BERMINAT BELI IPHONE 6?

Apple baru saja meluncurkan seri terbaru dua ponsel cerdas miliknya iPhone 6 dan iPhone 6 plus. Menjadi ramai diberitakan bukan karena antrian panjang pembelian seperti yang terjadi di seri-seri sebelumnya, tapi karena iPhone 6 keluar dari pakem layar 4 inch.

Bisa jadi Steve Jobs di atas sana mangkel melihat kenyataan penerusnya mengabaikan apa yang ia pernah katakan bahwa “No one is going to buy a big phone”. Tapi dia kan sudah tiada, dan Apple sadar dengan kenyataan banyak orang yang suka Hp layar lebar, apalagi buat yang matanya rada lamur.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang berkembang dari sejak awal kehadirannya, iPhone menurut saya tetap menjadi produk Apple yang paling bombastis dari segi merek, pemasaran hingga harga jual. Di Singapura, menurut laporan TiA iPhone 6 dibandrol Rp 9 jutaan sementara iPhone 6 plus harganya hampir mencapai 11 juta. Kalau nanti masuk secara resmi di Indonesia harganya pasti akan lebih melonjak, tambahkan saja kira-kira 20–30%, jangan-jangan malah lebih. Untuk sebuah henpon, harga tersebut masuk kategori mahal, bukan cuma di Indonesia, pun termasuk di negara-negara lain. Padahal biaya produksi untuk dua produk itu cuma berkisar 3 jutaaan. Tapi tetep aja laku. Hebat kan Apple …

Is it worth to buy?

Buat penyuka barang mewah, sosialita dan terutama social climber, this is a must have item. Alasannya, iPhone might boosting one’s leverage in social circle. Membawa 911 atau LV hanya bisa dilakukan pada saat-saat tertentu, but hand-carry and using iPhone in a crowd actually doable on a daily basis in almost every occasion. Apalagi iPhone 6 tampil beda dengan kakak-kakaknya.

Sekedar membandingkan, Samsung, LG, HTC atau Sony mengeluarkan banyak jenis serta seri dengan tampilan yang mirip-mirip. Kalau hanya melihat secara sekilas sebuah Hp dari merek-merek tersebut agak sulit untuk menebaknya. Tapi tidak dengan iPhone, dari seri 1 sampai 5 iPhone hanya mengeluarkan satu hingga dua seri dengan bentuk yang relatif sama, dan justru itu jadi mudah dikenali. Di seri ke-6, dengan layar yang membesar, mungkin iPhone terlihat seperti Hp Android lainnya, tapi logo Apple di casing-nya akan membuat perbedaan sangat besar terutama ketika dipegang.

Cuma, dari sisi teknologi sejatinya tidak ada state-of-the-art technology yang ditawarkan iPhone 6 & 6+. Sebuah meme menggambarkan, beberapa fitur yang ada di iP6 ternyata sudah hadir lebih dulu di Nexus 4 yang diluncurkan tahun 2012! Tidak usah yang paling baru, iPhone 4 yang saat ini banyak digunakan karena harganya lebih bersahabat, fiturnya tidak lebih lengkap dari Hp Android saya yang murmer.

Tapi mungkin juga ketidak baruan dan ketidak berlimpahan teknologi yang ada iPhone cocok dengan profil pengguna seperti di Indonesia. Jujur saja, dari sekian banyak fitur dan teknologi yang disediakan oleh sebuah ponsel cerdas (bukan cuma iPhone ya..) berapa persen sih yang digunakan oleh si empunya? Jangan kaget kalau Hp seharga 6 jutaan ke atas hanya buat telpun, sms, sosmed dan foto. Bahkan saudara saya pemilik iPhone tidak tahu apa fungsinya FaceTime … whatta #%**

Siri mungkin yang bisa diandalkan kalau ada yang bertanya fitur pembunuh apa yang ditawarkan oleh iPhone baru ini. Saya yakin iPhone akan menyempurnakannya dengan lebih baik karena iPhone (kalau tidak salah) yang memperkenalkan pertama kali asisten virtual dalam sebuah Hp. Sayangnya Siri mungkin belum terlalu “ngefek” buat digunakan di Indonesia. Sekali lagi mungkin ya karena terus terang saya belum pernah coba fitur ini. Tapi yang punya iPhone 5 dan 6 yang akan datang, di tes aja bagaimana hasilnya. Coba misalnya bilang “Telepon pacar”, atau “Putar lagu dangdut” atau “Cari SPBU terdekat”, atau “Booking kamar di Alexis” … misalnya loh …, trus lihat gimana hasilnya. Kalau perlu bandingin dengan Google Now di Android, tinggal lihat siapa asisten yang paling jago.

Buat saya pribadi, iPhone adalah kecanggihan yang “terbatas”, maksudnya kebanyakan terbatas cuma untuk lingkar dalam produk Apple. Mau pairing blutut dengan Hp Android gak bisa, mau copas lagu dari pc Windows apalagi, bisa sih.. tapi musti instal aplikasi pihak ke-3. Apple sepertinya sengaja mendisain teknologi atau fitur yang bisa dijalankan secara langsung hanya di dalam ekosistem produk-produk Apple.

Salah satu contoh gampangnya gini, coba donlot lagu apapun tapi format/ekstensinya flac. Terus coba mainkan di iPhone, dijamin pasti gak bisa karena memang gak support. Free Lossless Audio Codec (flac) adalah format audio yang kualitas suaranya hampir setara dengan CD karena itu ukuran filenya besar. Satu lagu ada yang sizenya sampe 60 MB trus bitratenya bisa sekitar 700 kbps. Sementara lagu-lagu yang tersedia di internet (legal ataupun illegal) mayoritas berformat mp3. Di perangkat yang punya audio output jempolan, mendengarkan lagu dengan format flac terasa sangat yahud karena kualitasnya bagus tanpa harus membeli CD.

Apa berarti audio playback iPhone payah? Nggak juga, Apple punya teknologi sendiri yang namanya ALAC (Apple Lossless Audio Codec). Kualitasnya dikatakan sama dengan flac, saya sendiri belum pernah denger tapi saya percaya dengan kualitasnya. Lagu dengan ekstensi alac cuma bisa diputar di perangkat Apple seperti iPhone, iPad dll. Sementara format flac lebih lintas platform, di Samsung Galaxy S5 bisa, BlackBerry Passport yang baru juga bisa. Gitulah maksud gambaran bahwa Apple mencipakan beberapa teknologi yang bukan untuk ‘semua’, hanya dari mereka dan untuk mereka.

Belum lama ini saya baca artikel yang menjelaskan mudahnya memindahkan file termasuk lagu dan video dari pc Windows atau Hp Android ke iPhone. Frankly my dear, membacanya saja sudah membuat saya .. pheww. Buat saya, apapun yang tidak bisa secara langsung memindahkan berkas dari satu perangkat ke perangkat lainnya apalagi kalu harus pasang software baru, tetap saja bukan suatu proses yang sederhana.

It’s Apple

Sekalipun tampil dengan berbagai ‘keterbatasan’ yang ditawarkan, iPhone 6 dilaporkan laku banget. Katanya ada orang Indonesia yang beli via online (saya benci menggunakan kata daring!) iPhone 6 versi unlocked seharga 18 juta … wuihhh. Apple sendiri mengklaim berhasil menjual sebanyak 10 juta unit worldwide. Kok bisa? Dari awal iPhone lahir dengan bentuk yang proporsional dan elegan, juga kualitas material di atas rata-rata, dan iPhone 6 pastinya juga dibuat dengan cara yang sama. Spek iPhone meski bukan yang terkuat dan teranyar tetap menghasilkan kinerja yang bagus serta memberikan rasa berbeda yang menyenangkan. Secara pribadi, saya menilai tampilan sistem setting iPhone jauh lebih simple dibanding Android. Di atas segalanya, kenapa bisa laku masal, because it’s Apple. Apapun yang ditempelkan merek Apple hampir pasti dibeli atau paling tidak disukai orang.

Kalau gak percaya coba lihat di Youtube waktu Jimmy Kimmel dan timnya ngerjain pejalan kaki di Hollywood Boulevard Amerika.
Ceritanya, tim Jimmy Kimmel Live mewawancarai pejalan kaki untuk meminta pendapat tentang produk jam pintar Apple yang akan diproduksi dan segera dipasarkan dengan nama iTime. Sambil bertanya, ditunjukkanlah sebuah jam digital berbahan karet yang bisa dicoba dan diperiksa. Hasilnya, semua yang diwawancarai memuji jam tersebut , rata-rata bilang jam itu bagus, ringan dan tertarik untuk beli, awesome kata seorang cowok, dan seorang wanita bahkan bilang I would buy anything from Apple. Kenyataannya, itu cuma jam Casio seharga 20 dollar yang bagian belakangnya ditempelin logo Apple!

Tapi itulah kekuatan sebuah merek bernama Apple. Walaupun kadang bukan pemegang paten utama, tapi Apple berhasil membuat produk yang merevolusi pembuatan produk sejenis atau produk pendukung. Contohnya iPod, setelah keluarnya produk ini muncul kemudian begitu banyak MP3 player bikinan Tiongkok. Selain itu, home stereo systems termasuk car stereo seolah membuat privelese dengan menghadirkan docking khusus buat iPod dan juga iPhone.

iPhone adalah contoh lain revolusi yang dilakukan Apple. Memang Apple bukan pencipta Hp layar sentuh pertama, tapi Apple berhasil menciptakan iPhone sebagai Hp layar sentuh pertama yang interaktif menggunakan sentuhan jari dengan paket data, dan yang pasti, sebagai pemain pertama yang sukses memasarkan Hp layar sentuh secara komersial di seluruh dunia. Baru setelahnya manufaktur lain mengekor seperti LG, Samsung, sampai Mito, Evercoss, dan masih banyak lagi.

Fakta bahwa Apple dalam beberapa produknya menjadi pionir serta persepsi Apple adalah merek bergengsi menjadikan banyak orang memujanya. Bagaimana orang rela ngantri berjam atau bahkan berhari-hari untuk sebuah iPhone atau iPad menjadi bukti begitu banyak yang ingin menjadikan Apple bagian dari hidupnya, atau paling tidak untuk dilihat orang lain kalau punya produk Apple. Saya tidak ingat siapa yang pernah mengatakan, tapi saya masih ingat kalimat yang mengatakan Apple is like a cult. Sepertinya anggapan itu benar. Fanboy Apple semakin banyak, semakin berkembang, dan semakin fanatik.

So ….if Apple is like a religious cult, then Jobs would be their prophet, iPhone or iPad is their scripture, and Samsung would definetly be their demon

Would I buy one ?

Hell no… Kalau dikasih sih mau aja ;). But don’t get me wrong. I have nothing against iPhone. I like iPhone and I may someday have one. It just, spending more then 10 million rupiah only to acquire one cell-phone even a smart one, it’s too much for me.

Banyak yang bisa dilakukan dengan uang sebanyak itu, tapi kalu pilihannya harus gizmo, saya cukup puas membawa pulang Redmi 1S, sisanya bisa buat beli HP Stream 8 yang bentar lagi nongol plus Nikon D3300. Fungsi ketiga perangkat itu sebenarnya bisa didapatkan dalam satu iPhone 6+, lebih efisien dan gak ribet. Tapi saya cenderung memilih mendapatkan 3 jenis barang berbeda dengan kelebihannya masing-masing dan yang utilitasnya hampir sama bahkan melebihi sebuah iPhone. Xiaomi Android dengan layar 4,7 inch cukup buat saya berkomunikasi dan bermain, sementara tablet HP 8 inch dengan OS Windows yang lebih saya pahami cocok buat saya bekerja sambil bermain.

Soal kamera memang lebih ringkes bawa iPhone, dan betul iPhone menghasilkan foto yang bagus. Beberapa fotografer (which I’m not) juga membawa iPhone waktu hunting, tapi sebenarnya itu terbatas untuk insta-photo atau snappy-pic. Kalau saya mau bikin foto yang hasilnya super keren (which I may never) kayak Mikko Lagerstedt atau Ira Meyer, tidak akan cukup dengan hanya mengandalkan camera phone, apapun mereknya.

Itu pilihan saya … itu juga kalau ada duitnya ☺. Orang lain pasti punya preferensinya sendiri. Tapi saya yakin dan percaya (..ish..), ketika nanti meluncur secara resmi di Indonesia akan banyak pembeli iPhone 6, entah bakal ada drama antrian atau tidak. Mungkin sedikit penasaran siapa kira-kira orang Indonesia yang menjadi pembeli pertama? Yang pasti, siapapun yang mampu beli iPhone 6 atau 6+ maka akan jelas terlihat tingkat purchasing power yang bersangkutan, asal jangan nyicil …

Dan bukan cuma iPhone saja, siapapun yang berminat membeli rangkain produk i dari Apple, dipastikan memiliki kantung yang cukup dalam untuk menebus salah satu atau malah semuanya. Kalau ternyata tidak … dan hanya memaksakan diri untuk membeli, maka benarlah gambaran sebuah karikatur yang memparodikan kemungkinan siklus yang akan dialami oleh seseorang ketika sudah tidak mampu lagi membeli produk Apple. ‘This what may happen’:

iMac – iPod – iPhone – iPad – iBroke