O.4
Sedih mereka dengan kerlingan air mata, bertatapan tajam satu sama lain, haus darah akan membunuh, walau mereka tahu memiliki jalinan persaudaraan.
Satu kulit ke kulit lainnya, semakin terkupas semakin tercium bau busuknya, sama seperti dirimu! Wahai manusia bermuka dua!
Teman bukan sembarang teman, jalinan persaudaraan yang cukup lama, semakin lama kau mengenalnya, semakin sakit rasanya saat ia berkhianat, palingan kepalanya dari kata-kata, meninjau akan terjadinya benturan keras tepat diwajahnya, tetap bersabar sebelum bertindak.
Rasa dirasa emosi sudah akan meluap, tanpa disadar air mata turun, seakan-akan tahu akan apa yang terjadi, hangatnya persahabatan, haruskah jadi sengitnya permusuhan.
Mata birumu berubah jadi hijau, dan mata hitamku mulai memerah, retina ini seakan mengekerut sendiri, tatapan tajam yang akhirnya terlontar. Dan tanpa sadar fisik ini membentang kearah dirimu.
Sakit teramat sakit kamu membalas benturan itu, yang akhirnya menjadi luka permanen diantara kita, pertarungan berlanjut hingga kau amat terlihat lemah, lutut mu mulai bergetar, kepalan tangan mu yang sudah terbuka, dan wajahmu yang berwarna merah darah, sudah menandakan jika dirimu tak sanggup melanjutkan
Ku akhiri pertarungan 10 menit ini, yang terasa 2 hari, lamanya waktu memisahkan kita, menghapus segala memorial yang ada, dan kembali ke fase tidak saling mengenal.
Maaf sobat, mungkin ini jalan yang terbaik
