Kenapa Membangun Kebiasaan Baik Itu Sangat Sulit?

Sudah tidak terhitung lagi entah berapa janji-janji dan komitmen yang aku ikrarkan pada diriku sendiri untuk membangun sebuah kebiasaan yang baik (good habit). Memulainya tidak sulit, bahkan biasanya sangat menarik dan menantang di minggu pertama. Minggu-minggu berikutnya? Mudah ditebak; menguap tanpa jejak, seperti bayangan mantan yang pergi tanpa berpamitan. Jadi, kenapa membangun kebiasaan baik itu sangat sulit?

Hampir 10 tahun sudah aku terombang-ambing di atas kapal yang menuju gelar sarjana psikologi. Meski sudah sekian kali pindah kapal dengan tujuan yang sama, sejujurnya sudah berulangkali niatku untuk menuntaskan studi ini diuji. Everybody knew, I am an acute procrastinator.

Aku tidak sedang mencari pembenaran terhadap kelalaianku. Karena aku juga percaya kalau semua orang juga melakukan prokrastinasi pada hal-hal tertentu dalam hidupnya. Aku, kamu dan mereka, menyukai hal-hal tertentu dan membenci hal-hal lainnya. Sayangnya, hal-hal yang ingin kita hindari itu justru hal-hal yang baik, sedangkan hal-hal yang kita nikmati ini… well, you know lah.

Aku bertekad untuk memulai gaya hidup yang sehat. Ini premis utamanya; aku yakin ini juga premis utama bagi sebagian besar manusia modern di abad 21 ini. Gaya hidup sehat merupakan sebuah ‘payung’, di dalamnya bernaung poin-poin yang harus dilaksanakan untuk membangun sesuatu yang layak disebut gaya hidup sehat itu sendiri. Dimulai dari yang paling mendasar: istirahat cukup, lalu bangun pagi, berolahraga rutin, makan menurut menu diet yang sehat, menjaga personal hygiene, dan tidak begadang. Mudah kan?

Memulainya bisa dibilang mudah, kamu pun bisa memulainya detik ini. Sayangnya, semua ini disebut kebiasaan atau habit bukan karena kamu mampu melakukannya secara disiplin dalam satu dua bulan ke depan. Sebuah kebiasaan adalah kegiatan-kegiatan atau tindakan yang menjadi default untukmu, seumur hidupmu, atau setidaknya sampai kamu melakukan komitmen atau terjadi sebuah peristiwa signifikan yang memaksamu mengubahnya.

Awal tahun ini, aku memutuskan untuk membangun sebuah kebiasaan, yaitu menyikat gigiku sebelum tidur. Sebelumnya aku hanya menyikat gigi di pagi hari, ini sudah menjadi kebiasaan default ku sejak kecil. Kunjungan ke dokter gigi pada bulan Januari yang lalu mengharuskanku menambal dua lubang di gerahamku. I hate it. That’s why I came into a decission to start a new habit. Brushing my teeth before going to bed.

Dua bulan telah berlalu dengan performa sekitar 65% untuk proses pembentukan kebiasaan baru ini. Menyikat gigi sebelum tidur mungkin terdengar sepele, tapi untukku yang sudah lebih dua puluh tahun tidak melakukannya, ini sebuah pergumulan. Celakanya, seminggu terakhir ini aku benar-benar absen melakukannya.

Menanam dan membentuk kebiasaan yang baik itu tidak mudah, karena di dalamnya terkandung sebuah proses kognitif yang untuk mengeksekusinya membutuhkan efforts terus menerus.

To establish a good habit, we need efforts.

Our brain hate efforts.

Our brain love rewards.

Now you see the connection, right? Itulah sebabnya banyak orang yang kesulitan membentuk kebiasaan-kebiasaan positif yang baru. Memulainya tidak begitu sulit tapi menjaga konsistensinya merupakan sebuah tantangan yang berada di tingkat yang lebih tinggi.

Beberapa di antara kalian mungkin sudah menyadarinya dan mulai menggunakan berbagai trik untuk mengakali otak kita dan membuatnya merasa mendapatkan rewards untuk efforts yang kecil-kecil. Bahkan kamu bisa menemukan apps yang bisa membantumu menetapkan milestones dan rewards untuk setiap kebiasaan baik yang kamu lakukan.

Yes, our brain love games. Menjadikan proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif yang baru sebagai sebuah permainan yang menantang dan menjanjikan rewards memang cukup membantu. Setidaknya untuk beberapa orang.

I’ve tried this so many times, and failed every single time.

So, where did I go wrong?

Mengakali otak kita dengan menganggap proses pembentukan good habit itu menyenangkan dan rewarding layaknya sebuah game adalah suatu bentuk penipuan terhadap diri kita sendiri.

Good habits never felt good, but their benefits do.

Aku membenci kegiatan menyikat gigi, baik pagi maupun malam hari. Meski demikian, aku sudah terlanjur memiliki habit untuk menyikat gigi di pagi hari. Semalas apa pun itu, sengatuk apa pun itu, di mana pun itu, aku akan tetap menyikat gigiku di pagi hari. Itu adalah good habit, aku membencinya, namun tetap melakukannya dan gain the benefits.

Aku juga membenci kebanyakan good habit yang aku miliki, seperti minum banyak air putih saat baru bangun tidur atau tidak langsung mematikan mesin mobil begitu selesai memarkirkannya. Minum air putih di pagi hari itu rasanya ‘eneg’ dan kadang bikin mau muntah, tapi tetap aku lakukan setiap hari and I gain the benefits. Tidak langsung mematikan mesin mobil begitu selesai memarkirkannya — — setidaknya 30 detik — — akan memberi waktu untuk alternator mengisi baterai dan mendinginkan mesin (extra fan). Terkadang orang risih melihatku masih berlama-lama di mobil setelah sampai tujuan, sejujurnya aku juga demikian. It’s a good habit, it never felt good but its benefit does.

Semua ini membawaku kepada sebuah kesimpulan, bahwa: mengakali otak kita untuk merasa mendapatkan rewards pada setiap milestones yang kita tetapkan untuk membangun good habit mungkin merupakan cara yang menyenangkan. Mungkin banyak juga yang berhasil establishing their good habits by tricking their brains with those apps. Tapi menurutku, good habit tidak terbentuk dengan cara demikian.

Kebiasaan baik terbentuk dari sebuah kesadaran akan manfaat baik yang ingin kita terima. Meskipun kegiatan atau tindakan itu tidak kita sukai, tapi kita sangat membutuhkan manfaatnya, maka kita akan tetap melakukannya. Maka untuk membangun kebiasaan baik, yang kita butuhkan adalah kesadaran dan pemahaman yang baik tentang manfaat atau dampak yang kita inginkan dari tindakan tersebut.

I just figured all of this, today. I might be wrong, so if you figured another (better) way than mine, let me hear from you.

If a habit is hard to establish, then it is a good habit. If it is hard to quit, then it is a bad habit.

If it’s short and has feet with curly hair, then it’s a hobbit.


Originally published at Evan Stinger.