#SuratUntukArta-3

Teuruntuk Arta, yang semoga bukan kunang-kunang itu.

Arta, semalam aku bermimpi melihat seekor kunang-kunang terbang mengitari cangkir berisi susu coklat yang kuseduh untuk menemaniku merinduimu. Kunang-kunangnya aneh, atau, mungkin juga unik. Kelipnya lebih terang dari kunang-kunang lainnya, bahkan saking terangnya kunang-kunang itu bisa menenangkanku yang takut pada gelap.

Sesekali kunang-kunang itu hinggap di bibir cangkir, cukup lama, seperti sedang mencucupi bibir cangkir beraroma manis coklat itu, lalu dia hinggap di pipiku. Dia mengecupku, Arta.

Aku berusaha mengatur nafasku selembut mungkin, agar kunang-kunangnya tidak pergi. Aku benar-benar tidak ingin dia pergi, aku suka kelipnya.

Kunang-kunangnya indah, Arta, cara dia terbang membuat perasaanku berubah hangat, sehangat dulu saat kau menggodaku dengan pujian-pujian garingmu.

Ya, Arta, perasaan ini benar-benar sama, bahkan aku seperti mendengar suara tawamu saat kunang-kunang itu terbang di sekitar telingaku. Arta, kaukah itu? kaukah kunang-kunang itu?

Sungguh, Arta, kau tidak perlu menjelma kunag-kunang untuk sekedar mengecup pipiku. Jadi dirimu saja, setidaknya wujud manusiamu bisa melunasi rindu-rinduku dan usiamu bisa lebih lama dari kunang-kunang yang hidup sehari lalu mati.

Arta, semoga kau bukan kunang-kunang itu, sayang.

Kelinci.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.