Pengkhianatan berawal dari percaya?

Dalam berbagai hal yang manusia rasakan, lagi-lagi unsur subjektifitas sangat berperan. Seperti contoh pengkhianatan. Merasa dikhianati?itu berdasarkan pemikiran subjektif yang terkhianati dan para pengikutnya (baca: teman curhat). Merasa mempercayai? Itu masih berdasarkan pemikiran subjektif yang terkhianati.

Kasus pengkhianatan seringkali terjadi saat dua orang yang telah saling percaya mengalami fase yang tidak mengenakkan. Sebagai contoh, si Parmin telah mempercayai si Bejo melebihi siapapun. Suatu ketika si Parmin menjauh dan melakukan hal-hal yang menurut Bejo itu adalah pengkhianatan. Setelah kejadian itu si Bejo akhirnya menarik kesimpulan bahwa Parmin telah mengkhianatinya. Dampak dari kesimpulan Bejo, mereka berdua tak lagi saling mempercayai.

Kita tak pernah bisa megetahui pasti hati seseorang. Bahkan kita pun tidak pernah tahu isi hati kita sendiri. Kita selamanya hanya bisa menebak, karena yang maha tahu hanyalah Tuhan.

Mungkin menghilangnya rasa percaya kita terhadap manusia adalah suatu teguran dari Tuhan, karena kita telah lalai terlalu mempercayai manusia melebihi kepercayaan kita kepada-Nya. Kenapa kita harus curhat bukan dengan-Nya? Padahal, curhat dan mempercayai-Nya tidak membuat kita merugi? Tuhan memang tidak akan secara vokal memberi kita nasehat saat kita curhat kepada-Nya. Dia akan memberi kita keteduhan, kedamaian dan ketenteraman jika kita curhat kepada-Nya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.