Memeluk Kesia-siaan

Kami sepakat bertemu di tempat perbelanjaan daerah timur kota yang kami tinggali. Ia memakai potongan hijab yang tampak nyaman dilihat, bukan seperti mbak-mbak yang katanya modis namun sebenarnya insecure butuh perhatian, ketika 5 menit saya tiba, ia menanyakan posisi di mana, tidak lama kemudian di depan restoran cepat saji Itali yang terkenal itu kami akhirnya bertemu, aku melempar sapa dan ia pun juga demikian sambil menimpali,“katanya pakai baju monyet. Tentu saja aku menjawab dengan senyum

Sambil menanyakan bagaimana kabar dan bagaimana ia sampai di tempat kami bertemu, aku menaiki eskalator pelan-pelan, suasana tempat itu sedikit ramai, dan untungnya hal demikian juga terjadi di tempat bioskop kami nonton, ia mengingatkan kalau dibuang dulu kopi yang tinggal separo itu, sebab tidak boleh dibawa masuk, dan aku menghiraukan apa yang ia katakan, maksudku nanti juga akan habis saat di depan bioskop, dan ternyata tidak: sialnya di depan pintu masuk bioskop tidak disediakan tempat pembuangan sampah, sungguh merepotkan. Terpaksa jalan agak sedikit jauh

Kerap kali terjadi, jika kau hendak berurusan dengan sesuatu yang menurutmu penting dan berarti, maka kau akan sensitif pada beberapa hal, dan kesensitifan itu hanya masalah waktu hingga kedua belah pihak pada akhirnya tau kalau sebenarnya tidak penting amat untuk dibahas. Ketika kami tiba di kasir bioskop untuk memesan tiket, ia membeli popcorn dengan taburan bumbu diatasnya dan aku ngantri, kami duduk di samping kiri meja tempat pegawai menjajakan makanan, tiga kursi sofa berjejer, tepat di sebelah studio 1.

Di saat kami menunggu, banyak sekali saling lempar obrolan, aku tidak ingat betul apa yang kami obrolkan, kecuali saat ia tidak sengaja menjatuhkan kantong popcorn berukuran medium jatuh ke lantai; hei Anda,”butiran jagung itu berhamburan kesana sini, untungnya pegawai kebersihan cepat tanggap dan menyapu bersih kotoran itu, ia pun mengucap maaf. Sungguh amwarkd moment

Suara mikrofon terdengar nyaring, memberitahu bahwa film di studio yang kami pesan akan segera tayang, lagi pula aku sudah sedikit kehabisan bahan untuk membuat nuansa di antara kami begitu hangat, aku tidak tahu persis apa yang ada di isi kepalanya, artinya aku kurang usaha- bahasa gaulnya- ngethread mungkin ya, kupikir hal demikian tidak perlu kupaksakkan, sebab apa yang lebih benar dari menampilkan dirimu tanpa dibuat-buat. Kemudian entah kenapa pada saat aku mendahuluinnya untuk duduk di kursi yang kami pesan, aku kelupaan untuk memegang tangganya, sebab ini adalah satu dari bagian penting jika kau ingin melakukan komunikasi yang baik, ada perasaan kecewa lumayan tinggi sih, sialan.

Perihal menggandeng tangan adalah salah satu kenapa kepalaku begitu ramai saat itu, pertama: tentu saja aku menghargai adat ketimuran, dan perempuan ini kuterka juga demikian, kedua: mengingat bahwa perempuan adalah manusia yang tidak berucap sebagaimana mestinya bahwa sebenarnya ia ingin digandeng tapi, apa yang akan kauperbuat, misal jika tangan yang kau raih itu tidak berkenan, cilaka tiga belas cuk. Sementara musik film sudah berkumandang dan layar bioskop juga sudah menampilkan potongan adegan untuk film yang akan tayang di kemudian hari, aku memikirkan tissu.

Iya tissu, bagaimana jika film yang akan kami tonton ini membuat ia mengeluarkan air mata, lalu apa yang kauperbuat, sebagai pria jenaka tentu saja menyodorkan tissu untuk ia pakai, atau sekalian mengusap dipipinya, agaknya tissu ini adalah hal kedua yang membuat kadar kecewa naik satu strip lebih tinggi, sebab film yang kami tonton ternyata sukses membuat ia mengeluarkan air mata. Uwuwuwuwu

Film selesai tayang, kupikir aku agak sedikit gagal tapi, usaha-usaha untuk membuatnya nyaman masih menjadi niat yang paripurna, ok semangat. Sore sudah tiba, adzan juga sudah bertebangan mengingatkan untuk solat, dan ia pun bergegas menuju basement, waktu itu aku masih belum sepenuhnya sadar bahwa kenapa ia menuju basement, kuikuti saja kemana ia melangkah, dan kemudian baru sadar disudut basement ada beberapa pegawai memasang kaos kaki, oh solat. Ada semacam perasaan berdesir seperti kau lapar tiba-tiba ada makanan, dan jujur malu-maluin sih tapi biarlah, kami solat dan aku selesai duluan.

Di samping bangunan kecil itu, ada kursi kayu yang dibalut warna biru, direkatkan satu sama lain, udarannya begitu pengap, bau asap kendaraan berputar seperti labirin, dan aku sedikit melamun. Mengenai apakah solatku khusyuk aku tidak begitu yakin, isi kepalaku masih ramai, dan aku rasa ia juga demikian. Hahaha

Ketika selesai aku mengusulkan untuk kami makan, dan yoshinoya adalah pilihan pertama saat itu, sebab selain kangen dengan rasanya, tempat itu ada di lantai dasar, aku ingin segera duduk dan mendengarkan tentang bagaimana ia secara menyeluruh. Ternyata hal demikian tidak terjadi, ia lebih memilih untuk mencari aman, bukan type perempuan yang berani berspekulasi, aku mencoba mengerti tentang pilihan sikapnya saat itu, lagi pula atas dasar apa aku harus komplain, akhirnya aku mencoba menceritakan tentang apa yang kualami akhir-akhir ini, tentang kos, pekerjaan, makanan dan tentu saja kebiasaan menghabiskan galon aqua, ia begitu pelit bicara, dan aku pun menikmati saat-saat itu hingga telponnya berdering dan ia beranjak dari kursi tempat kami makan. Kupikir ia tidak begitu tertarik, dan tidak jadi masalah, toh kami juga sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap.

Ia pulang karena waktu tiba saja menunjukkan pukul setengah sembilan, aku menawarkan diri untuk menemaninnya ke basement, tapi anehnya di pintu pembatas masuk mall ia menyergahku, aku tentu saja menolak, dari dulu semenyebalkan apapun pasangan aku tidak pernah sekalipun meninggalkan seseorang di tengah jalan menuju rumahnya, kulihat dari raut wajahnya ia nampak serius soal situasi itu, apa boleh bikin. Ya sudahlah

Seperti kejadian yang lalu, aku tidak pandai menebak, juga tidak lihai mengira maka kusudahi saja niatan untuk mengenalnya lebih dekat, dan aku rasa ia pun juga demikian, mulanya lewat pertemuan itu aku berharap punya minimal satu alasan kenapa ia patut untuk dibahagiakan, namun situasinya ternyata tidak demikian, lagi pula kupikir agak berlebihan jika alasanku untuk membahagiakanya, ini kelewatan toh aku tidak tahu hal apa yang membuat ia bahagia, dan apakah aku punya kemampuan itu, kalau pun memang bisa, apakah aku juga menikmatinya melakukan sesuatu itu. Kita semua mahfum pada tiap diri kita ada ego, dalam hubungan juga mengandung ego, mana yang perlu ditekan untuk kemudian dihilangkan agar hubungan berjalan baik, ini bukan perkara mudah bukan.

Dan dengan alasan itulah aku mencoba mengalihkan pandang, mencoba hal-hal baru, sebab pertemuan pertama kali kami terjadi beberapa waktu lalu, dan ini adalah rekor terpanjang dari aku mengenal hingga keinginan lebih dekat itu muncul, ya kau tahulah, luka masa lalu gagal mempersunting someone we cant have berhasil menyobek ego sedemikian dalam, dan itu membuat aku tidak percaya pada hubungan.

Oleh karena itu bila ada perempuan yang berseloroh semua lelaki brengsek, ingin sekali aku menatap matanya dengan penuh khidmat, tanpa perlu berkata sedikitpun, agar ia tahu bahwa diluar sana ada pria yang masih perduli akan hubungan yang sehat, hubungan yang tidak diturunkan oleh zaman patriarki bahwa perempuan selalu di dapur dan ngangkang.

Bagaimanapun kejadian sudah terjadi, kesia-siaan juga sudah berubah makna menjadi sesuatu yang bisa kupeluk, aku butuh waktu sangat lama untuk menimbang bagaimana perasaannya nanti, dan kurasa ia juga setuju bahwa sebelum kita peduli akan sekitar sebaiknya peduli akan diri sendiri dulu, bagaimana mungkin kau bisa membahagiakan orang lain jika dirimu masih mengandung kesedihan.

Sayang opo kowe kerungu jerite atiqu

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.