
Mau Tau, Seorang Doktor yang Tak Bergelar Doktor
Mau taukah Anda, seseorang yang seharusnya mendapatkan gelar doktor, namun karena secara akademis tak layak dan tak memenuhi persyaratan, dirinya tak mendapatkan gelar doktor yang seharusnya disandang. Seseorang tersebut ialah Ghost-Writer Desertasi mahasiswa pascasarjana Program Doktoral.
Ghost-Writer Desertasi merupakan seseorang yang berprofesi sebagai penyedia jasa penulisan desertasi (riset untuk S-3) bagi mahasiswa Program Doktoral. Jasa tersebut ada, karena adanya permintaan dari beberapa mahasiswa program Doktoral.
Mengapa Ada Permintaan?
Permintaan tersedia, disebabkan banyak alasan yang melatar belakanginya. Saya menangkap, setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi seorang mahasiswa program doktoral mau menggunakan jasa Ghost-Writer Desertasi.
Pertama, alasan sibuk. Biasanya, seseorang yang mau menggunakan jasa Ghost-Writer Desertasi karena memiliki tingkat kesibukan yang super tinggi. Disebabkan kesibukannya, membuat dirinya tak sempat menulis disertasi yang seharusnya menjadi salah satu persyaratan menyandang gelar Doktor (Dr) di depan namanya.
Kedua, alasan malas. Malas, menjadi salah satu kendala seorang mahasiswa Program Doktoral mau menggunakan jasa Ghost-Writer Desertasi. Banyak hal yang menyebabkan seseorang malas mengerjakan tugas desertasi. Bisa karena dirinya tak paham akan objek desertasi yang akan ditulis, bisa karena judul yang sering ditolak, bisa karena hampir di-DO (Drop-Out), dan lain sebagainya.
Pertanyaan Besaar
Yang menjadi pertanyaan besar ialah, mengapa mereka mau menggunakan jasa Ghost-Writer Desertasi. Padahal, seseorang yang menggunakan jasa Ghost-Writer dalam menuliskan desertasinya telah melakukan pembohongan publik. Dirinya telah membohongi publik atas gelar Doktor (Dr) yang disandang di depan namanya.
Seharusnya gelar Doktor (Dr) di depan namanya, tak berhak dipakai di depan namanya. Sedangkan yang berhak harusnya ialah, Ghost-Writer Desertasi itu sendiri. Karena dia yang telah bersusah payah mengerjakan tugas penulisan desetasi hingga selesai.
Hanya saja, mau tak mau karena Ghost-Writer tak memiliki persaratan akademik, seperti daftar nama di perguruan tinggi, tak membayar SPP atau semesteran, dan lain sebagainya, maka dirinya tetap tak berhak menyandang gelar Doktor (Dr). Mereka itulah Doktor yang seumur hidup tak pernah bergelar Doktor.
Berkontemplasi Sejenak
Kadang saya juga bingung, bagi mereka yang tak siap mengerjakan desertasi sebagai persyaratan untuk lulus Program Doktoral dan menyandang gelar Doktor (Dr) di depan namanya, mengapa mereka memaksakan diri melanjutkan kuliah jenjang S-3. Jika memang tidak mampu dan tak mau mengerjakan desertasi, sebaiknya tak usah melanjutkan kuliah S-3.
Tapi, bagi yang tetap memaksakan diri untuk kuliah S-3, padahal tidak memiliki kemampuan meriset dan menulis, konsekwensinya ialah harus memaksakan diri tetap menulis desertasi. Sehingga tak ada kebohongan publik atas gelar Doktor (Dr) yang disematkan di depan namanya.
Semoga, tulisan ini bisa menjadi bahan kontemplasi kita, yang sedang menempuh Program Doktoral ataupun yang akan menempuh di kemudian hari.