Pukul 5 sore..

Genoveva Maria
Aug 24, 2017 · 1 min read

Pukul 5 sore adalah ketika aku dan kau rehat dari kehidupan dunia untuk sekadar kencan sederhana..

Tapi, pukul 5 sore kini biasa saja bagiku..

Hatiku telah mati rasa terhadapmu. Karena apapun yang pergi, rasanya tidak akan pernah sama ketika pada akhirnya kembali lagi..

Aku pernah mencinta sedalam samudera. Aku pernah bertahan sekuat batu-batu karang.

Tetapi aku menyadari bahwa bertahan sendirian adalah ibarat bunuh diri berkali-kali. Maka ketika ombak sadis kepergianmu terasa semakin sakit, aku membuang muka daripadamu, tak lagi menengok ke belakang.

Pukul 5 sore kini biasa saja bagiku, ketika kau kembali menginjak pekarangan rumah dan mengetuk kembali pintu hati. Aku tak lagi merasakan dahsyatnya jatuh cinta itu. Kupu-kupu dalam perutku telah pergi kuusir.

Perona pipi dan pemerah bibir yang biasa kupoles kini berada di sudut kamar jadi usang berselimutkan debu..

Bekas kecupan hangatmu di hari ulang tahunku mendingin tak lagi melekat pada bibir. Pelukan mesramu tak lagi terasa bergetar sampai pembuluh darah mau pecah rasanya..

Mulai hari ini aku membanting pintu sekuat-kuatnya, menutupnya hingga tiada celah meski kau tahan juga sekuat-kuatnya. Aku tidak peduli.

Sakitnya tidak akan pernah bisa dibayar apapun dan aku tidak ingin menukarnya dengan apapun. Biar begini adanya. Benci itu menjalar.

Izinkan aku jatuh cinta lagi pada hati yang lebih ranum.

)

Genoveva Maria

Written by

no need to show you my worth

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade