Hangat

Hadinata
Hadinata
Sep 3, 2018 · 5 min read
Source : Pinterest

Kakak perempuan saya memutuskan menikah di umur 37 tahun. Tidak ada kata akhirnya di proses itu, saya menemani bagaimana beliau bisa sampai di titik akhir, mulai dari galaunya senangnya hingga bagaimana ia merasa terlahir kembali karena kenal dan berhubungan dengan seorang pria yang bisa menemaninya dalam segala hal.

Kami sangat bersyukur karena hidup dan bertumbuh di keluarga yang sehat secara bathin maupun lahir, Ibuk yang selalu mengedepankan sabar juga pengertian, dan Bapak yang tidak banyak omong teori namun mencontohi kami dengan sikap, dan saya bangga pada mereka berdua.

Oleh karena limpahan kasih sayang sedari kecil itulah akhirnya kami merasa belum butuh perhatian dari pihak di luar keluarga kami, maka bisa dibilang kakak perempuan saya telat berkenalan dengan persoalan asmara bukan karena kakak saya tidak mampu, ia cantik secara lahir dan secara bathin ia bertumbuh ditemani buku motivasi Dale carnegie, Robert kiyosaki semacam itulah tentu saja kakak memilih jalan hidup dengan mengedepankan pekerjaan, pendeknya menjadi alpha female adalah jalan yang ia pilih.

Saya ingat betul ketika kakak perempuan saya-Lita-menemani saya bertumbuh saat kuliah, setiap akhir bulan ia tidak pernah sekalipun absen memberi saya uang saku untuk kuliah hingga akhirnya saya menyerah dan untuk kesekian kali Lita mengingatkan saya dengan cara yang saya sukai.

Dari 6 saudara Lita paling cocok dengan saya, itu terbukti saat ia mengeluarkan uneg-unegnya karena kurang pas dengan cara didik Bapak.

Terceritalah bahwa Lita beranjak dewasa dan mulai butuh kasih sayang dari pihak lain selain keluarga. Di umur menginjak 23 tahun Bapak menyarankan untuk taaruf saja dengan salah satu anak teman beliau, tapi Bapak tidak sampai hati menyampaikannya kepada Lita dan tentu saja Ibuk menjadi alat ampuh sebab bidikan beliau sudah pasti tepat sasaran walau Ibuk sendiri sebenarnya tidak tega atas usulan itu.

Sebelum sore datang dan suara kumandang adzan meletup Ibuk meneteskan air mata di dapur sembari membuat hidangan teh untuk Bapak sebab beliau ada di situasi yang sangat sulit, satu sisi ia adalah pasangan Bapak sebagai penganut patriarki secara kaffah hal demikian tak ubahnya palu godam yang menghantam perasaan Ibuk, di sisi lain Lita adalah anak perempuan kesayangan Ibuk sebab secara naluri Ibuk memiliki keinginan di masa muda seperti Lita dan ia merasa melihat dirinya sendiri saat muda.

Saya ada di sana ketika itu menepuk pundak Ibuk memeluknya secara perlahan dan menenangkan beliau. Sedikitpun tidak terbesit keinginan untuk memaksakan kehendak dengan usulan yang barangkali berguna, namun setidaknya dengan kehadiran saya saat itu Ibuk merasa ada teman untuk mengeluarkan keberatannya.

Maghrib perlahan datang, dan Bapak sudah duduk di meja makan untuk kemudian minum teh serta kudapan yang tersaji di meja. Ibuk menyampaikan secara perlahan dengan bahasa yang sangat halus dan suara yang sangat bersahabat, seperti biasa Bapak hanya memasang wajah tanpa ekspresi.

Saat itu juga tanpa pikir panjang atau bermalasan Ibuk langsung kembali menuju dapur, memindahkan sayur mengambil nasi ke tempat yang lebih pas untuk dihidangkan, tak lupa segelas air putih berukuran besar. Bapak memang raja di rumah dan sepatutnya demikian. Mereka berdua bertumbuh dalam keadaan penuh gesekan hingga tulisan ini ada, meskipun kami anaknya tidak sama sekalipun terlibat, semakin dewasa hubungan mereka menjadi semakin kuat bahkan saat ini di umur Bapak yang semakin renta, ia akhirnya sadar bahwa Ibuk adalah yang terbaik beliau mampu menjaga martabat keluarga sampai detik ini meladeni Bapak dengan anggun dan memberi contoh ke kami anak-nya.

Lita adalah rumput liar yang tidak kering ketika dijemur juga tidak basah saat disiram, begitulah keadaan mentalnya. Beberapa lelaki takut melakukan pendekatan karena mungkin tidak diijinkan oleh Lita untuk menampakkan diri sebagai pahlawan, dan kupikir ia terlalu keras pada dirinya sendiri, juga sensitif. Agaknya hal itulah yang membuat ia menjalani hari demi hari sendirian, selain temannya yang seperti saudara sendiri.

Di umur 23 tahun ia memutuskan untuk mencetat keluar dari Surabaya, dan Makassar adalah pertaruhannya saat itu. Single fighter tanpa teman tanpa saudara hanya secarik kertas dari perusahaan bahwa ia dipindahtugaskan di sana. Di sinilah semua itu dimulai, kesedihan, kekalahan juga sakit hati karena pelecehan. Tapi tak sepenuhnya dunia itu mendung bukan, Lita juga mendapat banyak kebaikan atas laku yang ia perbuat komitmen yang ia yakini juga teguh dalam menjalani. Barangkali kau pernah dengar bahwa bila hidup di kota orang lain tanpa siapapun yang dijadikan acuan keselamatan adalah berpikir sebelum melangkah sebab tiap langkahmu adalah pertaruhan yang berakibat fatal, dan kau akan menanggung akibatnya sendiri.

Dari berbagai kejadian yang kemudian membentuk Lita menjadi perempuan yang bisa membeli semua yang dibutuhkan. Maka sangat wajar ia kemudian merasa kesepian, merasa semua sudah selesai, keinginan ego yang ia pupuk karena dipandang sebelah mata oleh keluarga besar kami telah dibayar lunas tuntas sampai tidak ada satupun yang berkomentar aneh. Kecuali diam tercekat karena pada akhirnya mereka semua tahu bahwa Lita jauh dengan apa sangkaaanya.

Perempuan muda cantik keluar dari rumah puluhan tahun lamanya dan belum menikah. Masyarakat pada umumnya sudah tentu wajar berprasangka yang tidak. Tapi lewat kejadian beberapa waktu lalu, saya puas betul karena kotoran yang ia lempar kembali ke mukanya sendiri tanpa sedikitpun meleset. Akhirnya ia tahu bahwa Lita bukan perempuan yang ia sangka, belasan teman-nya dari Makassar sengaja terbang datang ke rumah menyaksikan Lita akad nikah, beberapa dari mereka di wawancara oleh pihak keluarga kampret yang hobinya bikin rusuh dan mereka sepertinya menyesal setelah melakukan hal tersebut.

Bagaimanapun toh akhirnya Lita sudah menemukan ketenangan atas pilihannya sendiri. Sesudah peristiwa membahagiakan kemaren kerap kali kami saling lempar candaan di grup keluarga yang berisi saudara kakak adik, dan ia dengan bangganya melempar candaan “maaf ya aku siapin makan suami kesayanganku dulu” dan kami tertawa kencang sambil melempari candaan itu dengan bulian yang akhirnya mengarah ke saya. Kampret kan

Ada beberapa hal yang saya bisa ambil dari kejadian kemaren; yaitu terus melangkah walau kau tidak tahu kemana menuju, sebab jalan bisa naik turun belok kiri belok kanan, tapi pasti akan ada satu pemberhentian di mana setelahnya kau akan berjalan kembali dengan ia yang mau menemani dalam keadaan apapun.

Perut Lita sudah agak membulat sekarang, dan ia malas dekat dengan Suaminya karena efek dedek kecil yang datang bertamu, ia membagi cerita dengan penuh kesenangan, penuh tawa dan kekonyolan khas keluarga kami, sebagai adik hati saya seperti kemasukan sesuatu yang entah kenapa tiba-tiba tersenyum, lega betul, karena dulu Ibuk kerap kali meneteskan air mata ketika Lita belum menampakkan akan menikah atau tidak, atau hanya bekerja bekerja bekerja sampai tua.

Kakakku cantik, terima kasih :)

Hadinata

Written by

Hadinata

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade