Untukmu, cinta pertamaku.

Genoveva Maria
Aug 9, 2017 · 2 min read

♉️

Aku cantik, katamu sejak kecil.

Aku cemerlang, katamu seiring bangku sekolah yang mendudukkanku lebih atas meski pada akhirnya kau dan aku pisah sekolah.

Aku unik, katamu karena sering membaca buku-buku yang tak lazim, dan memiliki khayalan yang lebih besar dari 1 planet. Bercita-cita lebih tinggi dari semesta.

Aku yang terbaik, katamu. Karena aku adalah seorang ‘wanita’. Bukan gadis kecil yang terus merengek, tetapi ‘wanita’ yang sejak kecil mampu menyeka air matanya sendiri.

Tetapi apa kau tahu. Bahwa sesungguhnya aku lah wanita paling bodoh yang pernah ada di klan bumi berisi banyak makhluk hidup.

Aku kerap jatuh hati, tetapi selalu pada yang paling salah. Lalu pundakmu menjadi tempatku memeluk sanubari, menghangatkan lagi kedua bola mataku. Biduk selalu ditambatkan untukmu, tetapi kau selalu membiarkan hatiku dicuri yang lain. Aku sadar akan besarnya cinta yang kau tengadahkan baik-baik. Tetapi, tiap aku lihat dalam-dalam matamu, kau palingkan semua hingga aku berpikir bahwa ‘besarnya cinta’ darimu mungkin hanya sebuah mimpi yang tak akan pernah aku gapai.

Aku kerap merindukanmu dalam keranda malam, memeluk pendar-pendar bintang adalah kegemaranku ketika mengadu pada kelabu langit, karena kau pasti enggan ku dekap erat-erat.

Aku kerap menyelipkan doa di setiap kata-kata yang terlontar di hadapanmu, tapi tahun berganti tahun menghapus itu semua ketika kau bergeming. Diam. Membatu. Tanpa adanya sinyal-sinyal cinta yang sangat aku dambakan.

Aku kerap mencintaimu dalam diam. Berharap bahwa kau mungkin juga mencintaiku dalam diam. Tapi, menunggu bukanlah hal yang menyenangkan dalam kamusku. Maka ketika kuberanikan diri memijakkan kakiku pada peron-peron kereta yang mengantarkanku pada sosokmu yang paling terkasih. Kutatap lagi dalam-dalam. Kuselipkan lagi untaian doa. Hingga di penghujung pertemuan kita tak lagi dapat terbendung air mata yang menetes, mengaliri lantai kereta melaju kencang menjauhiku darimu. Karena kau, lagi-lagi bergeming. Tak mengucapkan cinta, apalagi menawarkanku ranumnya kekasih.

Tak pernah bisa ku lupa pesanmu agar aku tak jatuh pada hati yang salah, tetapi mengapa tidak kau saja yang menangkap hatiku yang jatuh? Sebab aku tahu sesungguhnya kau cinta bukan? Tapi kenapa masih saja diam? Kenapa masih saja kau membohongi perasaanmu sendiri?

Lalu aku bertanya-tanya malam ini. Sesungguhnya aku yg bodoh karena selalu jatuh pada yang salah, atau kau yang bodoh karena diam terlalu lama?

Mungkin, ini yang sesungguhnya dinamakan dipertemukan bukan untuk dipersatukan. Jemariku gemar sekali menceritakanmu sejak dahulu hingga beratus-ratus lembar tetapi kemudian aku hapus kenyataannya. Karena kau akan tetap diam. Tak peduli garis senyumku sampai bercucuran darah akibat geram menunggu terlalu lama mungkin kau akan tetap diam.

Kini kulingkarkan kau pada sudut hatiku, penjarakan dengan duri-duri tajam. Agar tak lagi kemana-mana, diam saja disitu. Jangan lagi beri aku harapan tanpa tujuan mencinta. Karena aku wanita tapi tetap saja akan menangis seperti gadis kecil. Gadis kecil yang dulu pulang sekolah selalu bersamamu.

Mari mencinta diam-diam hingga lupa wajah masing-masing.

Mari pura-pura melupakan, hingga lupa kalau sedang berpura-pura.

Terimakasih, untuk kisah tahunan yang tak pernah bertemu akhir.

Bahagiamu adalah bahagiaku, percayalah.

Selamat jalan🖤

Genoveva Maria

Written by

no need to show you my worth