[Reposisi Kemahasiswaan Pasca 98]

Governmentality Sebagai Strategi Andalan Pasca Depolitisasi, Bacaan -yang dibuat- Singkat dan Ringan Untuk Mengisi Waktu Senggang

“…Demikianlah, para Yang Terhormat, bagaimana kaum Wisynu, raja-rajanya, menyelesaikan perkara. Seorang perawan dalam kesucian dan kecantikannya, dalam gairah mengimpikan indahnya cinta, harus digelandang ke hutan dan menerima pedang pada tubuhnya. Dia dikorbankan untuk Hyang Wisynu. Di atas mayatnya didirikan negara kesatuan Panjalu-Jenggala…”

Arok, dalam salah satu babak di Novel Roman klasik Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam realisme yang coba dibawakan Pram mengenai konflik antara kaum Brahmana penyembah Syiwa dari Tumapel dengan Pedanda dari Kediri, Belakangka dan kaum satria penyembah Wisynu serta Tunggul Ametung dari Tumapel mengisyaratkan bahwa perbedaan cara pandang mengenai konsep dan sistem dapat menimbulkan konflik laten yang sewaktu waktu dapat muncul ke permukaan. Pun dalam mendeskripsikan kemahasiswaan bagi sebagian besar mahasiswa, yang acap kali menjadi perdebatan di media sosial maupun dalam diskusi yang dihadiri secara fisik walaupun keduanya pun dihiasi argumen-argumen ad hominem dari segelintir orang.

**************

Kemahasiswan yang dalam arti sempit merupakan rangkaian kegiatan mahasiswa di dalam lembaga lembaga formal yang disediakan perguruan tinggi, kini dipandang sebagai formalitas bagi beragam kalangan. Dalih simulasi dimunculkan sebagai diskursus tandingan dalam memaknai mahasiswa agar mahasiswa tetap patuh dan tetap menjadi objek artikulasi kekuasaan dalam hierarki yang lebih luas yang berawal dari strategi depolitisasi mahasiswa di era pra 98.

Meminjam istilah dari Michel Foucault tentang ‘Governmentality.’ Dalam “The Birth of Biopolitics” (2001), kumpulan ceramah Foucault di College de France 1978–79, Foucault memperkenalkan istilah governmentality untuk membongkar praktik kekuasaan pada pemerintahan/pembangunan.
 
Jalan untuk mendepolitisasi tersebut, alih-alih merepresi aktivitas kemahasiswaan seperti era 1980an, adalah dengan menerapkan diskursus tandingan tentang ‘mahasiswa’
 
Istilah ini kemudian ia pertegas dalam tulisannya yang lain yang lebih spesifik, “Governmentality” (terbit 1991). Menurut Foucault, government adalah sebuah fenomena, eksistensi, atau regularitas yang lahir dari mekanisme yang terkondisikan dengan baik (intelligible mechanisms) untuk satu tujuan tertentu.
 
Praktik dari governmentality berbeda dengan disiplin atau hukuman, dimana seorang subjek dikondisikan dengan aturan-aturan tertentu atau ‘dihukum’ jika tidak sesuai dengan aturan tersebut.
 
‘governmentality’ adalah upaya untuk mengatur dengan menyediakan kondisi-kondisi yang menyebabkan seseorang dapat hidup pada norma-norma yang ditentukan oleh negara. Institusionalisasi norma menjadi target dari ‘governmentality’, sehingga seorang subjek warga negara bisa hidup dan “will do (something) as they ought.”

Meminjam istilah Foucault ini, potret diri mahasiswa yang ditampilkan oleh ‘yang diatas’ adalah representasi dari kepentingan rektorat terhadap mahasiswa. ‘Yang diatas’ ingin meng-govern mahasiswa, tentu saja tidak dengan pola lama ‘disiplin dan hukuman’, tetapi juga dengan memberikan norma baru yang memungkinkan mahasiswa mengikutinya secara sukarela.
 
Diskursus mengenai mahasiswa, sebagaimana versi ideal kampus (mungkin sampai sekarang) adalah diskursus tentang ‘prestasi’ -dalam arti luas- dan pribadi yang baik. ‘Mahasiswa’ sebagai sebuah identitas, jika meminjam Laclau dan Mouffe, adalah subjek yang tak pernah final. Ia selalu berada pada dislokasi, tarikan dari pemaknaan satu ke pemaknaan lainnya.

Governmentality Inilah yang kemungkinan memecah belah kita mahasiswa, antara kaum pergerakan bersama Kabinet/BEM dengan segala tetek bengek idealisme konsepsi konsepsi nya serta tanggung jawab insan akademis nya dengan segelintir orang yang memilih bergerak sendiri tanpa embel embel Kabinet/BEM, membentuk sendiri NGO nya bahkan mahasiswa dengan ratusan karya zine sebagai perjuangan literasinya sendiri.

Konsepsi diatas mengkonstruksi realita sosial di taraf massa kampus mengenai ‘Mahasiswa serta Aktivis Teladan’ yang diametrikal dengan ‘Mahasiswa Nakal’ karena telah lebih dahulu membentuk dan mengkonstruksi norma sosial yang diinstitusionalkan dalam berkemahasiswaan di kampus, dimana kita akan lebih sering melabeli mereka yang sedikit sedikit mengkririk kampus sebagai mahasiswa tidak jelas kurang kerjaan.

Kembali mengutip ide Tania Murray Li,

“…governmentality works by educating desires and configuring habits, aspirations and beliefs…”

Bahwa realita serta pemahaman kita sebenarnya dikonstruksi oleh budaya kemahasiswaan yang telah dulu ada di kampus kita yang dilaksanakan oleh kakak tingkat kita. Semasa kita semua menjadi mahasiswa baru, kita semua tidak mengerti apa apa sehingga figur kakak tingkat dengan glorifikasi serta romantisme kemahasiswaan 98 lah yang kita lihat dimana proses ini telah berulang dari generasi ke generasi Pasca Reposisi Kemahasiswaan 98 ketika musuh bersama sudah tidak ada. Meminjam istilah Lacan mengenai Mirror Imaging, pada masa itu kita tidak memiliki apa apa kecuali kakak tingkat yang kemudian kita anggap sebagai suatu tujuan realita semu kita semua. Mereka lah figur yang kita lihat pada cermin alegori makna aktivisme. Yang tanpa disadari, kini kita terlampau jauh mengagungkan kemahasiswaan dan tetek bengeknya, dan kegiatan event event yang penuh makna filosofis dan normatif tetapi tidak semuanya memaknai apa itu filosofi sebenarnya.

Arena reproduksi diskursivitas makna ‘mahasiswa dan aktivis teladan’ ini sesungguhnya menggambarkan dengan jelas hubungan kekuasaan subordinatif antara Institusi perguruan tinggi dengan kita mahasiswa. Bahwa kita mahasiswa akan selalu menjadi seperti apa yang diinginkan oleh institusi.

Seperti biasa, kesimpulan dikembalikan kepada pembaca. Silakan diintrepretasikan secara liar sebagai bahan masturbasi intelektual dan onani logika di kemudian hari. Semoga bermanfaat

Akhir Kata

Panjang Umur Pembangkang!

******************************************

Karena institusi ini telah menjadi industri

Memenuhi target target kemampuan labor intelek yang dibutuhkan kapitalis berdasi

Sembari memberikan jasa pendidikan yang harganya cukup tinggi

Hei

Sana kaji kaji

Tapi jangan kiri sambil senggol kata korporasi dan kapitalisasi

Apalagi neoliberalisasi

Apalah itu post-strukturalisasi kami gak ngerti

Siapa itu Heidegger, Hegel, Nietchze, Balloteli, Lewandowsky kami gak ngerti

Eh kalo Lewandowsky sama Balloteli kami ngerti

Kami sibuk pergerakan sana sini

Kalo mau, ayo kolaborasi

Agar terlihat hebat kita punya CV

Siapa tahu langsung nikah pasca wisuda Juli

Ena ena ena

Mantap Jiwa

******************************************

Puisi Aksi, CV, Kaji dan Ena Ena

oleh Sancang Resi Adiraja, ITB 2015, Komune Rakapare

Copyleft

Adam Aji Maharsi, KI ITB 2015, Komune Rakapare

Sumber Gambar

Kolase oleh Senartogok

Taqobalallahu wa minna wa minkum

Minal Aidzin Wal Faidzin

N.b: ucapan maaf saya ucapkan sebesar besarnya kepada segenap massa kampus atas salah-salah kata yang -kebanyakan sengaja- terucap dan terketik, tetap budayakan tubir. Tabik

Daftar Pustaka

Foucault, Michel, The Order of Things, An Archaeology of the Human Sciences, Routledge/Tavistock, London, 1989 (c 1966)

_____________, Discipline and Punish: The Birth of the Prison, Penguin Books, 1986 (c 1975)

_____________, The Birth of Biopolitics, Picador, 2010

Humphreys, Stephen, Theatre of the Rule of Law, Cambridge University Press, 2010

Lacan, Jacques, The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis, Penguin Books, London 1986

Laclau, Ernesto & Chantal Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy 2nd Edition, New Left Press, UK 1987

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.