The Brains of Political Animals: Neuroscience of Politics

“It is evident that the state is a creation of nature, and that man is by nature a political animal.”

— Aristotle

The Emergence of The Neuroscience of Politics

Satu pertanyaan yang menjadi perdebatan filsuf dalam politik selama berabad abad adalah, “Kondisi kognitif apa yang memungkinkan manusia hidup bersama?” Kognisi berkaitan erat dengan neuroscience, ilmu yang mempelajari tentang otak dan sistem saraf, dan bagaimana manusia hidup bersama, dapat dilihat dari sudut pandang social neuroscience serta politik. Kombinasi antara social neuroscience dan ilmu politik ini mengembangkan cabang ilmu yang disebut sebagai political neuroscience, yang mengkaji tentang kerja otak dalam perilaku politik, seperti bagian otak mana yang aktif dalam perilaku politik tertentu. Namun, ini barulah awal mula dari political neuroscience, dan brain-mapping, peran bagian otak tertentu dalam fungsi kognitif atau perilaku tertentu, tidak semerta-merta menyederhanakan penyebab suatu perilaku.

Satu pertanyaan yang muncul dari kajian neuroscience adalah, seberapa besar kontrol yang kita miliki atas diri kita?

Kita lebih senang beranggapan bahwa keputusan penting yang kita buat dan sikap yang kita junjung berdasar pada alasan-alasan yang mendalam serta pemikiran-pemikiran yang kita bentuk secara sadar.

Namun kenyataanya, proses bagaimana otak kita menimbang suatu persoalan, memutuskan, dan menentukan sikap berlangsung tanpa kita sadari. Walaupun kita memiliki rasionalisasi atas sikap dan keputusan kita, sikap dan keputusan tersebut telah terbentuk sebelumnya secara tidak sadar, dan sikap serta perilaku politik bukanlah pengecualian.

Selain itu, kita dipengaruhi oleh lingkungan kita, bahkan oleh hal yang sekilas tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan tersebut sekalipun, seperti hand sanitizer dengan orientasi politik, yang akan kita bahas lebih lanjut nanti.

How the Brain Influence Our Vote

Riset di McGill University menyatakan bahwa dalam mengombinasikan informasi mengenai kandidat politik dari berbagai sumber, bagian pada otak yang dinamakan lateral orbitofrontal cortex (lOFC) harus berfungsi dengan baik. Kerusakan pada LOFC dapat memengaruhi vote seseorang. Contohnya orang yang LOFC nya mengalami kerusakan cenderung mendasarkan vote mereka pada penampilan fisik kandidat.

Westen (2007) menggunakan functional MRI untuk mempelajari regional brain activity setelah subjek penelitian diberikan informasi kurang menyenangkan terkait kandidat politik yang mereka dukung sepenuhnya. Westen melakukan penelitian ini pada masa pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2004.

Menurut Westen (2007), ketika subjek penelitian memroses informasi tersebut, neural circuit dalam lymbic system yang mengatur emosi merektrut kepercayaan yang mengeliminasi distress and konflik yang muncul ketika berhadapan dengan realita. Sedangkan, neurocortical circuits yang terlibat dalam penalaran tidak terlalu aktif dalam bekerja.

How the Brain Correlates With Political Orientation

Tentunya hal sederhana yang tidak ada sangkut pautnya, seperti hand sanitizer, tidak akan menggeser sikap politik kita ke arah kanan, bukan?

Sayangnya, ya, orientasi politik kita dapat digeser oleh sesuatu seperti hand sanitizer, kemungkinan karena hand sanitizer mengingatkan kita akan ancaman dan bahaya. Hasil penelitian menunjukkan ketika seseorang ditanyai pendapat tentang isu politik dengan hand sanitizer di dekat mereka, orientasi politik mereka bergeser menjadi lebih konservatif.

Penelitian menunjukkan bahwa orientasi politik berkorelasi dengan struktur otak. Kanai et al (2011) menyatakan bahwa paham liberalism (dianut partai Democrat di Amerika Serikat) diasosiasikan dengan volume gray matter dalam anterior cingulate cortex dan paham conservatism (dianut partai Republican) diasosiasikan dengan ukuran amygdala yang membesar.

Selain itu, Schreiber et al (2013) menyatakan bahwa ketika kaum liberal dan kaum conservatist mengambil sebuah risiko, proses kognitif yang terlibat berbeda. Kaum liberal menunjukkan lebih banyak aktivitas pada insula bagian kiri otak, sedangkan kaum konservatif menunjukkan lebih banyak aktivitas pada amygdala bagian kanan otak. Kaum konserfatif juga menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap stimulus yang sifatnya threatening / mengancam.

Political Conflicts and How an MRI Can Solve Them

Social Cognitive Neuroscience Lab, the Department of Political Science dari Massachusetts Institute of Technology, dan Beyond Conflict — sebuah organisasi yang internasional non-pemerintah yang berdedikasi untuk mencapai rekonsiliasi dan perdamaian dunia — bekerja sama menggunakan pengetahuan neuroscience untuk menciptakan resolusi konflik strategis yang lebih efektif.

MRI digunakan dengan harapan menemukan mekanisme otak yang melatarbelakangi bias, intergroup conflict, judgement, prejudice, dehumanisasi, dan sebagainya. Dengan MRI, peneliti dapat mengakses langsung apa yang terjadi di dalam otak. MRI dapat memperlihatkan bias dan empati pada otak, yang disadari maupun yang tidak disadari.

Living Together: How Our Brain Shapes Our View

Jika kalian merasa terganggu dengan fakta bahwa orientasi politik dapat dipengaruhi oleh hal kecil seperti hand sanitizer, coba tentang yang satu ini: dehumanisasi.

Kita semua pernah melakukannya. Dehumanisasi, memandang rendah orang lain, “tidak menganggapnya sebagai manusia” dapat berwujud dalam berbagai perilaku anti-sosial, mulai dari menganggap orang lain sebagai “out-group” yang berbeda dari diri kita, berprasangka, mengabaikan, hingga pembunuhan masal.

Dehumanisasi ini dapat dilihat dari aktivasi otak. Salah satu bagian otak yakni, Medial Prefrontal Cortex (mPFC) aktif pada saat kita melihat atau memikirkan, atau berinteraksi dengan orang lain, tetapi mPFC tidak aktif pada saat kita melihat benda mati. Namun mPFC tidak begitu aktif saat kita melihat orang yang kita dehumanisasi (out group), entah itu adalah pengemis, pecandu, atau orang dari kelompok yang berbeda. Otak kita melihat orang-orang ini seakan mereka benda mati.

Otak kita terprogram untuk bersosialisasi, menjangkau orang lain dan membentuk “in group.” Namun untuk setiap “in group”, terdapat outgroup. Hal yang berperan dalam kemanusiaan merupakan hal yang sama dengan hal yang berperan dalam ketidakmanusiaan: empati.

Penelitian menunjukan bagian otak yang berperan dalam mempersepsi rasa sakit, anterior cingulate cortex, aktif di saat kita melihat orang yang termasuk dalam kelompok yang sama dengan kita (in group) terluka, namun tidak begitu aktif saat kita melihat orang dari kelompok berbeda (out group) terluka.

Dalam politik, dehumanisasi, sikap “us vs them” seringkali terwujud dalam stereotype, prasangka, dan diskriminasi pada kelompok tertentu, dan hal ini mulai terjadi di alam bawah sadar.

Otak kita begitu cepat membuat penilaian dan membagi-bagi orang berdasarkan kelompok. Otak kita juga dapat terpengaruh dan rentan terhadap bias. Prinsip ini menjadi suatu alat yang sering kali digunakan dalam politik. Persuasi di dunia politik digunakan mulai dari kampanye, hingga propaganda, perang, dan pembunuhan masal.

Lalu senjata apa yang dapat kita gunakan untuk melawan bias dan dehumanisasi?

Otak kita dilengkap dengan gray matter, substansi yang beperan dalam memori, kontrol diri, dan pengambilan keputusan. Gray matter ini bertambah volumenya saat kita terpapar oleh pengetahuan yang luas dan informasi baru.

Memaparkan diri dengan informasi baru, informasi yang berlawanan dengan keyakinan kita atau stereotype yang kita miliki mengenai orang lain, dapat memperluas gray matter, mengubah struktur dan fungsi otak sedemikian rupa sehingga mengurangi bias yang kita miliki. Berbincang dan berbagi pendapat dengan orang lain yang memiliki keyakinan berbeda dari kita, atau “out group” dari “in group” kita merupakan senjata untuk menahan diri kita dari bias. Bahkan menyadari bahwa otak kita rentan terhadap bias dan dehumanisasi dapat membuat kita lebih terbuka untuk berbagi pemikiran dengan orang lain yang tidak sependapat dengan kita.

Senjata ini, keterbukaan ini, merupakan kunci untuk mebentuk masyarakat yang mampu bekerja sama dan bebas dari diskrimiasi, serta menciptakan kemanusiaan yang lebih baik untuk setiap orang agar dapat hidup bersama.

Reference

Eagleman, D. (2015). The Brain: The Story of You. New York: Pantheon Books.

Kanai, et al. (2011). Political Orientations Are Correlated with Brain Structure in Young Adults. Curr Biol. 21 (8): 677–80. doi:10.1016/j.cub.2011.03.017. PMC 3092984 . PMID 21474316.

Kar, A. (2015). How Your Brain is Telling You to Vote Retrieved March 20, 2018 from https://www.mcgill.ca/neuro/channels/news/how-your-brain-telling-you-vote-253435

Karagianis. (2015). Using MRI to Advance More Peaceful World. Retrieved March 20, 2018, from http://news.mit.edu/2015/using-mri-to-advance-more-peaceful-world-0709

McNally, K. (2017). This is Your Brain on Politics: The Neuroscience That Shapes Our Views. Retrieved March 21, 2018, from https://news.virginia.edu/content/your-brain-politics-neuroscience-shapes-our-views?amp

Schreiber D, Fonzo G, Simmons AN, Dawes CT, Flagan T, et al. (2013) Red Brain, Blue Brain: Evaluative Processes Differ in Democrats and Republicans. PLOS ONE 8(2): e52970. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0052970

Westen. (2007). The Political Brain: The Role of Emotion in Deciding the Fate of the Nation. New York City: Public Affairs