Psikologi: Konstruksi Imajiner Dalam Penjara Kognitifmu

Tak terasa, lelucon klasik ‘anak Psikologi yah? Bisa baca saya dong?’ sudah mulai basi dan jarang terdengar lagi. Pandangan lawas tentang psikologi perlahan telah bergeser, dari yang tadinya berbau klenik dan masih sealiran dengan dukun (versi yang lebih modern) menjadi sosok yang dianggap sebagai biang kerok di belakang psikotes, mutasi dan berkurangnya payroll.

Di Indonesia, lulusan-lulusan Psikologi memang umumnya menyerbu departemen Human Resource (HR), segelintir lagi memilih menaikkan stratanya untuk kembali ke kampus atau biro psikologi, sementara sisanya melawan arus.

Apa itu psikologi modern
image credit: Adobe Stock

Apa itu Psikologi?

Sejujurnya aku lebih suka definisi literalnya. Psyche (Latin) atau Psukhe (Greek) artinya jiwa atau nafas hidup. Jadi secara literal, Psikologi adalah ilmu jiwa.

Pemahaman klasik ini membawa kontroversi hingga sekarang. Psyche atau jiwa bukanlah substansi empirik.

Siapa yang pernah melihat jiwa? Kalau mau mempelajari sesuatu yang nggak kelihatan caranya gimana? Pakai mata batin? Sharingan? Byakugan?

Tidak heran bila para haters (ya, Psikologi sejak dulu penuh dengan drama) pun menuding Psikologi sebagai pseudosains, nggak beda jauh dengan klenik semacam astrology dan palmistry.

Sejatinya, Psikologi lahir dari brainfart-nya para pemikir-pemikir legendaris Yunani kuno seperti Thales, Plato, dan Aristoteles; jadi nggak heran kalau atmosfernya sedikit ‘melayang’ ala filsafat kuno.

Pada masa ini Psikologi memang masih belum membumi dan tergolong ‘klenik’, mungkin karena mbah-mbah pemikir legendaris itu kebanyakan stargazing, yha…

Psikologi Modern

Baru di abad ke-19, Wilhelm Wundt — seorang ilmuwan dan profesor Jerman — memberi Psikologi wujud yang lebih manusiawi. Wundt memperkenalkan Psikologi sebagai sebuah kajian yang berfokus pada proses mental manusia, contohnya: proses perubahan mental, persepsi, kognisi, emosi, motivasi dan fenomena kesadaran {consciousness) pada manusia.

Sampai saat ini, aku merasa beliau (Wundt) adalah bapak Psikologi modern yang sukses membawa Psikologi keluar dari tabir mistis.

Bagaimana dengan Sigmund Freud? Bukankah tidak afdol membicarakan Psikologi tanpa menyebut nama Freud (dibaca: /froid/)? Well, kalau kamu mau sedikit meluangkan waktu untuk membaca teori-teori dokter mesum ini, silahkan saja. Kalau setelah itu jadi kesal, jangan salahkan aku, ya!

Psikoanalisa adalah salah satu cabang pemikiran Psikologi yang paling banyak ditentang dan dianggap melenceng dari sains.

Freud tampaknya sudah bosan jadi dokter yang mendengarkan pasiennya (yang mengalami gangguan psikis/mental) curhat, lalu dia bereksperimen dengan mencoba membantu melepaskan ‘pressure’ dengan bermacam cara nyeleneh seperti terapi seksual, gendam (hipnotis), mencekoki pasiennya dengan kokain, tafsir mimpi dan, dan…#ahsudahlah.

Psikologi dalam kehidupan sehari-hari

Sebenarnya, Psikologi itu masih amat-sangat-luas-sekali. Sampai hari ini terapan ilmu psikologi dapat kita temukan di hampir semua aspek kehidupan sehari-hari.

Nggak percaya?

Coba perhatikan gerai-gerai fast food di sekitar tempat tinggalmu, KFC, McD, BurgerKing, Wendy’s, Pizza Hut, dll. semuanya menggunakan tema warna merah dan kuning.

Pemilihan warna ini didasari dari kecenderungan psikologis manusia menangkap sinyal warna merah dan kuning sebagai dorongan metabolisme, mempercepat aliran darah, menstimulasi rasa lapar dan keinginan kuat untuk memuaskan hasrat tersebut.

Selain makanan, ada satu contoh lagi yang mungkin akan membuatmu sedikit gelisah setelah mengetahuinya.

Psikologi di balik media sosial

Media sosial, adalah sebuah fenomena yang merebak dalam satu dekade terakhir ini. Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, BBM, LINE dll. telah mengubah kehidupan homo sapiens lebih drastis dari Perang Dunia I dan II.

Ada banyak fenomena psikologis pada penggunaan media sosial, begitu juga dengan para insinyur di balik media sosial. Media sosial dirancang dengan algorithma yang jelas-jelas bertujuan untuk membuat penggunanya menjadi kecanduan — menjadi social junkie!

Coba tes dirimu sendiri, cobalah untuk meninggalkan ponselmu 1 (satu) jam saja. Kebanyakan orang bahkan sudah gelisah sebelum 10 menit. Padahal belum pernah ada orang yang dilaporkan meninggal dunia karena nggak ‘main hape’ seharian.

Eksposur pada media sosial, engagement semu yang menstimulasi rasa puas dari jumlah likes dan comments, eksistensi yang dilandaskan pada jumlah followers, dorongan yang terus memuncak untuk bisa mempertahankan jumlah views dan engagement — semua ini tidak pernah ada sepuluh tahun yang lalu, tapi manusia tetap hidup dan content dengan hidupnya.

Psikologi jaman now!

Apa yang terjadi dengan manusia saat ini, terutama mereka yang dilabeli sebagai generasi Millennials dan Gen-Z (atau kids jaman now :D ) ?

Apakah kita mengalami evolusi?

Kita, tidak berbeda dengan generasi-generasi sebelum kita. Seluruh fitur fisik dan psikologis kita masih sama dengan pendahulu kita. Teknologi lah yang mengalami kemajuan pesat, kita sekarang hidup di era informasi dan kreativitas; era di mana setiap orang bisa memiliki kesetaraan dalam informasi, setiap orang bisa mempelajari apapun dan akhirnya menciptakan/memulai hal-hal yang baru — bahasa gaulnya, startups!

Nah, bila ternyata kita adalah manusia yang sama dengan mereka yang hidup di zaman Majapahit, kenapa saat ini kita begitu berbeda?

Proses mental yang terjadi generasi kita adalah kuncinya.

Pikiran kita berevolusi

Kemampuan kognitif manusia dalam menggunakan persepsi, mengolah memori, memanajemen stress, memanipulasi habit, emosi dan motivasi telah berkembang jauh seiring perkembangan teknologi kita yang pesat.

Keyakinan manusia pada dirinya saat ini jauh lebih tinggi dari pada ratusan tahun yang lalu. Sifat narsistik dan self-branding sebenarnya sudah lama ada, namun baru belakangan ini mencuat secara masif.

Dulu, hanya para ilmuwan penting yang menamai hukum-hukum fisika dan matematika dengan namanya, menamai komet, meteor, jenis-jenis badai dan tornado; atau menamai virus dan bakteri yang menjadi penemuan baru.

Saat ini hampir semua orang membangun self-branding masing-masing, media bukan lagi satu-satunya sumber informasi, ada banyak penulis dan kolumnis yang membangun blog-nya sendiri, TV bukan lagi satu-satunya sumber hiburan dan informasi berbasis audio-visual, YouTube telah membidani lahirnya vlogger-vlogger berpengaruh dengan berjuta-juta pengikut.

Psikologi sebagai kacamata untuk memahami proses mental

Kembali ke Psikologi, menurutku, fenomena yang terjadi pada manusia saat ini merupakan proses mental yang sangat menarik. Kenapa baru terjadi saat ini, manusia sudah ribuan tahun ada di bumi, kenapa baru sejak satu dua abad ini terjadi perkembangan yang sangat signifikan?

Aku menyukai Psikologi bukan hanya karena teori-teorinya yang fancy, tapi karena melalui Psikologi aku bisa memahami proses mental yang terjadi dalam pikiran setiap manusia — karena aku percaya proses mental ini kolektif, bukan indvidual.

Melalui Psikologi, kita bisa memahami apa yang membuat kamu menjadi kamu, dan apa yang membuat aku menjadi aku.

Pada dasarnya, kita semua sama. Sama-sama homo sapiens. Sama-sama mahkluk sosial.

Beberapa golongan memutuskan untuk mempercayai sesuatu diajarkan kepada mereka mentah-mentah, sementara golongan lain lebih skeptis dan lebih mempercayai apa yang bisa dibuktikan langsung oleh logika mereka.

Psikologi adalah kacamata khusus untuk bisa melihat dan memahami konstruksi imajiner dalam pikiran seseorang.

Ada yang mengunci pikirannya dan memenjarakan rasa ingin tahunya untuk bisa tetap satu pikiran dengan komunitasnya, ada pula yang sebaliknya.

…and the truth shall set you free.

Hai, sobat! Kalau kamu merasa tulisan ini bermanfaat, silahkan merekomendasikan dan membaginya ke teman-temanmu!

Jangan lupa juga untuk menuliskan pendapatmu di bawah ini atau sekedar memberikan ‘claps’ dengan menekan tombol 👏

Terima kasih!


Evan Stinger adalah seorang ghostwriter, personality tweaker, dan blogger. Kalian bisa mengunjungi blog-nya di evanstinger.com atau twitternya (@EvanStinger)


Originally published at Evan Stinger.