Fintech: Teknologi Finansial — Manfaat, Penggunaan dan Evolusinya

Kamu pasti sudah pernah mendengar kata ‘Fintech’. Entah itu dari artikel, radio, video ataupun dari interaksi dalam kehidupan sehari-hari, kata Fintech ini sudah menjamur di mana-mana. Pada dasarnya, secara literal Fintech merupakan singkatan dari ‘financial technology’ atau teknologi finansial. Mungkin kamu langsung membayangkan aplikasi-aplikasi mobile banking atau aplikasi budgeting yang kamu pakai. Tidak, kamu tidak keliru. Tapi sebenarnya, Fintech masih lebih luas dari yang kamu bayangkan! Lewat tulisan ini aku akan mengajak kalian mengenal Fintech lebih dekat.

Apa itu Fintech?

Fintech adalah singkatan dari Financial Technology atau teknologi finansial, Fintech bukan lagi sekedar kumpulan start-up yang berusaha bersaing dengan perbankan; Fintech merupakan evolusi dari perbankan itu sendiri. Fintech akan meng-upgrade cara pikir masyarakat tentang pelayanan finansial, melebihi level perbankan yang selama ini ada.

apa itu fintech

Fintech pada level consumer-banking

Seberapa sering dulu kita mengunjungi bank?

Aku yakin, kalau bukan karena urusan yang kepepet seperti ATM tertelan, setor/tarik tunai dalam jumlah besar atau mengajukan pinjaman, kita tidak menginjakkan kaki di bank sejak membuka rekening di sana. (Tentu saja pengecualian khusus untuk kalian yang pekerjaannya mengurusi perbankan perusahaan atau memang lagi PDKT dengan salah satu customer service di sana!).

Karena saat ini berbagai urusan perbankan seperti cek saldo, mutasi, transfer, bayar tagihan, asuransi, membuat auto-debet, bahkan jual-beli saham (sekuritas) bisa kamu lakukan secara online melalui aplikasi ataupun layanan mobile dari bank tersebut.

Segaptek-gapteknya pun, kalian pasti bisa menggunakan mesin ATM untuk keperluan-keperluan tersebut.

Nah, aplikasi mobile banking, e-money, bahkan mesin ATM adalah beberapa teknologi finansial yang paling umum kita pakai saat ini. Teknologi finansial atau Fintech ini merupakan pelayanan pada tingkat consumer-banking, yaitu teknologi yang memudahkan pelayanan untuk kebutuhan perbankan pada level konsumen langsung.

Masih ingat kalau beberapa tahun yang lalu perbankan masih hanya memiliki fasilitas SMS banking, yang pada saat itu rasanya canggih banget, hanya ketik-ketik kode SMS, eh — bisa kirim duit ke simpanan. #ehgimana?

Saat ini, bank-bank saling bersaing untuk menghadirkan fasilitas mobile banking via aplikasi smartphone, dengan desain UI yang ciamik, kecepatan layanan dan kelengkapan fitur-fitur yang canggih.

Bahkan saat ini beberapa bank sudah menghadirkan aplikasi Fintech perbankan yang memungkinkan kalian untuk menciptakan (membuka) rekening-rekening mikro di dalam rekening kalian untuk keperluan yang berbeda-beda, tidak perlu lagi memiliki dua-tiga rekening untuk memisahkan rekening gaji/pemasukan dengan tabungan liburan, atau tabungan dana darurat.

Ada juga yang memberikan fasilitas tabungan semi deposito dengan bunga 5% /annu. yang bisa ditarik kapan saja.

Setiap start-up Fintech ini memiliki keunggulannya masing-masing, memberikan kita banyak pilihan untuk memilih mana yang paling cocok dengan karakter finansial kita.

Fintech sebagai alat pembayaran (e-money, e-cash, e-payment, dll.)

E-money atau Electronic Money adalah teknologi finansial yang memungkinkan penggunanya untuk menyimpan uang dengan nominal tertentu pada suatu perangkat (umumnya kartu, namun tidak terbatas hanya pada kartu) yang memiliki teknologi NFC.

Dalam penggunaannya, perangkat e-money hanya merupakan alat pencatatan (book-keeping device), pemiliknya perlu mengisi perangkat tersebut (top-up) sebelum menggunakannya. Setiap penggunaan akan langsung memotong saldo yang tercatat di perangkat tersebut, tidak diperlukan PIN untuk melakukan transaksi, sehingga e-money sebaiknya benar-benar diperlakukan seperti uang tunai karena bila jatuh ke tangan orang lain, bisa langsung digunakan (dibelanjakan).

Selain e-money, ada juga teknologi finansial seperti e-cash dan e-payment yang memudahkan pengguna untuk melakukan pembayaran-pembayaran tertentu tanpa menggunakan rekening utama. Konsepnya hampir sama dengan e-money (top-up saldo terlebih dahulu) namun tidak menggunakan teknologi fisik (seperti NFC) tetapi menggunakan verifikasi virtual seperti QR Code, barcode atau PIN SMS. Pengguna biasanya menggunakan e-cash untuk pembayaran yang rutin dilakukan sehari-hari seperti membayar parkir atau isi pulsa.

Fintech berperan penting dalam Demokrasi Finansial

Pada umumnya, kita memang lebih mengenal dunia perbankan dari sisi consumer banking-nya saja, kecuali kalau kamu memang bekerja di perbankan. Dunia perbankan sebenarnya lebih luas dari sekedar kegiatan setor-tarik atau bayar-bayaran. Sebagai anak muda, kamu juga harus tahu lebih banyak mengenai kebutuhan finansialmu. Selain menabung, kita juga perlu untuk melakukan budgeting, investasi, divestasi aset bahkan pinjam-meminjam untuk berbagai kebutuhan.

Sejak dulu, kita tahu bahwa sebagian besar uang di dunia ini dikuasai oleh segelintir orang kaya yang itu-itu saja. Banyak orang menyebutnya sebagai dampak dari kapitalisme, di mana kelompok-kelompok elit tertentu memonopoli sebagian besar pergerakan finansial. Kamu mungkin merasa sangat mustahil untuk bisa bersaing dengan raksasa-raksasa ekonomi yang sejak dulu menguasai pasar itu, karena itulah lahir gerakan Demokrasi Finansial.

Gerakan demokrasi finansial ini sebenarnya sudah sangat lama muncul, namun teknologi finansial yang saat ini berkembang pesat membuatnya menjadi lebih kuat. Kalian pasti pernah mendengar istilah crowd funding atau situs-situs seperti KickStarter, GoFundMe, kalau di Indonesia ada KitaBisa.com dan lain-lain.

Konsepnya, kita bisa mendanai apapun (baik itu kausa profit maupun non-profit) secara keroyokan. Kenapa keroyokan? Karena keroyokan lebih greget dari pada gotong-royong. Hehehe, ya karena kebersamaan adalah kekuatan, sehingga kita bisa menyatukan kekuatan finansial dan menjalankan sebuah kausa tanpa bergantung pada raksasa ekonomi yang selama ini menjadi investor utama.

fintech adalah teknologi finansial

Peer-to-peer Lending, evolusi menuju demokrasi finansial

Peer-to-peer lending adalah sebuah Fintech dengan konsep pinjam-meminjam (pendanaan) secara langsung (peer-to-peer), calon pendana dan peminjam bertemu di sebuah marketplace (wadah yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan start-up yang cukup ramai saat ini). Marketplace akan menyortir para calon peminjam sesuai dengan profil resiko, jumlah pinjaman, tenor dan bunga pinjaman. Para pendana bisa melihat-lihat profil calon peminjam (sebagian besar merupakan perusahaan, toko online, dan home industry) lalu kemudian memilih untuk menginvestasikan uangnya sesuai dengan profil resiko dan bunga yang diinginkan.

Peer-to-peer lending bukan hanya untuk mereka yang ingin meminjam modal kerja saja, lho! Di berbagai marketplace kamu bisa juga mengajukan pinjaman untuk biaya perobatan, biaya pendidikan atau bahkan kredit konsumtif sekalipun!

Saat ini sudah banyak marketplace untuk peer-to-peer lending yang bisa menjadi sasaran investasimu, bahkan ada marketplace yang memungkinkanmu untuk mendanai mulai dari Rp.100.000,- saja dengan potensi keuntungan mulai dari 14% hingga 25% per tahun!

Fintech dalam Saham dan Asuransi

Mungkin kamu berpikir bila pembahasan ini sudah terlalu jauh. Jangan buru-buru pergi dulu, tahan sebentar. Jangan alergi pada pembahasan yang serius tentang finansial.

Percayalah, orang-orang yang ngoceh “Money can’t buy happiness” itu hanya orang-orang yang nggak tahu mau belanja di mana. :)

Bila kamu ingin benar-benar memiliki kehidupan finansial yang ‘sehat’, kamu perlu melek soal saham dan asuransi.

Mungkin ketika mendengar kata saham kamu udah keburu membayangkan orang-orang berteriak-teriak di Bursa Efek, dari pagi melototin layar-layar yang menunjukkan grafik-grafik kayak orang koma di rumah sakit.

Mungkin ketika mendengar kata asuransi kamu udah keburu merinding karena mengingat pernah dikejar-kejar berhari-hari sama agen asuransi yang pantang mundur meski udah ditolak prospek berulangkali.

Di era baru ini, kamu harus paham bahwa saham dan asuransi itu penting. Kedua-duanya adalah instrumen yang padanya kamu akan SANGAT berterimakasih bertahun-tahun (mungkin puluhan tahun) dari hari ini.

Untuk itulah lahir teknologi-teknologi finansial yang menyasar para Millennials yang umumnya alergi dengan yang beginian untuk bisa lebih mudah memahami dan menggunakan instrumen finansial ini dengan efektif.

Semua urusan dipermudah, tidak ada lagi agen-agen yang terus-terusan stalking kamu dan kamu bisa mengawasi portofolio-mu langsung dari gadgetmu.

Tomorrow start today

Bila kita melihat kembali ke beberapa tahun sebelum hari ini, kita akan takjub dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Tidak ada alasan untuk tidak ikut dalam kemajuan teknologi ini, karena sejarah telah membuktikan, bukan yang kuat yang bertahan, tapi yang paling mampu beradaptasi pada perubahan.

Sebenarnya, Fintech masih sangat luas. Beberapa orang masih berdebat mengenai Blockchain, sebuah teknologi fenomenal yang menjadi pondasi cryptocurrency yang sangat populer, Bitcoin. Para pemain-pemain penting Blockchain menyatakan bahwa teknologi Blockchain lebih besar dari sekedar teknologi finansial (Fintech), namun kita tidak akan membahas soal ini sekarang.

Pada akhirnya, kita sendirilah yang harus terus mengedukasi diri kita dan orang-orang yang di dekat kita untuk melek tentang finansial dan teknologinya. Karena hidup ini memang bukan melulu soal uang, tapi tanpa uang, bagaimana mau bicara tentang hidup?


Hai, sobat! Kalau kamu merasa tulisan ini bermanfaat, silahkan merekomendasikan dan membaginya ke teman-temanmu!

Jangan lupa juga untuk menuliskan pendapatmu di bawah ini atau sekedar memberikan ‘claps’ dengan menekan tombol 👏

Terima kasih!


Evan Stinger adalah seorang ghostwriter, personality tweaker, dan blogger. Kalian bisa mengunjungi blog-nya di evanstinger.com atau twitternya (@EvanStinger)


Originally published at Evan Stinger.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.