Ride with OJEK ONLINE

On the ride (all photos: @feliksarty)

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya naik ojek di kota Jakarta bisa begitu mudah, murah, bahkan gratis. Dan berkat teknologi, semuanya itu dimungkinkan terjadi.

Melalui layanan digital berbasis aplikasi, sekarang seorang penumpang tidak perlu lagi mencari-cari tukang ojek di jalanan. Tidak perlu lagi menebak-nebak berapa biaya yang pantas dibayarkan. Tidak juga perlu tarik urat untuk menawar, atau mangkel luar biasa ketika diabaikan manakala diperlukan. Selama punya ponsel pintar dan jaringan internet, cukup duduk manis di tempat, ojek online akan datang tepat di hadapan membawa ke lokasi yang dituju dengan harga pasti yang telah tercantum.

Selain kemudahan pemesanan, soal harga inilah menjadi daya tarik sesungguhnya. Berbeda dengan harga antar di era ojek pangkalan yang tidak punya standar, sesuka-sukanya tukang ojek, harga antar ojek online ditentukan oleh operator sehingga lebih kompetitif dibanding ojek pangkalan. Yang menjadikannya lebih istimewa adalah promosi yang sering diberikan operator berupa diskon atau potongan harga dari tarif normal yang bervariasi dari rentang 10 hingga 100% alias gratis.

Saya pernah merasakan diskon 80% jasa ojek online untuk perjalanan menuju kawasan Roxy sejauh lebih dari 12 km. Saya hanya membayar 5000 (plus tips) atau total 10.000 pp. Biaya yang jauh lebih murah dibandingkan saya membawa mobil yang harus memperhitungkan bensin dan parkir. Betul bahwa menggunakan mobil pribadi lebih nyaman, namun menembus lalu lintas di Jakarta yang super cluttered, kadang nyaman saja tidak cukup.

Sampai kapan ?

Saya tidak tahu berapa lama tarif murah bisa terus diberikan operator. Sepertinya mereka pun tidak punya jawaban pasti. Buat konsumen, selamanya akan membuat tersenyum bahagia. Namun apakah perusahaan akan mampu bertahan dengan model bisnis subsidi tarif seperti itu ? Uber saja sebagai pelopor model bisnis seperti ini (perusahaan penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi) yang punya valuasi sebesar US$ 70 miliar, harus menanggung kerugian senilai 1,27 miliar dollar AS atau sekitar 15,8 triliun rupiah pada semester I tahun 2016.

Dibanding taksi online yang digunakan kalangan tertentu atau saat tertentu, di Indonesia ojek online digunakan oleh berbagai kalangan on a daily basis. Di tengah ketatnya persaingan tiga terbesar antara Gojek, Grab, dan Uber, masing-masing tentu berharap layanannya lebih sering digunakan dibanding lainnya. Dan untuk itu tarif murah menjadi strategi pemikat menjaring pengguna.

Sebagai sebuah negara berkembang dengan mayoritas tingkat ekonomi berada di level menengah ke bawah, masyarakat Indonesia, di Jakarta sekalipun, merupakan masyarakat yang sensitif terhadap harga. Kenaikan harga produk atau jasa akan direspon dengan penurunan permintaan. Hal ini bisa terjadi di jasa ojek online kalau suatu saat tarifnya tidak lagi dianggap ramah kantong.

Apalagi tantangan yang dihadapi para operator bukan semata bagaimana berkompetisi dengan perusahaan sejenis sembari tetap memberikan harga yang terjangkau masyarakat, tetapi juga harus berhadapan dengan transportasi massal yang terus dikembangkan oleh pemerintah. Untuk naik Transjakarta misalnya, cukup membayar 3500 sudah bisa keliling Jakarta dari ujung ke ujung. Belum lagi LRT dan MRT yang terus dikerjakan. Tentu saja, tiap moda transportasi punya plus minusnya masing-masing. Namun harus diakui tarif murah ojek online tidaklah bersifat mutlak, tergantung promosi, tergantung jarak tempuh, tergantung jenis transportasi lain yang tersedia.

Yang Terhempas

Layanan ojek online tidak hanya menguntungkan buat pengguna tapi juga telah membuka lapangan pekerjaan bagi ratusan ribu atau malah jutaan pengemudi. Paling tidak menjadi salah satu solusi dalam menghadapi masalah pengangguran.

Namun gemerlapnya bisnis ini telah memakan korban usaha transportasi yang lain. Bukan cuma ojek pangkalan yang mulai ditinggalkan, termasuk juga mikrolet, metro mini, kopaja, taksi argo dan bajaj yang justru merupakan moda transportasi resmi. Kehilangan pendapatan akibat berkurangnya jumlah penumpang akan membuat para pengemudi transportasi jenis ini kehilangan pekerjaan.

Naik kopaja, metro mini atau mikrolet memang cuma 4000 atau 5000, tapi kalau harus dua atau tiga kali naik angkot menuju tujuan, jelas biayanya menjadi lebih berlipat. Sementara dengan satu kali perjalanan menggunakan ojek online biayanya bisa sama atau malah lebih murah, dan yang pasti tidak perlu turun naik berganti angkutan.

Sekedar ilustrasi, dari rumah saya menuju gereja tempat kami beribadah yang jaraknya relatif dekat, tidak sampai 2 km, dengan menggunakan bajaj tarifnya 15.000, kalau gerimis apalagi hujan tembus sampai 20.000, tidak bisa kurang. Tapi dengan ojek online, tarif paling mahal 5000, 4000 kalau cashless, bahkan pernah cuma 2000!

Sulit memang berkompetisi ketika harga menjadi pertimbangan utama konsumen. Di masa-masa awal memang sempat terjadi gesekan antara ‘opang’ dan ‘oon’, puncaknya ketika supir taksi argo turun di jalanan. Untungnya sekarang sudah lebih damai, mungkin karena sadar semuanya sama-sama cari makan, sama-sama saling melengkapi, ditambah lagi dengan ujar-ujar lama nan bijak, “Ngapain sih ribut, namanya rejeki… udah ada yang ngatur”.

Mencari Solusi

Saya pikir pemerintah berada dalam posisi dilematis menghadapi persaingan usaha transportasi ini. Tapi sebagai regulator, pemerintah harus punya kebijakan yang win-win yang membuat pemerataan lapangan pekerjaan tetap terjaga.

Saya teramat setuju dengan rencana Gubernur Ahok yang ingin mengintegrasikan semua layanan tranportasi publik utamanya bus besar, sedang dan kecil di bawah naungan Transjakarta. Dengan begitu para sopir angkot tetap punya pekerjaan dan tidak lagi risau dengan target setoran. Dengan begitu pula bepergian ke seluruh penjuru Jakarta berlaku satu tarif tunggal yang amat sangat terjangkau. Supaya tidak lagi terjadi tarif angkot naik karena harga bbm naik, tapi tidak mau turun waktu harga bbm turun.

Untuk bajaj, saya tidak tahu rencana pemprov untuk jenis transportasi ini di masa depan. Sejujurnya saya lebih suka naik bajaj dibandingkan ojek. Tidak terlalu berdebu, tidak terlalu berangin, dan tidak basah waktu hujan. Namun menawar bajaj, terutama bajaj biru, perlu ekstra kesabaran tingkat tinggi.

As for taxi, mereka perlu beradaptasi dengan teknologi, paling tidak berbenah diri dengan tidak lagi merasa diri superior di bisnis taksi. Saya punya beberapa pengalaman buruk yang tidak akan saya tumpahkan di sini. Bukan dengan taksi abal-abal, tapi justru dengan taksi resmi berbaju biru yang sering dipuja-puji sebagai layanan taksi terbaik & terpercaya (prett…)

Kehadiran taksi online jelas mengubah segalanya. Seperti persaingan di ojek, kompetisi antara taksi argo dan taksi online juga tidak seimbang, lagi-lagi karena harga. Bulan September lalu dalam rangka pulang kampung, ibu saya lebih memilih menggunakan Uber ketimbang saya antarkan ke bandara. Biaya yang ia keluarkan untuk perjalanan dari rumah ke Soekarno-Hatta sebesar 75.000, di luar tiket tol. Beberapa bulan sebelumnya, kakak saya dalam rute perjalanan yang sama dengan menggunakan taksi argo harus merogoh 130.000, di luar tiket tol.

Karenanya harus ada nilai tambah yang diberikan perusahaan taksi berargo kepada konsumennya supaya tetap loyal. Kemajuan teknologi tidak bisa dibendung kecuali kalau Indonesia mau jadi seperti Korea Utara. Kalaupun misalnya (semoga tidak) pemerintah melarang operasional taksi online seperti yang dijalankan saat ini, maka model bisnis DriveNow yang sedang berkembang di Eropa rasanya sulit untuk dilarang kalau masuk ke Indonesia, dan itu bisa menjadi ancaman baru di masa yang akan datang.

Catatan Akhir

Ojek online (termasuk di dalamnya taksi online) merupakan cara revolusioner dalam bepergian. Layanan ini bahkan berkembang bukan hanya membawa orang, tapi juga barang dan makanan, dan akan terus berkembang melebihi apa yang bisa dipikirkan.

Dengan begitu masifnya pengguna layanan ini, satu catatan penting yang perlu diperhatikan yaitu pihak operator perlu memastikan bahwa mitra pengemudi yang dipilih merupakan individu terpercaya untuk membawa orang atau barang sampai di tujuan dengan selamat.

Bila dijabarkan lebih detil, mitra pengemudi haruslah punya kemampuan mengemudi yang baik & benar, sehat secara fisik dan mental, jujur, ramah, dan yang tidak kalah penting tahu arah jalan, baik jalan utama hingga jalan pintas. Dalam beberapa kasus, saya mendapatkan pengemudi yang minta ditunjukkan arah jalan. Sementara yang sekarang sering terjadi, pengemudi ojek sudah tidak lagi menawarkan penutup kepala serta masker hidung. Atau memang kedua perlengkapan itu sekedar gimmick di awal-awal operasional? #Attention please 

In the meantime, drive safe & enjoy the ride.

Brumm .. Brumm ..