OVO dan Evolusi Fintech Pembayaran Non-Tunai Berbasis Gaya Hidup

Fintech atau Financial Technology saat ini telah menjadi ladang subur yang menjadi incaran para pemain besar ekonomi di dunia, termasuk di Indonesia. Kamu juga pasti udah pernah dengar istilah ‘Fintech’ ini kan? Fintech sebetulnya masih sangat luas, tapi tampaknya para pemain besar di Indonesia masih mengerubungi kue teknologi finansial untuk pembayaran non-tunai. Kali ini aku ingin mengulas (review) tentang salah satu produk fintech besutan Lippo Group, yaitu OVO.

OVO, Pembayaran Non-Tunai Berbasis Gaya Hidup dari Lippo

Kalian tentunya sudah pernah mendengar nama Lippo Group kan? Seiring luasnya perkembangan bisnis raksasa properti dan retail ini, nggak heran kalau sekarang mereka melirik teknologi finansial yang bisa diintegrasikan dengan seluruh jaringan bisnis mereka. Mungkin tidak semua orang tahu, Lippo pernah menjajal bisnis finansial, bahkan bisnis tersebut merupakan bisnis paling pertama dari perusahaan keluarga Riady ini. Bank Lippo namanya, sayangnya saat itu prospeknya tidak begitu cerah, Bank ini pun diakuisisi oleh group CIMB dari Malaysia.

Lalu kenapa sekarang Lippo berani kembali mencelupkan kakinya di ranah finansial? Karena saat ini mereka sudah memiliki established network dengan seluruh jaringan properti, consumer services dan beragam gerai retail. Kesan monopoli memang sudah sangat kental, tapi namanya juga bisnis, nggak beda jauh dengan medan perang!

OVO, sebagai Fintech yang mendukung gerakan ‘Cashless Society

Terlepas dari hidden agendas-nya Lippo, sejatinya OVO merupakan salah satu solusi nyata untuk memudahkan pembayaran non-tunai (cashless) dalam kehidupan sehari-hari. Setiap harinya kita mengeluarkan uang untuk berbagai kebutuhan maupun gaya hidup. Aku yakin kalian sudah ngerti kan, kalau kebutuhan dan gaya hidup merupakan sesuatu yang berbeda?

Artinya, OVO memang menyasar golongan masyarakat ekonomi menengah ke atas, yang memang sudah memiliki gaya hidup dengan nominal daily spending yang cukup banyak dan rutin (dan nggak jauh-jauh dari ranah bisnis Lippo). Jadi, bila kamu sehari-hari beraktivitas nggak jauh-jauh dari Apartemen, Office Towers, Plaza atau Mal-nya Lippo Group, mungkin tinggal di sana atau ngantor atau nge-gym atau sekedar suka hang-out di sana, maka OVO merupakan aplikasi pembayaran yang wajib kamu miliki.

Bukan cuma karena benefitnya, tapi juga karena sering kali Lippo menerapkan strategi ‘shaping’ yang agak memaksa. Melalui tawaran-tawaran cashback di banyak merchant-nya hingga pembayaran parkir yang eksklusif di aplikasi OVO.

OVO Evolusi Fintech Pembayaran Non Tunai

Benefits vs. Gimmicks dari OVO

Sebagai pengguna rutin OVO sejak awal kemunculannya, di sini aku ingin memberi pandangan yang jujur dari segi pengguna (konsumen). Disclaimer: Artikel ini bukan paid content.

Benefits dari OVO

Seperti yang tadi aku jelaskan di awal, kenapa Lippo berani nyemplung kembali ke ranah finansial — dan kali ini dengan teknologi finansial (fintech). Jaringan bisnis Lippo telah tersebar luas dan terintegrasi untuk saling melengkapi, memudahkan implementasi fintech seperti OVO untuk berkembang.

Keseharianku memang nggak jauh-jauh dari Lippo, mulai dari gym, belanja, makan-minum hingga nonton. Kayaknya cuma Maxx Coffee yang cocok di aku, bukannya aku fanboy Starbucks, tapi memang rasa dan hospitality-nya masih jauh lah.

Bayar parkir mudah dengan OVO

Salah satu benefit terbesar selama aku menggunakan OVO ada di pengeluaran rutin seperti bayar parkir dan makan di luar. Setiap hari aku dan partner selalu mengorbit di seputar gedung-gedung milik Lippo, di mana seluruh fasilitas parkirnya dikelola oleh Sky Parking. Kuakui, awalnya aku buka akun OVO karena tawaran promo parkirnya yang cuma Rp.1,-/seharian itu.

Pengeluaran parkir ini mungkin sepele menurut beberapa orang, tapi pengeluaran parkirku biasanya sekitar Rp.30–50K/hari, kalau dihitung-hitung, sebulan ya sejutaan. Kalau setahun?

Meski setelah dua bulan promo itu berakhir (sekarang parkir hanya cashback 30%), tetap saja penggunaan aplikasi OVO menghemat pos pengeluaran yang satu ini. Bukan cuma hemat sih, tapi juga praktis, sehingga nggak ada lagi drama kehabisan uang cash atau uang kecil di pos pembayaran parkir. Di beberapa gedung Lippo juga sudah menerapkan pintu keluar parkir tanpa kasir, tinggal scan langsung jalan.

Dapat Cashback Dari banyak Resto dan Merchant dengan OVO

Kesibukan dan tuntutan mobilitas membuat aku dan partner memilih gaya hidup yang ‘kurang sehat’, kami lebih sering makan di luar. Ini gaya hidup yang kurang sehat untuk tubuh maupun kantong, hehehe. Cashback mulai dari 10–30% di sana dan di sini bisa dibilang easy-free money untuk kami. Bukan cuma untuk makan, tapi juga belanja di Dept. Store dan butik-butik lainnya.

OVO solusi fintech budget dan gaya hidup

Fasilitas Finansial lain dari OVO

OVO bukan cuma untuk bayar-bayar. OVO mencoba untuk memberikan nilai lebih dari sekedar aplikasi pembayaran non tunai. Ada fasilitas pengatur Budget yang terintegrasi kategori pengeluaranmu secara otomatis, ada juga fasilitas tabungan semi-deposito yang fleksibel dengan bunga 7% per tahun. OVO juga berfungsi layaknya wallet online yang memungkinkan sesama penggunanya untuk saling transfer dana. Kamu juga bisa melakukan transfer ke rekening bank nasional lain langsung dari OVO (Saldo OVO menggunakan virtual account dari NOBU Bank).

Gimmicks dan kekurangan pada OVO

Tak ada gading yang tak retak, tak ada tuyul yang tak botak. #ehgimana?

OVO memiliki bukan hanya memiliki premis yang bagus, tapi juga sumber daya dan jaringan yang saling sinergi. Sayangnya, OVO masih jauh dari sempurna.

Kendala kualitas server atau network pada OVO

Banyak pengguna OVO yang mengeluh karena kondisi server OVO yang sering ngadat di saat di mana dia paling dibutuhkan. Dalam proses pembayaran parkir, seharusnya OVO membawa dampak yang lebih positif dengan menawarkan kemudahan dan efisiensi waktu, tapi sering kali malah menjadi biang kerok penyebab kemacetan di portal keluar parkir. Kenapa? Mulai dari kendala jaringan yang bikin proses scan karcis parkir jadi super lelet, sampai ke orang-orang aneh yang sering kali kelamaan keluar (melebihi batas 20 menit setelah bayar lewat aplikasi).

Masalah serupa juga sering terjadi ketika ingin bayar di resto atau toko retail tertentu, alih-alih dapat cashback, akhirnya terpaksa bayar tunai karena nggak enak bikin orang lain ikut ngantri. Nggak masalah sih kalau lagi bawa duit tunai cukup, tapi gimana kalau lagi nggak ready? Boro-boro cashless society kalau begini!

Cashback dari OVO BUKAN Rupiah Sungguhan!

Konsep ‘cashback’ pada OVO ini jelas-jelas sebuah gimmick. Mungkin banyak di antara kalian yang tidak menyangkanya. Di lain pihak, OVO juga cerdas, mereka tetap mencantumkan keterangan dengan ukuran font yang kecil dan tidak signifikan: “cashback dalam bentuk OVO points”. Padahal seharusnya, bila kita membayar dengan Rupiah, maka cashback (sebagaimana namanya) harusnya diterima dalam bentuk Rupiah yang kita bayarkan itu juga.

Memangnya apa bedanya Rupiah dengan Rupiah dari hasil cashback OVO? Rupiah dari Cashback OVO bukanlah Rupiah, melainkan Points yang ‘dilabeli’ rupiah. Jadi OVO Points ini adalah ‘rupiah’ yang hanya bisa dipakai terbatas pada merchant yang menerima pembayaran OVO.

Satu alasan lain kenapa aku juga kesal dengan sistem cashback yang shady ini, karena OVO Points tadi nggak bisa dipakai untuk bayar parkir! WTF!

Penggunaan OVO bentrok dengan Loyalty Program di berbagai merchant.

Sebagai milenial yang nggak begitu suka eksplor melulu, aku cenderung memilih untuk jadi regular customer dari beberapa merchant tertentu. Adanya loyalty program dari merchant-merchant tentunya bukan hal baru dan telah menjadi praktik yang umum. Masalahnya, sering kali sistem pembayaran OVO bentrok dengan loyalty program pada merchant tertentu.

Aku kasih contoh konkret deh, biar nggak kecele juga kayak pengalamanku. What’s your fav Sushi restaurant? I bet we will have a common ground here. Sushi Tei punya loyalty program dengan member card-nya yang mengakumulasi poin dari nilai belanja kita. Tapi, kalau kamu bayar pakai OVO, kamu nggak bisa dapat poin di member card-mu! Somplak nggak, tuh?!

OVO fintech dari lippo dengan deals dan promo

Fasilitas Budgeting, Deals Promo dan Investasi yang sekedar pemanis.

Sistem Budgeting yang diterapkan oleh OVO sebenarnya menarik, karena sudah terintegrasi dengan jenis-jenis pengeluarannya. Misalnya, kamu sudah menentukan budget-mu untuk makan di luar Rp.1juta/bulan dan budget untuk transportasi Rp.500ribu. Kamu nggak perlu repot-repot mengelompokkan pengeluaranmu setiap hari, karena setiap kali terjadi transaksi, OVO akan otomatis memasukkannya ke dalam pencatatan budget-mu, yang mana akan memberi peringatan saat nilai maksimum hampir tercapai.

Loh? Bagus dong! Apa yang salah?

Ehm…

Memangnya seluruh kegiatan dalam budget-mu pasti menggunakan aplikasi OVO? Bukankah ini semacam strategi dari Lippo untuk memonopoli arus pengeluaranmu ke bisnis yang mereka kelola atau bekerja sama dengan mereka saja?

Begitu juga dengan Deals di aplikasi OVO, selain hanya menampilkan produk dari dari Lippo atau tenant yang bekerja sama dengan mereka, benefit dari promo-nya ‘b aja’. #flat #duh

Lalu pada bagian investasinya, OVO memberi penawaran yang cukup menggiurkan, 7% per tahun dan fleksibel (bebas ditarik kapan saja). Pertama kali aku melihatnya, aku langsung terpikir untuk membandingkannya dengan produk Flexi Saver dari Jenius (BTPN). Flexi Saver hanya memberikan bunga 5% p.a. untuk yang fleksibel dan max 5,75% p.a. untuk Maxi Saver (Time limited deposit).

Ternyata, OVO tidak mengelola dana investasi ini secara langsung, namun mengalihkannya ke pihak ketiga (perusahaan finansial lain), sehingga pengguna yang ingin investasi harus melewati dua tahap lagi untuk mengaktifkan program investasi ini. Pertama, mengubah jenis keanggotaan dari OVO Club ke OVO Premium, lalu mengajukan aplikasi permohonan investor dengan mencantumkan foto data diri, NPWP, dll. #ribet #duh

Kesimpulan.

Pada dasarnya, kita harus jeli dan teliti dalam memakai dan mempercayai setiap produk finansial, apapun itu bentuknya. OVO sebagai salah satu pemain besar dalam teknologi finansial pembayaran non-tunai merupakan salah satu contoh nyata dari perlunya ketelitian dalam menggunakan suatu produk fintech. Jangan menggunakan produk fintech hanya karena ikut-ikutan. Well, asal kamu tahu aja, OVO mengiming-imingi usernya rewards apabila mengajak (bahasa kerennya: invite) teman-temannya menjadi pengguna juga.

Bila kamu memang banyak dan rutin beraktivitas di lingkungan network Lippo, maka OVO akan membawa benefit lebih untukmu ketimbang kalau kamu memilih untuk tidak menggunakannya sama sekali. Namun, kalau memang kamu nggak begitu sering berada di lingkungan network Lippo… percayalah, lebih baik kamu skip aja yang satu ini. Masih banyak produk fintech lain yang bisa kamu coba.


Originally published at Evan Stinger.