HARI OLAHRAGA NASIONAL 2018 :
MEMBANGUN SDM DI BIDANG OLAHRAGA DENGAN SPORT PSYCHOLOGY
HARI OLAHRAGA NASIONAL
Tahun ini, pada 9 September, Indonesia memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang ke-35. Peringatan tersebut akan berlangsung di Kota Ternate, di mana Kemenpora akan mengutamakan olahraga berbasis tradisional. Tetapi, peringatan tersebut tidak hanya dilakukan di Ternate. Tidak hanya itu, dalam peringatan Haornas yang ke-35 ini juga akan dilakukan beberapa aktivitas seperti pemecahan rekor dunia poco-poco, Sepeda Nusantara, Gala Desa, Liga Sepak Bola Pelajar Berjanjang yang meluas di lebih 386 Kabupaten/Kota.
Tema yang diusung pada tahun ini adalah Ayo Olahraga, Bangun Indonesia. Tema ini bersifat luas. Pembangunan yang dimaksud tidak hanya pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan SDM di bidang olahraga.
Salah satu upaya pembangunan SDM di bidang olahraga adalah melalui penerapan salah satu bidang ilmu dari sports science, yaitu sports psychology. Dengan mengoptimalkan penerapan sport psychology, maka hal ini akan membangun SDM di bidang olahraga dengan meningkatkan performa atlet, dan secara tidak langsung, juga meningkatkan prestasi olahraga di Indonesia. Berikut adalah penjelasan mengenai sport psychology dan bagaimana sport psychology dapat membantu atlet meningkatkan performa mereka.
SPORT PSYCHOLOGY
Indonesia, yang berada di peringkat empat, telah meraih 98 medali yang terdiri dari 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Hal ini merupakan pencapaian tertinggi Indonesia selama ikut serta dalam Asian Games. Hasil ini telah melampaui target Kemenpora terkait peraihan medali emas oleh atlet Indonesia. Sebelumnya, Kemenpora menargetkan Indonesia memasuki peringkat sepuluh besar dan meraih 16 medali emas.
Deputi 4 Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Mulyana, menyatakan bahwa pencapaian tersebut merupakan dampak pengaplikasian dari sport science. Menurut Tommy Apriantono, Ketua Kelompok Keilmuan Sports Sciences, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung, sport science adalah ilmu multidisiplin yang mencakup fisiologi, psikologi, biomekanika, nutrisi, dan kedokteran olahraga.
Salah satu ilmu sport science yang dapat ditelaah adalah sport psychology. Sport psychology (psikologi olahraga) merupakan ilmu interdisipliner yang mengacu pada pengetahuan dari berbagai bidang terkait termasuk biomekanik, fisiologi, kinesiologi dan psikologi. Studi di bidang psikologi olahraga meliputi studi bagaimana faktor psikologis mempengaruhi performa dan bagaimana partisipasi dalam olahraga dan latihan mempengaruhi faktor psikologis dan fisik. Penerapan psikologi olahraga dapat mencakup pekerjaan dengan atlet, pelatih, dan orang tua mengenai cedera, rehabilitasi, komunikasi, team building, dan transisi karir. (Sport Science Kemenpora Indonesia, 2015).
PERAN SPORTS PSYCHOLOGY DALAM MENINGKATKAN PERFORMA ATLET
Gee (2010) menjelaskan bahwa pengaplikasian ilmu psikologi olahraga tidak dapat membuat seseorang menjadi atlet yang lebih baik. Tentunya, psikologi olahraga ini tidak dapat mengubah komposisi fiber otot atau mempengaruhi efisiensi anaerobik. Tetapi, psikologi olahraga dapat membantu atlet untuk mengerahkan performa pada level yang paling dekat dengan potensi absolut (absolute potential) atlet tersebut.
Absolute potential mengacu pada performa individu yang optimal secara teoritis (performa 100% sempurna) dalam sebuah kegiatan atletik. Output atletik yang optimal ini diprediksikan memiliki hubungan secara langsung dengan komposisi fisiologis individu atau dapat disebut juga hasil dari ‘loteri gen’. Contohnya dalam perlombaan lari 100-m. Performa lari berkorelasi dengan beberapa faktor fisiologis seperti persentase fast twitch muscle fibers (Kumagai et al., 2000), tinggi dan panjang langkah (Kukolj, Ropret, Ugarkovic, & Jaric, 1999), oxygen deficit tertinggi (Weyand, Cureton, Conley, Sloniger, & Liu, 1994), reaction time atau waktu reaksi (Meckel, Atterbom, Grodjinovsky, Ben-Sira, & Rotstein, 1995), dan kapasitas anaerobik (Meckel et al., 1995). Beberapa faktor ini dapat dilatih atau dikembangkan, tetapi masih banyak pengaruhnya dari faktor genetik. Dengan begitu, atlet-atlet tertentu memiliki kelebihan genetik dalam mengembangkan berbagai faktor tersebut sehingga mereka memiliki kelebihan dalam aspek fisiologis. (Gee, 2010).
Sebagaimana telah dijelaskan, absolute performance adalah konsep teoretis. Hal ini merefleksikan potensi performa 100% seorang atlet pada keadaan yang ideal. Tetapi pada kenyataannya, performa para atlet ini dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga mereka tidak dapat menampilkan performa yang optimal. Performa seperti ini disebut juga ‘relative performance’.(Gee, 2010).
Pengaruh terbesar dari psikologi olahraga pada relative performance dapat dilihat ketika terdapat sedikit perbedaan dalam absolute performance potential antar kompetitor. Sebagai contoh, misalnya delapan laki-laki atau perempuan yang mengikuti final lari 100-m pada kejuaraan Olympics berada pada level fisiologis yang sama. Mereka memiliki komposisi fiber otot, oxygen deficit, panjang langkah, reaction time (lama waktu seseorang bereaksi terhadap suatu stimulus), fungsi metabolik. Maka dari itu, mereka memiliki absolute performance potential yang sama. Mereka telah beristirahat cukup sebelum hari perlombaan dan telah mempersiapkan diri dengan nutrisi dan hidrasi yang cukup. Hal ini bertujuan untuk mengurangi rintangan fisik yang dapat mengurangi relative performance mereka pada hari itu. (Gee, 2010).
Yang akan membedakan atlet yang meraih juara pertama dan atlet lainnya adalah kemampuan atlet tersebut untuk mengatasi stres, tekanan, dan kecemasan yang diasosiasikan dengan posisi mereka pada ‘starting line’ final lari 100-m di kejuaraan Olympics. Rintangan-rintangan psikologis yang dihadapi para atlet bersifat individualized (terindividualisasi) sehingga performa mereka berbeda secara signifikan. Atlet yang mengatasi tekanan psikologis dengan efektif, dan meminimalisir akibat negatif dari rintangan psikologis yang telah disebutkan memiliki peluang lebih besar untuk mengerahkan performa yang paling mendekati potensi bawaannya dan memenangkan kejuaraan tersebut.
Salah satu rintangan psikologis yang dimaksud adalah precompetitive anxiety (kecemasan sebelum berkompetisi). Tercatat, kecemasan ini merupakan isu yang paling sering dihadapi oleh atlet kompetitif. (Hardy, 1997; Martens, Vealey, & Burton, 1990; Smith, Smoll, & Schutz, 1990). Kecemasan merujuk terhadap kekhawatiran kognitif dan respon autonomik tubuh yang disertai dengan situasi yang menimbulkan stres. Hal ini terjadi terutama ketika
- Tuntutan dirasa jauh lebih besar daripada kemampuan individu untuk memenuhi tuntutan tersebut
- Sukses mengerahkan performa yang terbaik penting bagi individu tersebut (Lazarus, 1991; Spielberger, 1966).
Riset di bidang behavioral sciences menunjukkan bahwa atlet membutuhkan tingkat aktivasi yang sedang (mereka tidak dapat berkompetisi dengan baik jika terlalu rileks) untuk berkompetisi secara optimal. Kecemasan dengan tingkat yang terlalu tinggi dapat mengganggu performanya (Hanin, 1995; Yerkes & Dodson, 1908). Kecemasan yang besar berpengaruh terhadap perceptual field atlet yang menyempit dan kemampuan individu untuk berpindah atensi (perhatian) menurun (Easterbrook, 1959). Secara fisiologis, kecemasan yang terlalu besar mengganggu fungsi fine motor (Oxendine, 1970), mengganggu pola aliran darah (Mathew & Wilson, 1990), mengganggu kemampuan membuat keputusan (Jones, 1990; Keinan, 1987), serta menyebabkan otot-otot tegang (Kleine, 1990). Semua hal itu dapat berefek negatif terhadap kemampuan atlet untuk mengeksekusi perilaku terkait olahraga dengan luwes dan terkoordinasi. (Gee, 2010).
Perbedaan antara rintangan psikologis dan rintangan dari lingkungan (misalnya, cuaca) adalah para atlet dapat mengendalikan faktor-faktor yang menjadi rintangan psikologis tersebut. Dengan mengendalikan faktor-faktor tersebut, atlet dengan absolute performance potential (kelebihan yang dihasilkan oleh faktor genetik) yang lebih rendah dapat mengungguli atlet yang lebih superior secara fisiologis. Atlet dengan absolute performance potential yang lebih rendah dapat meminimalisir pengaruh dari faktor psikologis dan memaksimalkan relative performance untuk suatu kejuaraan. (Gee, 2010).
Kecemasan dapat berupa konstruk kognitif (misalnya, kekhawatiran dalam pikiran) maupun somatik (misalnya tangan dingin, nafas pendek dan cepat). Strategi psikologis yang bertujuan mengurangi dampak kecemasan terhadap performa atlet harus mempertimbangkan kedua komponen (kognitif & somatik) (Burton, 1990 dalam Gee, 2010). Telah diakui bahwa dalam sport sciences kedua bentuk dari kecemasan saling berkaitan dan intervensi yang ditujukan untuk mengatasi satu bentuk dari kecemasan akan berdampak pada bentuk lainnya. (Hardy, Jones, & Gould, 1996 dalam Gee, 2010)
Cognitive Anxiety
Kecemasan yang besar dapat menyebabkan atlet melewati petunjuk-petunjuk penting seperti instruksi dari pelatih karena fokus perhatian mereja ditujukan pada pikiran — pikiran kekhawatrian dan keraguan terhadap diri sendiri. Strategi yang digunakan untuk mengatasi hal ini harus mempengaruhi bagaimana para atlet memprediksikan lingkungan kompetitif sebelum pertandingan dimulai atau kemampuan mereka untuk mengubah pikiran ketika berkompetisi. Strategi yang biasa digunakan adalah rational emotive therapy (RET; Ellis, 1982). Proses dari RET ini membantu atlet menginterpretasikan situasi yang kompetitif dengan rasional. (Gee, 2010).
Somatic Anxiety
Menurut Gee (2010), untuk mengatasi somatic anxiety, atlet dibantu untuk meregulasikan respon autonomic arousal (melakukan relaksasi). Hal ini dilakukan dengan cara mengenalkan terlebih dahulu seperti apa heightened arousal, kemudian mereka diajarkan cara menguranginya. Contoh relaksasi yang dilakukan adalah meditasi, three-part breathing, dan imagery.
Sebagaimana dijelaskan pula oleh Gee (2010), dalam menyampaikan bagaimana sports psychology dapat membantu atlet, cenderung muncul simplifikasi. Namun, dengan menjelaskan hal ini secara konkrit, atlet maupun pelatih dapat memvisualisasikan bagaimana sports psychology dapat membantu atlet mengatasi rintangan psikologis dalam berkompetisi dan bagaimana sports psychology membantu atlet. Sehingga atlet dan pelatih dapat lebih tepat sasaran dalam mengatasi rintangan-rintangan yang dihadapi atlet ketika berkompetisi.
Referensi
Gee, C. J. (2010). How Does Sport Psychology Actually Improve Athletic Performance? A Framework to Facilitate Athletes’ and Coaches’ Understanding. Behavior Modification, 34(5), 386–402. doi:10.1177/0145445510383525
Itah, I. (2018). Haornas 2018 Gemakan Tekad Bangun Indonesia. Diakses pada 3 September 2018, dari https://www.republika.co.id/berita/sepakbola/arena-olahraga/18/09/01/pecu0z348-haornas-2018-gemakan-tekad-bangun-indonesia
Wirawan, J. (2018). Asian Games 2018: Apakah sport science telah mendongkrak prestasi olahraga Indonesia? Diakses pada 3 September 2018, dari https://www.bbc.com/indonesia/amp/olahraga-45386628
