Bila Ingin Sukses, Kamu Harus Memiliki Musuh!

Lord Voldemort, Darth Vader, Joker, Prof. James Moriarty, Sepiroth, Ramsay Bolton dan Cersei Lannister adalah beberapa tokoh antagonis yang sering membuat penikmat cerita fiksi menjadi begitu kesal, marah bahkan meraung-raung. Padahal sesungguhnya, mereka memegang peranan yang sangat penting dalam cerita-cerita yang mengisahkan tokoh-tokoh protagonis favorit kita.

Para villain inilah yang memaksa karakter utama untuk berkembang, mengalahkan dirinya hingga akhirnya berhasil mencapai resolusi.

Kehidupan nyata juga tidak begitu berbeda dengan fiksi, bahkan cenderung lebih ajaib dari fiksi.

“Truth is stranger than fiction…” -Mark Twain

Cerita fiksi akan datar dan sangat membosankan tanpa kehadiran tokoh antagonis yang hebat. Harry Potter, contohnya, tanpa kehadiran Lord Voldemort sebagai ultimate villain, Harry mungkin hanya akan terlibat adu panjat sosial dengan Draco Malfoy; dan cerita Harry Potter mungkin tidak akan jauh berbeda dari drama-drama musikal atau bahkan drama vampire vs. werewolf yang — ah, sudahlah!

The Joker dari trilogi The Dark Knight — diperankan oleh Heath Ledger — adalah tokoh villain yang paling aku kagumi hingga saat ini. Joker bukanlah penjahat klasik yang pada umumnya mengejar uang, kekuasaan atau reputasi.

Joker dengan cerdas melukai Batman dengan menghancurkan citranya, menghancurkan egonya sebagai Bruce Wayne dan menghancurkan kepercayaan publik akan keadilan yang diperjuangkannya di balik topeng Batman.

Joker memaksa Batman untuk bertumbuh dan berkembang. Perubahan karakter pada Bruce telah membuatnya memahami bahwa dia harus memilih apa yang lebih penting dibandingkan egonya untuk tampil sebagai seorang pahlawan (hero) yang dielu-elukan masyarakat.

Siapa orang yang paling memahami dan mengenal diri kita?

Musuh kita.

Seperti Joker yang mempelajari dan menyerang tepat pada titik lemah Batman, setiap musuh kita juga akan selalu menemukan kelemahan dan kekurangan kita. Musuh kita tidak akan segan-segan untuk menyerang saat kita terpeleset lidah, membesar-besarkan kesalahan kita dan mengambil keuntungan dari kesilapan kita.

Mengerikan?

Tentunya. Tapi bila kamu memperhatikan lebih dalam, sesungguhnya ada hal positif yang bisa kita pelajari di sana.

Musuh kita membuat kita menyadari kelemahan dan kekurangan kita.

Pada umumnya, kita terlalu percaya diri dan menganggap diri kita sudah melakukan yang terbaik. Sampai saat serangan itu datang dan menghempaskan kita bertubi-tubi, barulah kita belajar untuk memperbaiki bagian-bagian diri kita yang masih perlu dibenahi.

Tapi, hey, sebelum kalian mulai berpikir buruk tentang arah tulisanku ini, ada baiknya aku luruskan sedikit. Barusan aku membahas ‘keuntungan’ atau sisi positif denganm memiliki musuh, tapi bukan berarti aku sedang mengajak kalian untuk ngajak ribut orang lain supaya jadi musuh kalian dan membuat kalian bertumbuh. Bukan!

Nyari musuh di sekitar rumah atau lingkunganmu cuma bakal bikin perang saudara.

Kalau memang mau nyari musuh beneran, pergi aja ke acara diskonan NIKE! Dijamin, rusuh!

DJ Khaled — -salah satu influencer besar dengan jutaan follower di seluruh dunia — -sering memotivasi para followernya dengan menciptakan sosok musuh imajiner. Dalam postingan-postingannya dia menyebutnya ‘They’ (Mereka). Sosok ‘mereka’ ini adalah manifestasi imajiner dari siapapun (atau apapun) di dunia ini yang tidak menginginkan kamu berhasil.

‘They don’t want you motivated. They don’t want you inspired.’ -DJ Khaled

Kamu bisa membayangkan sosok imajiner ini sebagai orang-orang yang tidak ingin kamu maju, orang-orang yang akan menertawakanmu saat kamu jatuh, orang-orang yang selalu sinis dan mencibirmu. Kamu tidak perlu mendefinisikan ‘mereka’ secara spesifik. Kamu cukup meyakini bahwa ‘mereka’ selalu ada mengawasimu dan menunggumu untuk gagal.

Kamu tidak perlu membayangkan wajahnya, karena kamu tidak perlu memupuk kebencian yang tidak penting. Tujuan utama dari kehadiran ‘mereka’ adalah untuk memaksamu terus berkembang dan bertumbuh, tidak merasa cepat puas dan terus mengevaluasi kinerjamu.

Sebenarnya ini adalah sebuah trik psikologis yang mempengaruhi alam bawah sadarmu untuk terus waspada dan tidak malas. Dengan mempercayai bahwa ada pihak-pihak yang menjadi ‘musuh’, maka naluri kompetitifmu akan muncul.

Ada sebuah cerita lama yang selalu aku ingat sebagai pelajaran kehidupan. Cerita ini sangat menggelitik sekaligus menampar.

Tahukah kamu, rombongan nelayan yang melaut untuk menangkap ikan bisa sampai berhari-hari di laut lepas? Mereka baru akan pulang saat tangkapan mereka sudah cukup banyak. Orang-orang di pasar mengharapkan ikan-ikan yang segar, sehingga setiap ikan tangkapan nelayan ini diharapkan masih bertahan hidup (setidaknya sampai mereka hampir tiba di darat). Masalahnya, kumpulan ikan ini jumlahnya ribuan, dan semakin lama disimpan di dalam tangki, ikan-ikan ini akan stress dan mati.

Bagaimana solusinya? Apakah dengan menyiramkan formalin? Ups, jalan pintas memang tampak lebih mudah. Tapi nelayan-nelayan ini menemukan caranya. Mereka memasukkan seekor ikan besar (predator yang biasa memakan ikan-ikan tadi) ke dalam tangki penyimpanan ikan-ikan itu. Predator itu terus memaksa ikan-ikan itu untuk bergerak, karena apabila ada yang terpisah dan tertinggal dari rombongan pasti akan dimakan ikan yang lebih besar itu. Hasilnya, sampai nelayan kembali ke darat, mayoritas ikan-ikan tersebut masih hidup.

Ikan-ikan itu hidup karena memiliki ‘musuh’.


Hai, sobat! Kalau kamu merasa tulisan ini bermanfaat, silahkan merekomendasikan dan membaginya ke teman-temanmu!

Jangan lupa juga untuk menuliskan pendapatmu di bawah ini atau sekedar memberikan ‘claps’ dengan menekan tombol 👏

Terima kasih!


Evan Stinger adalah seorang ghostwriter, personality tweaker, dan blogger. Kalian bisa mengunjungi blog-nya di evanstinger.com atau twitternya Evan Stinger


Originally published at Evan Stinger.