Tentang Aku dan Spotify di Sepanjang 2017

Tidak terasa kita sudah sampai di penghujung tahun 2017; tahun yang — bagiku — feels like a roller coaster ride. Di awal tahun ini, seperti kebanyakan orang, aku juga membuat resolusiku. Salah satu di antaranya adalah: listen to more musics! Dan musik, di era digital ini, menawarkan kemudahan yang sulit untuk ditolak. Spotify adalah salah satunya.

Tentang Aku dan Spotify di Sepanjang 2017

Kenapa aku membuat resolusi untuk mendengarkan lebih banyak musik?

Tahun 2015–2016 adalah tahun-tahun yang sangat berat dalam hidupku, beberapa kali mental breakdown, health issues and tons of fucked up shits happened there. Aku bahkan berulangkali berpikir untuk berhenti menulis dan sempat menutup semua akun sosmed.

Di masa-masa yang pahit itu aku menggunakan musik untuk menjaga kewarasanku tetap pada tempatnya.

Musik membawaku kembali ke masa-masa lalu yang penuh dengan ceritanya masing-masing, musik membawa sebuah pengalaman yang memberiku sudut pandang berbeda dari setiap situasi sulit yang kuhadapi.

Karena itulah aku ingin mendengar lebih banyak musik.

Kenapa Spotify?

Sebelumnya, aku merasa perlu memberi DISCLAIMER, bahwa: tulisanku ini bukan paid post.

Selain Spotify, sebelumnya aku juga telah menggunakan JOOX, Langit Musik (Melon), Soundcloud bahkan YouTube sebagai fasilitas music streaming. Entah mengapa saat menggunakan Spotify ada ‘feel’ yang lebih ngena. #halahhh

Di kuartal kedua 2017 aku memutuskan untuk berlangganan (premium subscription) Spotify.

Awalnya aku hanya mendengarkan playlist dari artis-artis yang sudah aku kenali dan ikuti sejak dulu, lalu perlahan-lahan aku mulai mengeksplorasi musik-musik baru dari Similar Artists suggestions yang ditawarkan Spotify. Ada juga playlist “Discover Weekly” yang menawarkan update dari musik-musik terbaru yang layak untuk kamu ikuti.

Kenapa premium?

Bukan karena aku benci iklan (ads); aku juga seorang pekerja seni dan mengerti tentang pentingnya monetisasi yang baik agar karya-karya para artis bisa menjangkau segala lapisan tanpa mengorbankan nilai dari karya tersebut.

Menurutku, harga yang ditawarkan Spotify cukup realistis bahkan sangat terjangkau. 50k IDR for unlimited music? That’s a steal!

Bahkan bisa lebih murah lagi! Aku pernah dengar dari beberapa teman tentang diskon khusus untuk pelajar atau berlangganan kolektif (Family pack) yang bisa membuat biaya bulanannya jadi lebih murah lagi!

Kalau mau hitung-hitungan juga, coba jujur deh, sebagai Millennials yang ngakunya cinta dan support musik, berapa budget belanjamu untuk musik?

Beli kaset pita (iya, gue generasi jaman jebot!) untuk musik lokal Rp.18,5k — 20k, untuk musik luar Rp.20k-24k, kalau beli CD bisa 45k, budget serupa juga masih lanjut sejak beberapa artis mulai jualan musik lewat gerai ayam tepung Colonel Sanders. Modalnya nggak beda jauh, tapi dapetnya masih terbatas kan?

Suka musik atau gila musik?

Salah satu yang aku acungi jempol dari Spotify adalah kualitas musiknya. Kamu bisa mengaturnya tergantung budget kuota (paket mobile data) kamu atau tergantung kualitas koneksi (setting Automatic Quality).

Kalau kamu sedang ada di rumah/kantor dan menggunakan koneksi Wi-Fi (yang unlimited tentunya, bukan nyolong hotspot teman!) cobalah untuk menggunakan setting Extreme Quality dan rasakan jernihnya kualitas audio Spotify!

Untuk kamu yang memang audiophile, ini surga!

Untuk kamu yang ekstra hemat kuota, kamu bisa memanfaatkan fasilitas Wi-Fi untuk mendownload album atau playlist favoritmu untuk kamu dengarkan secara offline nantinya. Jadi, kuotamu untuk ngajak VC gebetan nggak bakal terganggu, deh! #ehgimana

Musik sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Seperti yang sudah aku buka sedikit di awal tadi, (bagiku) musik adalah bagian dari perjalanan hidupku. Ada banyak memori, momen-momen penting, luapan emosi dan waktu-waktu hening yang aku lalui seperti dini hari yang aku habiskan menyetir sendiri muter-muter tanpa tujuan di jantung kota Medan sambil mendengarkan playlist bertemakan folk music — yang artisnya tidak ku kenali namun sukses menjadi live soundtrack untuk setiap momen itu.

Menjelang akhir tahun, Spotify mengirimkan email berisikan ajakan untuk penggunanya melihat kaleidoskop atau rangkuman musiknya tahun itu. Kamu mungkin akan kaget atau terheran-heran melihat perjalanan musikmu setahun itu.

Sepanjang tahun 2017 ternyata aku telah mendengarkan musik lebih dari 550 jam! Ribuan lagu dari ribuan artis berbeda!

Tidak hanya itu, Spotify juga mempelajari genre musik favoritmu dan membuatkan playlist “Lagu Yang Terlewatkan”, yaitu lagu-lagu yang mirip dengan yang selama ini kamu sukai yang kemungkinan besar akan kamu sukai juga!

Aku suka menemukan hal-hal baru, tapi terkadang aku tidak begitu berminat untuk mengeksplorasi dan mencoba-coba sana-sini. Here’s how Spotify wins my heart by hitting my sweet spot! Dengan algoritma ajaibnya mengantarkan musik-musik yang ingin aku temukan langsung di genggamanku!

Menemukan diriku di dalam musik, menemukan musikku di Spotify

Bagi banyak orang, musik adalah hiburan — pengisi kekosongan atau pemberi warna untuk suasana. Saat ini, kita mudah menemukan musik diletakkan di mana-mana sebagai salah satu bagian dari dekorasi atau ornamen.

Bagiku, musik adalah sebuah perjalan hidup. Musik adalah bahasa yang universal. Di dalam musik kita bisa menemukan diri kita, menemukan apa yang tidak bisa kita sampaikan melalui kata-kata.

Melalui musik kita berbicara tentang hidup, bicara tentang cinta, bicara tentang aku dan kamu.


Hai, sobat! Kalau kamu merasa tulisan ini bermanfaat, silahkan merekomendasikan dan membaginya ke teman-temanmu!

Jangan lupa juga untuk menuliskan pendapatmu di bawah ini atau sekedar memberikan ‘claps’ dengan menekan tombol 👏

Terima kasih!


Evan Stinger adalah seorang ghostwriter, personality tweaker, dan blogger. Kalian bisa mengunjungi blog-nya di evanstinger.com atau twitternya (@EvanStinger)


Pictures credits: Adobe Photostock and Spotify

Originally published at Evan Stinger.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.