Psychosomatic

Fact News
Fact News
Nov 2 · 4 min read

Definisi Psikosomatis

Istilah psikosomatis digunakan untuk menggambarkan gangguan fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor mental, seperti stres dan kecemasan. Ketika stress atau cemas, sistem saraf mengeluarkan hormon adrenalin untuk kondisi fight-or-flight serta hormon kortisol yang merespon stress. Hal ini mempengaruhi tekanan darah, detak jantung, pencernaan, dan kadar glukosa dalam darah.

Orang yang memiliki gangguan psikosomatis bisa merasakan gejala gangguan di fisiknya, seperti gemetar, maag, diare, sakit kepala, mual, kejang otot, nyeri dada, sakit punggung, sesak napas, susah tidur, impotensi, batuk, mati rasa, atau penurunan berat badan. Bahkan dalam sebuah penelitian terhadap 1000 pasien dengan gejala-gejala tersebut dalam jangka waktu 3 tahun, ditemukan hanya 16% saja yang memang disebabkan oleh penyakit fisik. Walaupun masih belum bisa disimpulkan bahwa 84% lainnya hanya disebabkan oleh gangguan psikosomatis.

Fenomena Psikosomatis

Gangguan psikosomatis menyebabkan disfungsi atau kerusakan struktural pada organ tubuh melalui aktivasi yang tidak tepat dari sistem saraf involunter dan kelenjar sekresi internal. Oleh karena itu, gejala psikosomatis dimunculkan sebagai penyakit fisiologis yang disebabkan keadaan emosional. Misalnya dalam keadaan marah, tekanan darah, denyut nadi, serta laju pernapasan orang yang marah cenderung meningkat. Ketika kemarahan mereda, proses fisiologis yang meningkat tersebut biasanya ikut mereda. Namun, jika seseorang memiliki rasa marah yang berkesinambungan (kemarahan kronis) dan tidak diungkapkan secara terbuka, maka keadaan emosi pun tetap tidak akan berubah. Tak hanya itu, gejala fisiologis yang muncul saat marah juga akan tetap muncul, meski tidak diekspresikan secara terbuka.

Seluruh bagian tubuh dapat dipengaruhi oleh gangguan psikosomatis dan setiap individu memunculkan gangguan psikosomatis yang berbeda-beda. Misalnya, saat kegiatan pembelajaran di kelas merasa kepalanya sakit, tetapi setelah bermain game sakit pada kepalanya itu otomatis hilang. Sebuah riset yang dilakukan oleh psikiater Franz Alexander dan rekan-rekannya di Chicago Institute of Psychoanalysis pada tahun 1950-an dan 1960-an menunjukkan bahwa ciri-ciri kepribadian spesifik dan konflik spesifik dapat menyebabkan penyakit psikosomatik tertentu.

Fenomena psikosomatis terjadi pada salah satu entertainment Indonesia yaitu Tri Retno Prayudati atau yang akrab dipanggil Nunung Srimulat. Nunung mengaku bahwa dirinya mengidap psikosomatis dan saat ini tengah menjalani proses terapi. Penyakit yang dialaminya itu sudah berlangsung selama 6 tahun. Sebelumnya, dia sudah mencoba berobat ke Singapura dan disuntik puluhan kali, tetapi tidak kunjung mendapatkan hasilnya. Nunung pun memutuskan untuk berobat ke psikiater di Jakarta. Selain tindakan khusus, dia mengaku mengkonsumsi obat penenang yang diberikan oleh salah satu psikiater di Jakarta yaitu Prof Sasanto.

Perbedaan antara Psikosomatik dan sakit/gejala yang sebenarnya

Secara kasat mata, sangatlah sulit dan rumit dalam membedakan mana yang psikosomatis dan juga sakit/gejala yang sebenarnya. Dalam mengartikan suatu rasa sakit atau gejala penyakit, dibutuhkan spesifikasi-spesifikasi khusus dalam mendiagnosa rasa sakit tersebut sehingga sebenarnya kalau memang ada suatu rasa sakit atau gejala sakit yang muncul dan mengganggu, direkomendasikan untuk segera menghubungi pihak profesional terkait.

Namun, dengan kewaspadaan yang tinggi sebenarnya psikosomatis dapat kita sadari. Akan tetapi tetap sangat disarankan untuk berkonsultasi ke psikiater atau psikolog. Jika seseorang mengalami rasa sakit atau gejala sakit yang terjadi secara berulang atau terjadi secara “musiman” di kehidupan sehari-hari, ada kemungkinan kalau rasa sakit atau gejala sakit itu adalah psikosomatis. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, psikosomatis merupakan gangguan fisik yang disebabkan oleh gangguan psikologis tubuh. Ketika kita sedang stress atau banyak pikiran, lalu tiba-tiba ada rasa sakit atau gejala sakit seperti mungkin diare ataupun sakit kepala serta kejadian tersebut terjadi secara berulang dengan alur yang sama (karena stress), kemungkinan besar sakit atau gejala itu merupakan psikosomatis sehingga direkomendasikan untuk segera menghubungi psikolog atau psikiater jika memang sudah parah dan mengganggu. Selain itu, kita dapat “menyadari” gejala atau sakit psikosomatis ketika kita sudah menghubungi dokter umum dan minum obat tapi sakitnya masih tetap muncul.

Jika muncul penyakit yang terjadi sesekali saja dan tidak beraturan, ada kemungkinan bahwa itu bukanlah psikosomatis. Perlu digarisbawahi, dalam menentukkan sebuah sakit atau gejala adalah psikosomatis atau bukan lebih baik pergi ke pihak yang terkait. Peran kita sebagai pasien hanya sekedar untuk mewaspadai dan menyadari apa yang kita lakukan dan itu saja sudah lebih dari cukup dalam mengatasi secara efektif jenis gejala atau sakit yang sedang kita hadapi.

Solusi

Ketika kita merasa berulang kali mengalami gejala-gejala seperti gemetar, maag, diare, sakit kepala, mual, kejang otot, nyeri dada, sakit punggung, sesak napas, susah tidur, impotensi, batuk, mati rasa, atau penurunan berat badan, coba perhatikan kondisi yang menyertainya. Kenali diri kita sendiri. Apakah kita sedang berada dalam kondisi stress atau cemas ketika merasakan gejala tersebut? Karena mungkin saja gejala tersebut bukan disebabkan oleh penyakit di tubuh. Oleh karena itu, mengkonsumsi obat setiap kali gejala fisik tersebut muncul sangat tidak dianjurkan. Hal itu hanya akan mengakibatkan ketergantungan dan habituasi obat tanpa mengatasi sumber gangguannya (stress dan kecemasan).

Solusi yang paling penting adalah manajemen stress. Bagaimana cara kita menangani stress akan sangat berpengaruh terhadap keadaan mental kita. Selain itu, gangguan psikosomatis bisa diatasi atau diringankan dengan beberapa cara, seperti cognitive behavioral therapy (CBT), transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), mengonsumsi antidepresan atau obat penghilang rasa sakit non-narkotika, latihan relaksasi, teknik distraksi atau pengalihan, akupuntur, dan hipnoterapi.

Daftar Pustaka

https://www.psychologytoday.com/us/blog/happiness-in-world/201003/psychosomatic-symptoms

https://www.verywellmind.com/how-to-handle-psychosomatic-illness-3145090

https://www.britannica.com/science/psychosomatic-disorder

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4637093/mengenal-psikosomatis-kondisi-kejiwaan-yang-dikeluhkan-nunung

https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/31/150902765/mengenal-psikosomatis-penyakit-mental-yang-dialami-kevin-jebolan-indonesian?page=all

    Fact News

    Written by

    Fact News

    Dept. Kajian Strategis BEM Kema Fapsi Unpad 2019 Kepengurusan Dineshcara

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade