“Jangan sekarang..” “Jangan sekarang..” “Jangan sekarang..”. Ternyata aku jatuh cinta padamu di waktu yang salah. Dan akhirnya aku paham.

Sementara itu detik waktu semakin mendekatkan kita pada sesuatu yang salah. Jam 3 pagi, dan katanya perutmu kosong maka kita menghentikan perjalanan untuk makan. Saat itu mataku hanya terbuka setengah karena dihajar kantuk habis-habisan. Tawamu begitu nyaring sampai-sampai gendang telingaku bergetar, aku yang terbangun sesekali menjadi kesal akan hal itu. Tapi tidak masalah, tanggungjawabmu membawaku pulang hari itu menjadi jaminannya.

Tanpa aku dan kamu sadari, hari itu lah yang membuat tanda dalam hati masing-masing. Seolah mensugestikan diri pada hal-hal melankolis yang kita berdua tidak percaya. Cinta. Bodoh, hatimu malah meminta hatiku untuk berkencan. Dan sekali lagi, bodoh, karena hatiku menerima ajakkanmu ketimbang ajakkan yang lainnya.

Hatimu yang terkenal sekeras baja itu jatuh cinta pada hatiku yang terkenal lembut. Setidaknya sampai hari ini hanya kata itu yang membuatku percaya, bahwa kamu jatuh cinta padaku. Tidak tahu sesungguhnya apakah matamu dan kedua tanganmu dan berikut dekapanmu mampu membuktikannya?

Aku memang seperti anak kecil. Yang mencintai bau hujan, aroma buku, serta pertemuan-pertemuan singkat. Aku seperti sangat memuja kenangan tetapi tidak denganmu. Tawa remehmu itu ketika melihat tingkahku mampu membuatku kesal tak berujung.

Namun ketahuilah, hatiku ini telah menyimpan rapi jutaan luka dibalik senyum yang katamu, manis. Serta, kamu tidak akan percaya seberapa pedih yang telah aku lewati karena aku menyembunyikannya dibalik cantik yang katamu, setiap hari. Lalu, apa aku pernah merasa panas? Aaaaah, dasar perempuan. Tidak akan pernah berani mengutarakan cemburunya. Apalagi saat mengetahui kamu bertemu lagi dengan sang pelipurlara.

Aku semakin jauh.

Percaya. Itulah yang selalu kamu ajarkan padaku, sayang.

Aku mulai paham ketika air mata bertubi-tubi menegurku. Ketika wajahmu mulai membuatku takut. Ketika suaramu mulai membuatku ingin melarikan diri. Aku mulai paham bahwa mungkin alam semesta tidak pernah sungguh-sungguh merestui, bahkan angin senja yang selalu kita lewati berdua seolah membisikanku “Jangan sekarang..” “Jangan sekarang..” “Jangan sekarang..”. Ternyata aku jatuh cinta padamu di waktu yang salah. Dan akhirnya aku paham.

Aku tetap berjalan di sisimu, namun pada arus yang berbeda. Aku dan kamu saling menyayangi dengan cara yang berbeda. Diam-diam dalam doa. Walaupun hal itu lah yang memantik api pergumulan yang ada, dan ke salahpahaman yang malah kamu pegang teguh. Aku tetap bertahan. Kini aku tahu kamu dan kebohonganmu yang katanya sungguh membutuhkan jiwa dan ragaku. Kamu dan keras kepalamu yang tidak pernah sekalipun percaya bahwa aku sungguh mencintaimu. Yasudah biar saja nanti rindu yang mengikis namaku dalam hatimu agar hilang tidak tersisa lagi. Pulanglah pada pelabuhan para pelipurlaramu yang mampu memberimu ketenangan serta paham ke-absolutan otak yang selalu terealisasi. Aku hanyalah samudera lautan yang membawamu pada indahnya lautan biru lengkap dengan sadisnya ombak tinggi menghempas.

Jangan. Jangan lagi kamu memilih aku untuk bersandar, nanti bahagiamu hilang sekali lagi karena terseret ombak.

Biar saja kini hanya mata kita yang beradu dan jatuh cinta. Bukan lagi pada dekapan, apalagi omong kosong. Dalam hening. Saling lupa.