#SuratUntukArta-1

Kepada Arta; pemilik sepasang mata tempat segala rinduku merumah.

22.54 WIB

Waktu tidurku sudah sangat lewat, penyakit tidak bisa tidur yang kau tularkan membuatku masih terjaga sampai selarut ini. Seharusnya sekarang aku sudah berada di Neverlandku, bermain bersama kelinci-kelinci yang dulu kerap kau sebut tidak ada bedanya denganku; tidak bisa berhenti melompat dan makan.

23.01 WIB

ah, mataku semakin segar saja, Arta. Aku mulai berfikir bahwa semua ini salahmu, aku mulai insomnia sejak aku mengenalmu dan mulai melakukan ritual berkirim pesan singkat hingga larut bahkan hingga pagi 3 tahun yang lalu. Sebab ini salahmu, kau harus bertanggung jawab! Bertanggung jawablah dengan membaca surat-suratku.

23.05 WIB

Ini bukan surat pertama yang kutulis untukmu, tapi semoga menjadi yang pertama sampai di matamu.

Arta, seandainya kau tau betapa rinduku semakin bertumbuh subur setiap malam dan betapa rapuh aku menyandang rindu-rinduku yang ganjil. Ya, aku mengatakan rinduku ganjil karena rindu-rindu itu tertuju padamu, Arta, lelaki yang bahkan tidak pernah kutemui selain dalam mimpi dan dalam foto-foto yang kau kirim.

Sama sepertiku, kau pun pasti menganggap semuanya ganjil, termasuk surat ini jika kau menemukan lantas membacanya. Aku bisa membayangkan dahimu sedikit berkerut dan satu alismu terangkat saat mendapati seorang perempuan dari masa lalu menulisimu surat yang bercerita tentang rindu.

23.10 WIB

Saat menulis kalimat “ini bukan surat pertama” mataku mulai sedikit mengalah, aku tidak bisa melanjutkan surat ini menjadi surat yang lebih panjang lagi, Arta, mataku butuh tidur dan aku butuh memimpikan keberadaanku dalam tautan lenganmu.

Selamat malam, Arta.

Kelinci

*surat ini kutulis tadi malam dalam buku catatan

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.