Waktu itu dan kini

Selama kami bertemu tidak ada sedikitpun ragu untuk mengatakan hal-hal yang memang tidak setuju atau sebaliknya.

Sumber : Wikihow

Mulai dari Film, Musik, Gaya hidup, cara bersosialisasi dan sebagainya, hingga suatu sore kami terjebak di Mall tengah kota Surabaya karena hujan yang begitu deras.

“jadi balik sekarang ? “tanyaku

Kayaknya sih gitu, nanti malam ada pengajian di rumah, gak enak kalau nggak bantuin Mama “jawabnya

Oh, yaudah. Kemudian ia mengambil smartphone untuk memesan layanan Uber, suara Hp berbunyi dan ia menjawab.

Iya Ma ini mau balik, tanpa mengucapkan salam. Dari mimik wajahnya kuperhatikan ia agak sedikit tegang.

Eh Mama bilang gak usah balik dulu katanya, kenapa ? “tanyaku

Udah banyak yang bantuin, “oh “jawabku.

Yaudah kita lanjut makan yuk, atau nonton yuk ? “selaku

Nonton apa ya ? Ada Film bagus apasih “jawabnya.

Akhirnya kami memilih Coffe shop yang letaknya di sudut Mall, ia memesan kentang dan beberapa sayap ayam juga Vanilla latte, aku Coffe latte. Kami tidak jadi menonton ataupun makan berat, obrolan kami menjadi intim karena ia membuka percakapan dengan sedikit seronok, cupanglah, boobs dan lain sebagainya, ia tipikal perempuan yang biasa saja sebenarnya, hanya karena perkenalan kami lewat teman yang suka dengan hal- hal berbau “malam” sampai akhirnya “mungkin” ia merasa tidak perlu jaim atau pasang image cewek rumahan.

Serunya obrolan kami sampai pada titik semua manusia sama saja, perihal gender, ketimpangan status sosial, penyimpangan seksual dan brengseknya kapitalisme juga politik, wajah munafik di layar kaca juga lihainya wajah perempuan menyembunyikan luka.

Sepertinya dari sini ia mulai menaruh respect lebih kepada saya dan saya juga merasa demikian, kami akhirnya sepakat untuk membuat janji akhir pekan di minggu depan, di tempat yang sama, selain dekat dengan tempat kerjanya, Mall tersebut juga dekat dengan tempat kerja saya.

Setelah obrolan itu komunikasi kami lebih sering melalui chat, bahkan saya sempat menggodanya dengan video call saat jam kerja berlangsung. Akhir pekan tiba, kami mencoba untuk memahami satu sama lain, kami berdua sangat sadar bahwa yang kami lakukan adalah berhubungan layaknya anak muda dimabuk asmara. Saya membuka diri ia pun juga demikian.

Kami tertawa bersama, ia cerita banyak hal, dan saya pun tersenyum, ya pokoknya gitulah. Kami memutuskan untuk tidak membuat rumit suatu ketertarikan satu sama lain, dan saya pikir ini cewek cukup berani dan kebal dengan rasa sakit, bahwa ia tak peduli jika akhirnya patah lagi.

Setelah satu bulan kami menyatakan diri untuk saling melengkapi dan membahagiakan, saya timbul perasaan yang aneh, maksudku rasa yang enggan untuk akrab lagi, bukan karena ia baik dengan mengingatkanku sholat atau kabar cerita kesehariannya, tapi disisi lain saya sangat ingin bisa akrab seru asyik seperti di awal jumpa, ada tanda tanya besar dalam diri saya, dan itu entah wajar atau tidak hanya saya yang bisa selesaikan.

Setelah saya sadari ternyata saya tidak cukup hadir pada perempuan tangguh ini, tapi memilih menyimpan sebagian diri saya untuk seseorang yang saya pikir tidak perlu, namun ada perasaan seperti kaki pada pedal rem ia terus menginjak saat kaki lain menekan gas lebih kencang dan seperti inilah keadaan hubungan saya.

Saya sepenuhnya mafhum bahwa waktu terus berjalan, ibuk terus menanyakan kelanjutan kehidupan saya, bahkan kakak saya sempat buang waktu dengan menyodorkan pilihan beberapa teman di kantornya yang minat berteman dengan saya, sebagai saudara saya bisa mengerti perasaan mereka.

Alasan apapun yang saya pilih nantinya untuk suatu hubungan entah itu paras, materi, jiwa atau hal lainnya akan selalu ada konsekuensinya sendiri, dan sebaik- baiknya konsekuensi ialah yang ketika ada suatu gesekan walau itu menyakitkan atau menyenangkan ia menimbulkan “ser ser” dihati. Gitu ☺

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Hadinata’s story.