, mungkin ada yang baru memulai usaha jasa cuci/laundry sneakers, kamu bisa membantunya melalui promosi lewat sosial media, lewat event-event kampus atau menjadi salah satu pelanggan setianya.

Bila ada temanmu yang baru mulai blogging, dukunglah dengan menjadi pembaca setia, berikan masukan yang membangun, bantu share di media sosial, atau mungkin kamu juga bisa ikut blogging bersamanya.

Bila ada temanmu yang memulai usaha yang mungkin sangat konvensional, berjualan pisang goreng misalnya, dukunglah dia dengan kemampuanmu yang mungkin memahami bahwa ada banyak peluang untuk mengembangkan usaha temanmu dengan memberikan value pada produknya. Kamu bisa membantunya mendesain produknya dengan model atau varian rasa pisang goreng yang unik, desain bungkus untuk take-away yang bisa membuat orang lain penasaran dan banyak lagi.

Menjadi teman yang produktif tidak harus selalu dengan mengeluarkan uangmu saja, itu namanya angel investor, (yang menurutku) tidak berbeda jauh dengan berjudi. Bicara soal investasi, mungkin kamu tidak asing dengan nama Warren Buffet. Beliau adalah seorang investor ternama yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia ini. Tapi perlu kamu tahu, dia bukan menjadi kaya hanya dengan menginvestasikan uangnya lalu menunggu.

Warren Buffet berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang sudah dipelajarinya baik-baik. Beliau berinvestasi dengan jumlah yang cukup untuk dia bisa terlibat dalam memutuskan kebijakan-kebijakan strategis untuk pengembangan perusahaan tersebut. Jadi dia juga menggunakan pengetahuannya akan pasar, inovasi produk, pemasaran dan peluang-peluang lainnya untuk memastikan perusahaan tempat dia menginvestasikan uangnya menjadi bertumbuh dan berhasil.

Jadi, bila saat ini kalian masih memilih menjadi teman hanya untuk ‘hepi-hepi’ saja, aku rasa sudah saatnya kita saling paham mengapa kita akan jarang berinteraksi lagi.

“If you are absent during my struggle, don’t expect to be present during my success.” -Will Smith

Memelihara hubungan pertemanan itu membutuhkan pengorbanan, baik secara waktu maupun materi. Untuk apa kita terus mempertahankan pengeluaran yang tidak produktif? Entah kamu menyadarinya atau tidak, semakin usia kita bertambah, teman kita juga semakin sedikit. Sudah saatnya untuk mulai menyortir teman-teman yang sesungguhnya dan menyingkirkan toxic people yang bukan hanya tidak bermanfaat namun juga menghambat langkahmu.

Caranya mudah, tinggal siapkan beberapa ide-ide terbaikmu yang ingin kamu kerjakan, hubungi teman-temanmu dan ajak bertemu secara pribadi. Lihat tanggapan mereka terhadap ide-idemu. Bila ternyata pembicaraan kalian nyambung, pitching berubah menjadi brainstorming dan kamu pulang dengan membawa idemu yang menjadi lebih matang dan berbentuk, maka dia adalah teman yang produktif.

Tapi kalau ternyata temanmu itu menanggapi dengan kalimat yang tidak berbeda jauh dengan judul tulisanku kali ini, kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan.


Originally published at Evan Stinger.