Sebotol beer dan tawa

Mata sudah terlalu lelah melihat fananya dunia ini. Mulut sudah terlalu kaku terdiam layaknya waras-waras saja. Telinga sudah terlalu muak mendengarkan realita penuh pembelaan.

Kacau.

Pikiran dan hati pun saling saling merancuni, saling rebut perhatian.

Kacau.

“Bisa jadi sebotol beer mampu melerai semua kekacauan yang ada?” godanya.
Aku tertawa, “Negara sudah genting, sebotol beer takkan menyelesaikan apapun, bagaimana kalau kita menulis dan membaca saja?”
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.