Filosofi Padi: Semakin Berisi Semakin Merunduk?

Sebagian dari kita mungkin pernah mengetahui nasihat ini:

“Jadilah seperti padi. Semakin berisi, semakin meruduk”

Sebagai sebuah analogi, banyak dari kita yang mengartikan seperti pendapat yang berikut ini. Jika semakin hari kita semakin berilmu dan juga kaya akan pengalaman, maka tidak sepantasnya apabila kita menggembar-gemborkan keilmuan dan pengalaman kita. Tidak perlu orang lain tahu betapa hebatnya diri kita, takut dikira sombong.

Seandainya kita adalah anggota sebuah organisasi yang memiliki pemahaman seperti pemahaman di atas, apakah kita akan menjadi anggota yang kontributif? Tentu tidak. Karena takut dikira sombong, kita memilih untuk diam. Ide dalam kepala kita terus bermunculan namun akhirnya kita pendam kembali agar kita tidak dikira sok tahu. Kita memutuskan untuk menjadi “padi” yang semakin merunduk.

Seandainya kita adalah karyawan dalam suatu perusahaan, apakah kita akan menjadi karyawan yang perform? Tentu tidak. Setiap ilmu baru yang kita dapatkan tidak pernah kita coba terapkan dalam perusahaan karena takut dikira cari musuh. Karir kita akan kalah dengan mereka yang memberikan banyak kontribusi berupa ide-ide yang fresh from the mind.

Kita perlu berhati-hati dalam mengambil pelajaran dari falsafah padi. Sayangnya, sebagian dari kita masih ada yang memiliki pemahaman seperti pada paparan di atas. Tidak heran apabila orang-orang seperti itu dianggap sebagi orang yang pasif dan jarang memberikan ide-ide yang membangun untuk kemajuan orang-orang di sekitarnya.

Kita perlu ingat bahwa padi yang sudah berisi dan merunduk akan segera dipanen. Beras yang dihasilkan akan menjadi sumber kehidupan bagi manusia. Manusia akan menciptakan peradaban yang terus berkembang waktu demi waktu. So, mungkin kita bisa mengatakan bahwa peradaban dimulai dari sebutir padi.

Sebagai makhluk sosial, kita perlu menganut falsafah padi secara menyeluruh, yakni padi sebagai sumber kehidupan. Dengan kata lain, kita perlu menjadi manusia yang terus berkontribusi dalam segala aspek kehidupan kita. Kita perlu menjadi manusia yang ikut dalam membangun peradaban.

Bagaimana cara kita untuk ikut berkontribusi? Mulailah dari hal-hal sederhana yang mampu kita lakukan. Apabila kita adalah karyawan yang memiliki bawahan, persiapkan bawahan kita untuk menempati posisi kita karena kita pun akan segera naik ke level berikutnya. Apabila kita adalah seorang ayah/ibu, didiklah anak kita agar menjadi orang yang bermanfaat. Apabila kita pandai menulis, buatlah tulisan dan bagikan ide-ide di kepala kita agar dapat menginspirasi orang banyak. Lakukan apa yang bisa kita lakukan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mochamad Fadli’s story.