Pesan Hari Itu dan Bunga Itu

5 November 2015

Sore itu seperti sore-sore biasanya, saya pulang ke rumah kontrakan setelah hampir seharian berjibaku dengan ujian dua mata kuliah di pagi dan siang harinya. Amunisi seadanya dan pertahanan yang kurang kokoh tak menggentarkan sedikitpun hasrat untuk memenuhi ladang pertempuran di atas kertas jawaban. Satu hal yang berbeda, saya pulang menyusuri suasana sore hari Dramaga-Cibanteng dengan berjalan kaki. Pengin sih coba berjalan dengan kedua tangan (hand stand), tapi apa daya saya yang tidak memiliki keahlian demikian.

Bukan karena tak ada kendaraan sehingga saya tidak naik mobil jemputan seperti biasanya (re: angkot). Bukan juga karena sedang menghemat pengeluaran sehingga saya mengalokasikan uang dua-tiga ribu rupiah untuk beli obat nyamuk bakar di warung dekat rumah.

Mungkin karena ingin berbicara banyak dengan diri sendiri di sore hari, akhirnya saya memilih berjalan kaki.

Setidaknya perjalanan saya sore itu menuju tempat yang benar dan di atas jalan yang benar. Bukan menuju tempat yang salah dan di atas jalan yang salah. Seperti menuju rumah sakit jiwa dengan berjalan di atas bara api contohnya. Atau menuju kandang singa dengan berjalan di atas tubuh buaya.

Yang lebih parah lagi, menuju rumah mertua dengan berjalan menunggangi anaknya. Tidak, saya tidak seperti itu. Sumpah. Lebih baik menuju pelaminan dengan berjalan di atas ridha Tuhan. #eeaa

Fokus lagi… sore itu saya banyak bicara dengan jiwa ini, jiwa yang mendiami raga fana ini.

Jiwa yang harus terus diingatkan, bahwa suatu saat akan mengalami kematian.

Terlepas dari dua kata yang saya dengar sebelumnya. Dua kata yang sudah terlalu jelas untuk dianggap sebagai ketidakjelasan. Saya harus tetap berjalan~

Berjalan menuju hal yang benar dan di atas jalan yang benar tentunya.

Setidaknya pesan di malam itu sedikit menguatkan tekad untuk tidak berhenti ini.

“…harus tetap semangat, dan harus berhasil…”

Waktu mungkin bisa mengubah segalanya. Menyita semuanya. Bahkan menenggelamkan semaunya. Tapi, tidak dengan kenangan bersamanya.

Waktu mungkin bisa membuat layu setangkai bunga. Menyita aroma khas darinya. Bahkan menenggelamkan keindahannya. Tapi, tidak dengan pesan yang disampaikannya.

Pesan untuk tidak ragu. Untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai. Karena sesungguhnya proses jauh lebih penting ketimbang hasil.

Setidaknya saya harus tetap berusaha. Memberi tanggal semua mimpi, agar ia menjadi sebuah cita. Mulai berusaha memperbaiki diri untuk memperoleh kebahagiaan hakiki.

Saya akan mulai menanggalkan semuanya. Mengubahnya menjadi cita. Berlari untuk meraihnya. Hingga suatu ketika akan tiba masanya, tidak hanya saya yang mengejar cita. Saya tidak sendiri, karena mungkin kamu juga akan turut berlari.

Like what you read? Give Ikhwan Nurcholis a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.