Satu Hari Bersama Nenek

Pagi itu datang secara tiba tiba. Aku baru saja berdiri dari tempat tidur ketika Ibu masuk tanpa mengetuk, “Bisa temani Titi hari ini ke Mall?” Pertanyaan itu, seperti pertanyaan lainnya yang datang dari orang tua, sebenarnya bukan pertanyaan melainkan perintah yang di bungkus dengan tanda tanya. Jika aku bilang tidak bisa, akan ada perasaan bersalah yang mencekik pelan dan ditambah kerut di wajah Ibu. Jika aku bilang bisa, ya, aku harus melewatkan waktu yang seharusnya bisa aku habiskan bersama diriku sendiri, waktu yang terlalu nyaman, untuk acara lain. Betapa egoisnya kamu, Sofia. Setelah dialog pendek di dalam otakku berlalu, aku mengangguk. Ibu tersenyum, gestur tanda terima kasih yang sering tak terucap namun tersampaikan oleh mata.

Titi adalah panggilan sayang untuk nenek. Nama itu diambil dari Yang Ti, dan Kung untuk Eyang Kakung), namun karena cucu-cucu waktu itu masih terlalu muda dalam berucap, sehingga hadirlah panggilan sayang itu yang lebih mudah disebut. Titi sudah hampir 85 tahun, namun paras cantiknya masih bersinar seperti dia belia. Seperti putri keraton Madura yang tidak pernah terdengar massa.

Jam baru berdentang dua belas kali ketika aku sampai rumah Titi. Dirumah Titi ada dua pintu masuk: pintu depan melalui teras dan pintu belakang melewati garasi. Aku keluar melalui pintu belakang, sedangkan Kung yang tidak bisa berjalan terlalu jauh memilih pintu depan, yang lebih dekat ke ruang tamu.

Pintu depan posisinya tertutup oleh mobil Serena yang berukuran cukup besar, sehingga Titi harus sedikit berputar untuk melihat ke teras depan. “Mana Bapak?” dia bertanya pelan kepada Asisten Rumah Tangga nya yang sebelum berjalan kesamping mobil itu dan menemukan Kung sudah berdiri menanti di teras dengan handuk Good Morning melingkar di lehernya. “Pergi dulu ya, Pa.” Kata Titi untuk kali kedua sambil melambaikan tangan kecilnya. Kung menjawab ya pelan dan melambaikan tangannya. Aku dengan cepat memalingkan muka. Rasanya aku tidak mau mencuri momen intim yang sungguh sederhana dan telah mereka bagi lebih dari 50 tahun ini. Walaupun sesederhana dua kali berpamitan.

Itupun bukan pertama kalinya aku melihat kejadian serupa. Satu sore, Tante dan Ibuku mengajak Titi untuk jalan-jalan ke salah satu mall di Kasablanka. Namun, kurang dari satu jam berkeliling Titi sudah meminta pulang. Kalimat ini datang dari seorang Titi yang hobinya adalah berbelanja. “Kasihan Papa sendirian,” katanya kepada Ibuku. Dengan rayuan halus, akhirnya Ia setuju untuk pergi ke satu toko lagi, janji Tante.

Kita mampir ke Ace Hardware, Ibu mencari keperluan dapur. Sedangkan aku menemani Titi berkeliling, tapi Ia tidak mengambil apapun sampai pada saat kita berada di kasir. Ia berhenti pada rak di pojok kiri yang berisi barang unik untuk menaruh kacamata. Bentuknya seperti hidung kecil dengan ilustrasi kumis melengkung, dan satu lagi bibir bergincu pink. Tanpa pikir panjang, Ia mengambil satu pasang, “Buat oleh-oleh Kung.”

Aku tersenyum. Hanya sejauh 30 menit berkendara, Ia merasa perlu membelikan oleh-oleh.

Sepulangnya dari Mall, Titi mengajak aku untuk makan di meja makan bundar yang umurnya mungkin sudah lebih tua dari umurku. Dia mulai menceritakan tentang kebun di Pasar Minggu yang dulu pernah dia beli dari uang untuk beli mobil bekas. Bagaimana setiap musim panen, rumah akan penuh dengan buah-buahan seperti pisang, kecapi dan rambutan Rapika berwarna merah yang rasanya manis sekali.
“Dulu waktu Om Heri ulang tahun yang ke 17, rumah banjir dengan rambutan Rapika dari depan sampai belakang. Tapi ditinggal beberapa jam semuanya sudah habis!” Antusiasme Titi membuatku lupa akan sendok makanan yang sudah siap masuk kedalam mulutku lalu ku taruh kembali lesu di piring.

Kung tidak lama datang, dan duduk pada satu bangku yang jika ditarik garis berada di tengah ruangan, menghadap akuarium yang menjadi batas antara ruangan sebelah. Ia mengelus pelan bahu Titi dan duduk.

Banyak cerita yang aku dengar tentang Titi dari anak-anaknya, tetapi bukan tentang kebun di Pasar Minggu. Tentang bagaimana Titi yang sekarang adalah bukan Titi yang dulu.

Aku ingat di jalan ke Kota Kasablanka, Titi yang duduk di sebelahku bercerita tentang berpergian keluar negri dengan Kung,
“Siti itu tidak ada, yang ada itu hanya Nonya Yadi.”

Mudah sekali untuk mendengar pernyataan itu dengan reaksi humor dengan intonasi orang tua yang selalu terdengar seperti bahan omelan, tetapi, ketika ku coba untuk mengulang pernyataan itu terdengar sedikit pilu. Apa itu artinya, sepanjang hidupnya Ia tidak pernah menjadi dirinya sendiri, tetapi hanya bagian dari orang lain?

Tapi aku bersumpah, pandangan Titi kepada Kung, dan sebaliknya, menurutku adalah bentuk cinta paling nyata yang pernah aku lihat seumur hidupku — dan aku tidak sabar untuk menemukan itu.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.