Ombak Menjadi Saksi
22 November 2015
Hari itu, saya dan sebagain rekan lain menyambangi Palabuhanratu untuk keperluan praktikum lapang (fieldtrip). Itu adalah kali kedua bagi saya berkunjung ke stasiun lapang yang menjadi tujuan praktikum lapang dari beberapa mata kuliah yang ada.
Saya kembali lagi ke tempat tersebut dengan rasa dan suasana yang berbeda. Sangat berbeda. Jika tahun lalu saya hanya berkesampatan menaiki kapal untuk melakukan pengamatan di laut, kali ini saya justru mendapat bagian di sekitar pelabuhan.
Jika tahun lalu saya masih seorang diri, kali ini saya tetap seorang diri *meringkuk di pojokan* huhuhu
Jika tahun lalu saya tak memiliki banyak rasa, kali ini saya punya banyak rasa *macam iklan goo# Day*
Ada satu tempat yang pada tahun lalu tidak sempat saya datangi, namun akhirnya berhasil saya kunjungi kali ini.
Pantai. Yaa… pantai. Sebuah tempat yang menurut saya menyimpan banyak sekali keindahan. Tidak hanya indahnya hamparan lautan, tapi juga daratan.
‘Pantai’ hanya akan terlihat indah jika satu huruf di akhirnya tidak diganti menjadi huruf ‘t’. Saya rasa tidak perlu diperjelas, karena semua sudah terlalu jelas untuk sebuah ketidakjelasan yang dapat menimbulkan kebauan hehehe.
Fokus lagi…
Hari itu saya banyak bicara, bukan tentang seseorang di dalam hati. Tapi bicara pada diri sendiri. Bukan membicarakan dia yang sana, tapi bicara tentang ‘apa’ dan ‘siapa’ saya.
Terlalu banyak rasa akan kecewa, namun ketenangan juga menyelinap di sana. Terlalu bimbang untuk berkata, namun syukur harus tetap terucap.
Sesulit apapun kondisi yang dialami, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak bahagia. Seberat apapun duka yang dirasa, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri nikmat-Nya.
Ombak pun menjadi saksi akan semua nikmat sehat dari-Nya, nikmat akan hadirnya, nikmat canda dengannya, dan nikmat lain bersamanya.
