Sebab kesepian itu hidup

Kesepian itu hidup, tumbuh tidak berkecambah. Terus membesar bersama detik dan usia. Ia tak bertambah besar tapi bertambah kokoh. Rerimbunnya mengembang semakin sulit dibabat. Kesepian mengakar. Ketiadaan membakar. Dan, kita hangus.

Kesepian ditangan waktu menjelma pedang berbisa yang sekali waktu bisa mampir diatas kulit dan mencicipi wangi darah yang piatu. Menghunus jantung sepi dengan sekali bidik. Pedih yang tak bisa membuat mati. Sakit yang dicicipi berkali-kali. Kesedihan memiliki begitu banyak kesediaan.

Lalu siapakah ibu dari segala sepi? Dimanakah ia menaruh riuh? Luputkah tanggal membawa pergi pula ruang yang luas, kosong dan mengapa aku saja yang ditinggalkannya disana? Tidakah ia tahu jikalau sepi itu tumbuh!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.