Aku Berhenti Memercayai Cinta

♉️

“Berikan cincin kawinmu sekarang!” ucap wanita paruh baya tersebut. Ditatapnya suaminya dengan penuh amarah.

“Untuk apa?” Jawab sang suami, tak kalah emosi.

“Untuk apa lagi? Perkawinan sudah kandas. Mending ku gadaikan saja cincin ini atau sekalian dijual! Toh hitung-hitung ganti rugi dari hasil cerai kita.”

Istrinya mengambil paksa cincin tersebut dari genggaman suami. Anak-anaknya bungkam. Bungkam bukan karena dipaksa, tetapi karena terpaksa. Benang-benang merah sudah terlalu melilit pilar-pilar rumah yang dulunya hangat. Tidak ada lagi ayah yang sangat dinanti-nanti kepulangannya. Tidak ada lagi ibu yang dinanti-nanti risol dan susu hangatnya setiap sore. Meskipun memang, dingin sudah menyelimuti keluarga ini sejak lama. Tetapi, benar yang dikatakan orang-orang bahwa, “aktor adalah pekerjaan yang paling jahat di dunia”. Dan bagiku kini, menatap dengan isak kepiluan yang ada di depanku. Ayah… ibu… adalah aktor terbaik sejauh ini. Aktor terbaik dalam pementasan “masa kecilku”. Ketika akhirnya, sesuatu yang sangat haram itu terungkap. Bahwa, tidak pernah ada cinta di antara keduanya.

Barangkali Kota Hujan ini tidak pernah banjir. Tetapi membanjiri hatiku, tenggelam malah tak temu jua permukaan itu. Mungkin pilihan.. Pilihanku untuk tidak lagi menatap matahari. Mungkin pilihan.. pilihanku untuk tidak lagi menikmati semburat sore.

Aku kerap memasang kembali piringan hitam tua yang memainkan lagu-lagu klasik seperti dulu. Tapi lagi-lagi tidak lagi ada lembayung tarian romantis di atas lantai ruang keluarga. Yang kulihat kini hanya ibuku yang sibuk bermain dengan gawai di sofa cokelat persis di ujung ruang keluarga. Tidak ada lagi dansa, tidak ada lagi senyum dan kebahagiaan palsu. Aku, sendirian.

Barangkali benar katanya wanita adalah racun dunia. Terlebih wanita-wanita muda. Wanita-wanita yang haus debelai dengan uang para om. Dan terakhir, wanita muda yang kulihat di pekarangan rumah. Menggandeng erat lengan ayahku meminta pembelaan terhadap ibuku yang mengamuk penuh api membara. Hatiku pun berkecamuk, dibakar api. Terlalu membara bahkan jika dibayangkan. Ia yang merebut kecintaanku, ayah. Seperti menelan ludah yang tiada habisnya aku menahan setengah hidup dan matiku agar air mataku tidak berjatuhan dihadapan jahanam muda itu.

Kini, tempatku berpulang mengadu dan rindu. Hilang diterpa angin semilir muda, daun-daun akan kering sayang, percayalah, dan angin tidak akan sekencang biasanya. Bunga-bunga akan layu pada masanya. Air mengalir tidak akan pernah selalu jernih apalagi jika bermuaranya hanya pada satu titik(ibu). Begitulah riuhnya hubungan sayangku, keruh memang. Tetapi dicari sampai ke ujung dunia pun wanita begitu adanya. Akan layu pada waktunya. Percayalah sayangku, percaya. Bertahanlah sayangku, bila mungkin.

Namun, retak tidak akan pernah merekat lagi bukan?

“Aku pamit.” Jawab sang suami. Istrinya hanya membalikkan badan, membuang muka dan menahan isak tangis.

Kemudian digandengnya wanita muda jahanam tersebut keluar dari pekarangan rumah yang 17 tahun sudah dibangunnya bersama sang istri. Terkhianati telak.

Like what you read? Give Genoveva Maria a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.