DimasSami
DimasSami
Aug 27, 2017 · 2 min read

O.2

Titik dimana kejenuhan terasa memuncak, puncak itu tersembelih dgn sedikit darah dimata.

Air jernih menjadi keruh, warna-warni menjadi pudar, putih menjadi hitam, terang menjadi gelap.

Semuanya pucat hanya karena satu kata kasar. Manusia hidup berdampingan, atau justru sebaliknya? Mahluk sosial? Atau individual? Faham yang kita anut pun mulai berbeda-beda.

Pancasila yang dibangun dari keinginan leluhur kita sirna diterjang ombak budaya asing, perompak mengambil alih kinerja kita, bahkan tanah kita pun dibajak.

Tapi saat bendera kita dipasang terbalik, kita marah! Kita melawan balik! Dengan apa? Dengan cacimakian, bodoh! Lawanlah balik dengan adil, prestasi kita naikan, budaya kita lestarikan, pidana kita tenggelamkan, narkoba kita musnahkan!

Sejahtera? Atau terlantar?

Marah saat indonesia diinjak, tapi sendirinya tidak ada apresiasi pada negara.

Hanya bisa mengkritik, tapi sendirinya tak punya usaha.

Mentalitas bangsa macam apa ini? Soekarno dan Hatta yang susah payah membangun bangsa, dengan bantuan teman-temannya.

Dan balasan kita untuk para pahlawan adalah? Pertumpahan darah sebangsa, pertengkaran masyarakat, pertentangan ideologi secara kasar, pemerkosaan meraja lela, narkoba sebagai bahan dasar hidup, dan masih banyak lagi.

Ingatkah kawan, belanda datang merusak selama 3,5 abad. Lalu apa? Pahlawan-pahlawan kita berguguran demi melindungi martabat bangsa, yang dimana mereka berharap, bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera. Tapi lihat lah sekarang, semua hancur lebur berantakan.

Jepang datang sebagai cahaya asia? Apa indonesia percaya begitu saja? Mungkin, tapi pahlawan-pahlawan kita tetap mempertahankan kedaulatan NKRI.

Yang mana mereka bilang “ NKRI HARGA MATI “.

Tolonglah kawan, kita jaga semua ini, kita kembali merangkul kebersamaan dan keberagaman, kita buang sisi-sisi gelap di Indonesia, dan kita terangkan mereka yang sirna.

Maju terus INDONESIA KU

M Aan Mansyur

metaforabaru

…minta pendapatnya…

)
    DimasSami

    Written by

    DimasSami

    memo, singkat datang mejengukmu - pembaca