Pertumpahan kasihku..

Perihal rindu bukan sembarang kata..

Aku yang berdialog dengan degup ku sendiri..

Nelangsa mengais pertemuan denganmu..

Aku rindu..

Bisa kah kau pulang sebentar, menengok pelabuhanmu ini?

Se-menyedihkan itukah tepianku hingga kau betah sekali berkeliaran..

Cobalah katakan..

Apa tamengku tak cukup kuat untuk kau sandari?

Apa hatiku tak cukup lembut untuk kau dekap?

Apa teduhku tak cukup memikat untuk hatimu merajuk luluh tuk kesekian kali?

Apa memang kau lupa rasanya jatuh cinta?

Coba mendekat..

Agar hanya aku penyaksi gurat senyum pada wajahmu apalagi jika disusul tawa, runtutan peluk serta tatapan mesra itu..

Memang aku terdengar egois padahal telah lama namaku terukir disana..

Di hatimu..

Tetapi, adalah dusta apa yang dikatakan petuah bahwa rindu itu indah..

Terlebih nista belaka apabila aku berpura-pura tidak jatuh ke dalamnya..

Oh! Malahan, aku sengaja terjun bebas dalam rasa itu.. Naif..

Dan,

Bila masih jelas ingatanmu, pada asa yang dahulu kau tumpahkan mati-matian pada harapan cinta, dan kau torehkan sayang itu bertubi-tubi hingga akhirnya berhasil buat hatiku jatuh ke dalam tanganmu,

Maka,

Jangan kau kurang-kurangi rasa cinta itu, melainkan balaslah tumpahan kasihku kini sampai nanti..

Sampai pada titik terbiasa mencinta..

Sampai tak ada satu pun di antara kita yang mampu mengakhiri..

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.