Tanpa Rehat

Farizan Ramadhan
Sep 3, 2018 · 2 min read

Rutinitas membentuk pola, yang seringkali bisa dianggap membosankan karena polanya sudah bisa ditebak.

Baru saja saya membaca artikel bagus :
https://medium.com/the-mission/how-to-reduce-stress-91f74e22c878

Disana tertuang saran untuk mereduksi / mengurangi stress, baru saja masuk ke poin 1, sudah senyum-senyum sendiri saya. Rasanya ada yang tidak mungkin saya kurangi untuk urusan < 40 jam per minggu.

Kemudian, akhir minggu lalu. Ketika saya seharian berada di rumah, saya secara tidak sadar membuka laptop dan memeriksa apa yang bisa dikerjakan. Beberapa saat kemudian, saya terdiam. Sudah jelas ini sesuatu yang kurang tepat menghadapi malam minggu. Saya perlu rehat, minimal tertidur. Namun, ternyata tidur pun tak bisa.

Mencoba berselancar di media sosial, melihat orang lain yang memanfaatkan waktu di malam minggu untuk berjalan-jalan, melepas penat pekerjaan atau memang setiap hari pekerjaannya adalah melepas penat.

Hal ini membuat saya tidak begitu menyukai akhir minggu, karena motivasi saya tidak hadir dan tidak ada di akhir minggu.

Pernah ketika masa kuliah, di mana yang lain sedang tertidur, saya masih terjaga mengerjakan tugas atau mengerjakan pekerjaan sampingan untuk menambah uang jajan.

Dan kini, ketika yang lain sedang berjalan-jalan dan bersantai, saya masih berkutat dengan pekerjaan yang saya bangun sendiri sejak beberapa tahun lalu. Aneh rasanya, di satu sisi saya menyukai apa yang sudah saya bangun dengan susah payah akhirnya sudah membentuk pola, tapi kini pola ini terlalu mudah ditebak dan menurut saya membosankan.

Kurang piknik, ini mungkin frasa yang tepat. Saya kembalikan lagi, jika definisi piknik adalah pergi ke tempat baru, saya cukup sering melakukan ini, sendirian saja (dan berteman laptop yang terisi penuh baterainya).

Kabar baiknya, ini masih awal minggu.. masih hari senin, akhir minggu masih jauh.

    Farizan Ramadhan

    Written by

    photography & IT enthusiast