PROKRASTINASI

Fact News
Fact News
Sep 1, 2018 · 5 min read

“A man who puts off work is always at hand grips with ruin” - Hesiod, 800 S.M.

Halo, Good Readers! Pernahkan Good Readers menunda suatu pekerjaan selama beberapa jam, hari, atau bahkan beberapa minggu? Jika Good Readers pernah melakukan itu, maka Good Readers pernah melakukan prokrastinasi. Jadi, Good Readers, prokrastinasi adalah menghindari atau menunda pengerjaan sebuah tugas. Mungkin Good Readers juga sudah mengenali istilah ini, karena prokrastinasi adalah hal yang sangat rentan dilakukan oleh para pengguna internet.

Memang, internet ini dianggap sebagai distraktor yang membuat kita menunda pekerjaan. Tapi tahukah Good Readers kalau prokrastinasi sebenarnya adalah fenomena yang sudah dikenal dari zaman Yunani Kuno? Contohnya Hesiod, seorang penyair Yunani Kuno, mengatakan dalam puisinya yang berjudul Work and Days, sekitar 800 S.M. bahwa “a man who puts off work is always at handgrips with ruin”. Selain itu Cicero (106 S.M. - 43 S.M.) pada mengatakan bahwa prokrastinasi “detestable in the conduct of most affairs”.

Sejarah telah mencatat bahwa prokrastinasi adalah hal yang buruk. Tapi baru dalam 20 tahun terakhir ini para peneliti mulai tertarik dengan prokrastinasi.

PEOPLE WHO PROCRASTINATE VS. CHRONIC PROCRASTINATOR

Psikolog Joseph Ferrari dari DePaul University, Chicago mengatakan bahwa “Everyone procrastinates, but not everyone is a procrastinator.” Hal ini berarti orang yang melakukan prokrastinasi belum tentu merupakan prokrastinator kronis. Ferrari menjelaskan bahwa prokrastinator kronis adalah orang yang menjadikan prokrastinasi sebagai gaya hidupnya. Gaya hidup seperti ini dianggap maladaptif.

PROKRASTINASI DARI SUDUT PANDANG NEUROPSIKOLOGI

Prokrastinasi ini dapat dijelaskan oleh ilmu neuropsikologi, Good Readers. Laura Rabin dari Brooklyn College menyadari bahwa literatur-literatur yang ada tidak menjelaskan hubungan dari kerja otak bagian depan (frontal lobe) dengan prokrastinasi. Padahal, frontal lobe ini diketahui sebagai bagian dari otak yang bertanggung jawab dalam regulasi diri atau dalam proses-proses yang termasuk ke dalam fungsi eksekutif (executive functions) seperti self-control, planning, dan problem solving.

Maka dari itu, Rabin bersama kolega melakukan sebuah penelitian yang juga dipublikasikan di Journal of Clinical and Experimental Neuropsychology tahun 2011. Penelitian yang menggunakan metode asesmen self-report tersebut mengatakan bahwa adanya korelasi antara prokrastinasi dengan sembilan subskala fungsi eksekutif*.

Penelitian Rabin memang belum menjelaskan secara komprehensif mengapa kita melakukan prokrastinasi, namun penelitian ini mengusulkan bahwa prokrastinasi adalah “sebuah ekspresi yang subtle dari disfungsi eksekutif”. Untuk kemajuan penelitian terkait prokrastinasi selanjutnya, Rabin menyarankan agar dilakukan pemindaian otak. Menurut Rabin, ini dilakukan agar peneliti dapat lebih menjelaskan perilaku prokrastinasi.

DAMPAK PROKRASTINASI PADA MAHASISWA

Ilmuwan psikolog beranggapan bahwa prokrastinasi sama saja dengan tidak berprogres. Sebab dengan prokrastinasi kita cenderung tidak melakukan perilaku yang menguntungkan atau proaktif seperti problem solving atau membuat prioritas.

Penelitian tahun 1997 oleh Tice & Baumeister menemukan bahwa mahasiswa yang melakukan prokrastinasi pada awalnya berada pada level stres yang rendah. Hal ini diprediksi karena mereka menunda tugas dengan melakukan aktivitas lain yang dianggap lebih menyenangkan. Tetapi, pada akhirnya, kelompok mahasiswa ini memiliki nilai yang lebih rendah daripada mahasiswa yang tidak melakukan prokrastinasi. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa kelompok mahasiswa yang melakukan prokrastinasi pada akhirnya merasa lebih stres, bahkan rentan terkena penyakit.

CARA MENCEGAH DIRI MELAKUKAN PROKRASTINASI

Alexander Rozental, peneliti prokrastinasi dan psikolog klinis dari Karolinska Institutet, Swedia mengatakan bahwa ada beberapa alasan orang-orang melakukan prokrastinasi. Pertama, karena tidak ada nilai / value yang diasosiasikan dengan tugas yang harus dikerjakan. Contohnya, ketika seorang murid tahu bahwa pekerjaan rumah tidak akan diperiksa oleh gurunya maka ia cenderung akan melakukan prokrastinasi. Kedua, karena orang yang melakukan prokrastinasi berpikir bahwa apa yang ia kerjakan tidak akan mencapai atau memenuhi standar. Ketiga, karena tidak berencana untuk mencapai apa-apa dengan tugas yang ia kerjakan dalam jangka waktu dekat. Keempat, karena sifat orang yang impulsif, sehingga mudah terdistraksi untuk mengerjakan hal lain ketika sedang menyelesaikan sebuah tugas. Jadi, secara singkat, prokrastinasi ini dipengaruhi oleh ekspektasi, nilai, waktu, dan sifat impulsif.

Menurut David Ballard, Kepala American Psychological Association’s Center for Organizational Excellence, pun beranggapan bahwa keempat aspek tadi berpengaruh besar terhadap prokrastinasi. Keempat aspek tadi penting untuk diketahui agar kita dapat menentukan cara menghindari prokrastinasi itu sendiri. Jadi, sebelum kita menentukan cara untuk tidak melakukan prokrastinasi, pertama kita harus tahu mengapa kita melakukan prokrastinasi. Berikut adalah cara-cara agar kita dapat menghindari prokrastinasi berdasarkan alasan-alasan mengapa prokrastinasi itu terjadi.
Ketahui rentang waktu di mana kita merasa paling produktif. Contohnya, jika kita merasa kita dapat melakukan suatu tugas lebih baik di pagi hari, maka lakukanlah di pagi hari.

Jika merasa terbebani oleh tugas yang besar, maka pecahlah tugas tersebut ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil. Sehingga kita dapat mengerjakan tugas-tugas kecil tersebut satu per satu hingga akhirnya tugas besar tersebut selesai.

Jika kita merasa suatu tugas tidak terlalu penting karena ada rentang waktu yang cukup lama hingga deadline pengumpulan, maka kita dapat membagi tugas tersebut ke dalam tugas-tugas kecil juga yang dapat dikerjakan seiring waktu hingga waktu pengumpulan tiba. Kita juga dapat menjadwalkan kapan kita harus melakukan tugas-tugas kecil tersebut dan kapan tugas tersebut dapat diselingi oleh aktivitas yang menyenangkan sehingga kita tidak bosan. Selain itu, kita juga bisa menghayati kembali mengapa kita harus mengerjakan tugas tersebut serta komitmen seperti apa yang kita tunjukkan dengan pengerjaan tugas tersebut.

Jika kita mudah terdistraksi, misalnya terdistraksi dengan gadget atau internet, maka kita dapat berusaha untuk menghilangkan distraksi tersebut. Jadwalkan waktu tanpa menggunakan gadget. Selain distraksi, hal lain yang harus diperhatikan adalah multitasking. David Ballard mengatakan bahwa kita sering beranggapan dengan multitasking kita dapat menyelesaikan banyak tugas sekaligus, tetapi sebenarnya hal tersebut dapat membuat kita merasa belum menyelesaikan apa-apa karena adanya hal lain yang belum selesai dikerjakan. Ballard mengatakan, sebaiknya kita mengambil waktu untuk menyelesaikan suatu tugas, beristirahat dengan melakukan refreshing, kemudian baru kita mulai mengerjakan tugas yang lain.

Dalam waktu-waktu tertentu, kita bisa saja menemui rintangan dalam suatu pekerjaan. Ballard mengatakan jika deadline pengumpulan tugas tersebut belum terlalu dekat, maka sebaiknya kita beristirahat sejenak kemudian baru kita kembali bekerja dan menghadapi rintangan tersebut.

Catatan

  • Sembilan subskala fungsi eksekutif : impulsivity, self-monitoring, planning and organization, activity shifting, task initiation, task monitoring, emotional control, working memory, and general orderliness

Referensi

Biello. (2007). Why Do Today What You Can. Diakses pada 12 Agustus 2018, dari https://www.scientificamerican.com/article/why-do-today-what-you-can/

Ducharme. (2018). Psychologists Explain Why You Procrastinate - An How to Stop. Diakses pada 12 Agustus 2018, dari http://time.com/5322514/stop-procrastinating-tips/

Hamilton, A. (2010). Psychology of Procrastination: Why People Put Off Important Tasks Until the Last Minute. Diakses pada 12 Agustus 2018, dari http://www.apa.org/news/press/releases/2010/04/procrastination.aspx
Jaffe. (2013).

Why Wait? The Science behind Procrastination. Diakses pada 12 Agustus 2018, dari https://www.psychologicalscience.org/observer/why-wait-the-science-behind-procrastination

Rabin, L., Fogel, J., & Eskine, K. (2010). Academic procrastination in college students: The role of self-reported executive function. Journal of clinical and experimental neuropsychology. 33. 344-57. 10.1080/13803395.2010.518597.

Stodola. (2015). Procrastination Through the Ages: A Brief History of Wasting Time. Diakses pada 12 Agustus 2018, dari http://mentalfloss.com/article/63887/procrastination-through-ages-brief-history-wasting-time

Fact News
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade